Islamic Widget

Pendapat Anda Tentang Blog Ini....

Tuesday, January 4, 2011

KISAH DARI AL QURAN "HARUT DAN MARUT"

Di kerajaan tertinggi yang ada di langit, para malaikat Allah berkumpul saling berbisik dan saling berbincang ketika Allah berfirman kepada mereka: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”


Ketika itu mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerosakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami sentiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”


Allah berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”


Allah mengajar Adam seluruh nama-nama benda dan Dia menempatkannya di dalam syurga, serta menciptakan Hawa sebagai isteri dan teman hidupnya, hingga akhirnya Adam pun melanggar perintah-Nya hingga mengakibatkan dia diturunkan oleh Allah ke muka bumi.


Jumlah manusia anak cucu Adam kian lama semakin bertambah ramai, setelah mereka berkembang biak dan bertambah jumlahnya, sehingga bumi pun dipenuhi oleh dosa-dosa oleh sepak terajang mereka, kerana ternyata para khalifah Allah di muka bumi itu menyembah berhala yang mereka buat dari batu. Mereka sujud kepadanya dan mereka memenuhi hari-harinya dengan pelbagai jenis hiburan dan mainan, sehingga kerananya seseorang sanggup melakukan pembunuhan, mencuri harta orang lain dan menganiaya saudaranya sendiri.


Demikianlah yang mereka lakukan, sementara para malaikat terus mencatat perbuatan anak cucu Adam dalam lembaran yang tadinya putih bersih menjadi hitam dan lebih kelam daripada malam yang sangat gelap. Ketika itulah para malaikat berkata: “Mereka adalah para khalifah Allah di bumi-Nya, namun mereka suka berbuat derhaka kepada-Nya. Bagaimana ini terjadi padahal Allahlah yang telah memilih mereka?”


Allah berfirman: “Seandainya Aku ciptakan kamu seperti mereka, nescaya kamu pun akan melakukan perkara yang sama seperti mereka.”


Maka para malaikat pun berkata: “Ya Tuhan kami, Maha Suci Engkau, tidak layak bagi kami berbuat derhaka kepada Engkau!”


Allah berfirman: “(Kalau begitu) pilihlah dua malaikat dari golongan kamu.”


Para malaikat pun memilih dari kalangan mereka, Harut dan Marut, dua malaikat yang paling baik ibadahnya kepada Allah.


Kononnya pada masa itu di negeri Babilonia, kecantikan begitu terbuka seiring sejalan dengan pelbagai jenis kemaksiatan. Khamar diminum di mana-mana dan suara muzik terdengar di setiap bar dan kafe yang penuh dengan pelbagai jenis kemungkaran dan kekejian.


Di sana terlihat ada sekelompok manusia yang duduk membentuk lingkaran menonton pertunjukan seorang wanita yang sedang menari dan menyanyi. Sementara sekelompok yang lain mengambil kesempatan ini untuk mengambil dengan diam-diam milik orang lain yang sedang asyik tenggelam menyaksikan pertunjukan tarian dan nyanyian.


Semua pemandangan itu disaksikan dan didengar oleh Harut dan Marut, yang dengan izin Allah telah turun ke bumi, setelah setiap dari mereka dijadikan oleh Allah seperti manusia keturunan Adam, memiliki hasrat dan naluri terhadap makan, minuman dan seks.


Babilonia memang merupakan satu-satumya negeri yang layak untuk disinggahi oleh Harut dan Marut, sebab Babilonia adalah negeri yang menyimpan sejuta keindahan dan pesona yang begitu memukau hati dan mempesona pandangan mata sesiapa pun yang menyaksikannya. Seandainya mereka berdua diturunkan di tempat lain, tentulah orang ramai tidak akan membiarkan mereka berdua, kerana kewujudan mereka berdua akan menjadi sumber fitnah bagi yang lain. Namun Babilonia, memang sebuah negeri sejuta pesona dan keindahan yang sebenarnya.


Setalah menempuh perjalanan jauh, Harut berasa letih dan dia berkata: “Kini kurasakan dadaku begitu sempit dan kepalaku pening, sehingga tubuhku terasa berat sekali seolah-olah seperti gunung yang tidak sanggup ditanggung oleh kedua kakiku.”


Marut menjawab: “Sepertinya kamu merasakan sesuatu yang juga sedang aku rasakan. Namun ada rasa sakit yang sangat di dalam perutku.”


Harut berkata: “Itu suara lapar, temanku! Sesungguhnya kita telah menjadi manusia setelah sebelumnya kita menjadi malaikat yang tidak pernah makan dan minum, melainkan hanya bertasbih kepada Allah dan mensucikan-Nya.”


Harut menatap ke arah langit seolah sedang berdoa kepada Tuhannya agar diberi makanan. Tiba-tiba menyerebaklah bau daging panggang yang begitu harum dan mengundang selera menusuk indera ciuman kedua-duanya. Kedua-duanya pun bangun dan berjalan mencari makanan. Tatapannya berpusing ke sekeliling mereka hingga mereka melihat sejumlah orang yang sedang makan. Mereka mendekati tempat jamuan makan itu hingga jarak di antara kedua-duanya hanya beberapa langkah saja dari hidangan tersebut. Sementara itu, rasa lapar terus menggelitik.


Akan tetapi, harga diri kedua-duanya menghalang diri mereka berdua untuk mengemis atau meminta makan di kota Babilonia. Namun, mana mungkin mereka boleh mengusir rasa lapar jika tidak makan? Kedua-duanya pun pergi duduk berdekatan orang-orang yang sedang makan. Mereka hanya boleh menatapi orang-orang yang sedang makan itu.


Orang-orang yang sedang makan itu melihat, lalu mempersilakan mereka untuk makan bersama. Mereka pun turut bergabung dan makan bersama orang-orang itu sampai kenyang.


Suara dan teriakan perut kini telah berhenti. Selanjutnya, kedua-dua malaikat itu mula memandang orang-orang yang tadi makan bersama mereka. Tiba-tiba ada seorang wanita yang menarik perhatian dengan kecantikan dan keindahannya, dengan rambutnya yang terurai sampai ke bahu, juga dengan wajahnya yang nampak seperti bulan di malam purnama. Sesungguhnya dia adalah ‘si cantik Zuhroh’, wanita yang paling cantik di Babilonia.


Namun tidak lama kemudian mereka menyedari bahawa mereka sudah melakukan kesalahan, dan mereka harus bertaubat serta memohon keampunan di atas dosa ini. Saat itu perasaan malu hampir membunuh mereka dan perasaan menyesal menjalar ke wajah mereka.


Akan tetapi, belum sempat perasaan menyesal itu hilang, hawa nafsu sudah kembali menguasai diri mereka, sehingga mereka pun lama menatap ‘si cantik Zuhroh’ itu. Sementara di dalam dada masing-masing, suara keimanan berteriak semakin kuat, sehingga mereka pun beristighfar kepada Allah.


Satu-satunya cara yang akan menyelamatkan mereka dari dosa itu adalah meninggalkan tempat tersebut. Maka mereka pun segera berdiri sambil memohon keampunan kepada Tuhan. Namun setelah kedua-duanya sedikit jauh, mereka mula merasakan keinginan yang sangat kuat untuk kembali melihat wanita itu, maka mereka pun menoleh, namun tidak lama kemudian mereka kembali meneruskan perjalanannya.


Harut dan Marut berjalan tanpa sepatah kata pun. Walaupun begitu, masih ada kesedaran dalam jiwa mereka masing-masing seakan-akan mengatakan kepada dirinya: “Kenapa aku melakukan perbuatan tadi? Kami telah melakukan derhaka kepada Allah kerana melihat sesuatu yang Allah haramkan kepada kami.”


Harut kemudian menatap Marut dan berkata: “Jiwa manusia yang buruk mendorongku untuk berbuat derhaka kepada Allah. Oh, alangkah buruknya jiwa manusia itu.”


Marut berkata: “Mungkin kamu sedang merasakan sesuatu yang sedang aku rasakan sekarang”.


Harut berkat: “Ya, dan aku juga berasa takut bila nanti tempat kembali kita adalah neraka sama seperti nasib yang dialami oleh orang-orang yang suka berbuat derhaka itu.”


Marut berkata lagi: “Jangan takut! Kita pasti dapat mengalahkan keinginan ini. Kita akan membendung hawa nafsu itu. Kita akan memohon keampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.”


Kedua-dua malaikat itu kemudian berlalu menuju satu tempat yang jauh dari manusia di mana di sana itu tidak ada kemaksiatan.


Matahari mula tenggelam hingga bentuknya hanya berupa lingkaran yang berwarna merah, seperti logam mulia. Tidak lama kemudian matahari tenggelam, hingga tak sedikit pun tertinggal darinya. Malam kemudian menyerang siang dengan kegelapannya, lalu bintang-bintang pun muncul di langit hingga memenuhinya dalam festival langit yang sangat indah.


Harut dan Marut tenggelam dalam solat dan tasbih kepada Allah. Mereka memohon keampunan kepada-Nya di atas segala dosa yang telah mereka lakukan.


Kegelapan malam semakin kelam dan semesta alam pun bersedia untuk tidur, sementara kedua-dua malaikat itu masih larut dalam solatnya. Masing-masing mereka tidak mendengar apa-apa, kecuali hanya suara angin yang mendesir kuat seperti suara tangisan wanita yang ditinggal mati bayinya. Kedua-dua malaikat itu merasakan sesuatu yang baru biasa dialami oleh manusia pada umumnya dalam keadaan seperti itu, iaitu rasa takut.


Lalu mereka berdua mengenal rasa dingin saat tubuhnya menggigil kerana cuaca yang sangat diiringi dengan tiupan angin malam yang cukup kencang. Kedua-duanya kemudian memutuskan untuk kembali lagi ke kota, agar terhindar dari rasa takut dan kesejukan. Maka mereka pun berangkat ke sana.


Harut berkata: “Dia telah kembali lagi.”


Marut bertanya: “Siapa yang kembali?”


Harut menjawab: “Rasa lapar ini, wahai teman! Dia sekarang kembali muncul bagaikan raksaksa ganas yang menggigit perut kita.”


Marut berkata: “Ah, kalau demikian, bererti kita menjadi budak perut kita. Celakalah perut ini yang tidak mengenal rasa kenyang.”


Harut berkata: “Mari kita mencari makanan lagi.”


Marut menjawab: “Apabila kita mendapat makanan dan kita kenyang, apakah kita tidak akan lapar lagi nanti?”


Harut menjawab: “Jadi, kita harus bekerja agar boleh membeli makanan.”


Marut berkata: “Pekerjaan apa yang akan kita lakukan?”


Harut menjawab: “Pasrahkan saja kepada Allah. Insya Allah, kita akan menemui pekerjaan yang kerananya kita akan mendapat harta dan kebaikan berlimpah.”


Jika pada siang hari Babilonia adalah kota maksiat dan kecantikan, pada malam hari ia adalah kota para pemabuk, tidak ada seorang pun dari mereka yang sanggup berjalan membawa dirinya, melainkan dengan langkah terhoyong hayang kerana terlalu banyak minum khamar. Babilonia juga merupakan kota keruntuhan moral yang tidak pernah ada habis-habisnya.


Harut dan Marut melihat rombongan ramai orang yang pergi menuju sebuah istana yang kukuh nan megah. Mereka kemudian pergi bersama orang-orang itu, hingga mereka masuk ke dalam sebuah istana megah yang seluruh isinya menggambarkan kemewahan dan kekayaan penghuninya. Mereka kemudian mendapati dirinya dibawa ke dalam ruangan yeng besar lagi luas, yang di dalamnya meja-meja makan telah bertakhta lengkap dan penuh dengan pelbagai jenis makanan yang lazat-lazat serta pelbagai jenis buah-buahan yang mengundangi selera. Berdekatan meja makan utama nampak duduk seorang lelaki yang memakai pakaian yang amat indah lagi mewah menggambarkan kekayaanya yang berlebihan.


Walaupun begitu, mereka hanya memakan makanan untuk membungkam rasa lapar yang tidak terperi. Lelaki yang memakai pakaian mewah itu kemudian memberi isyarat kepada mereka untuk duduk dan makan, dan mereka pun melakukannya. Ketika kedua-duanya sedang asyik makan dengan lahapnya , sepasang bola mata lelaki itu menatapi mereka berdua dari jarak yang cukup dekat. Khamar pun disajikan kepada mereka berdua, tetapi mereka berdua menolaknya, kerana mereka berdua tidak biasa meminumnya. Lelaki itu terkejut bercampur hairan, lalu berkata: “Bukankah kamu berdua berasal dari penduduk Babilonia ini? Mengapa tidak mahu minum khamar?”


Tidak lama kemudian Harut dan Marut memahami bahawa lelaki itu tidak lain adalah raja Babilonia, sementara orang ramai yang mengelilinginya adalah para menteri dan para amirnya. Sang raja kemudian berbicara, sementara semua orang terdiam dan seluruh pandangan tertuju padanya. Sang raja berbicara tentang perselisihan dan persengketaan yang terjadi antara dia dan salah seorang yang hadir di sana menyangkut sebidang tanah.


Raja hendak merampas tanah orang itu secara zalim. Raja selesai berbicara dan semua orang yang ada dalam istana tersebut berpihak pada sang raja meskipun sewenang-wenang. Walaupun demikian, sang raja tidak peduli dengan semuanya itu, melainkan pandangannya tertuju pada Harut dan Marut, kemudian berkata: “Aku menginginkan agar tetamu kita ini yang akan memutuskan permasalahan ini.


Semua orang menatap Harut dan Marut, dan mereka yakin bahawa kedua-duanya akan berpihak kepada sang raja, sekalipun sang raja bersalah.


Tidak pernah terlintas dalam fikiran seorang pun bahawa mereka berdua adalah malaikat yang hanya mengetahui keadilan. Oleh kerana itulah, mereka berdua memutuskan perkara itu dengan adil dan benar. Mereka mengembalikan hak itu kepada pemiliknya. Tidak hanya itu, bahkan kedua-duanya memaklumkan keputusannya bahawa sang raja berada di pihak yang salah, kerana dia telah mengambil hak orang lain secara aniaya.


Keheningan memenuhi seluruh istana ketika orang ramai menunggu keputusan sang raja. Namun kemudian sang raja berkata dengan suara yang lantang: “Sejak saat ini aku lantik kamu berdua sebagai hakim di Babilonia!”


Para menteri keluar sambil bertepuk tangan. Sang raja bukannya memerintahkan kepada para pengawalnya untuk memenjarakan Harut dan Marut, justeru sebaliknya, malah memutuskan agar kedua-duanya dilantik menjadi hakim. Oh, alangkah beruntungnya mereka.


Demikianlah , akhirnya Harut dan Marut mendapat pekerjaan di Babilonia, setelah sebelumnya mereka berdua memasrahkan urusannya dengan tulus kepada Allah s.w.t.


Di dalam istana raja, Harut dan Marut mendapatkan sebuah rumah yang mereka tinggal sejak saat itu. Mereka berdua tidak lagi mengalami kesejukan, rasa lapar dan rasa takut. Mereka juga tidak perlu lagi meminta makanan kepada orang lain setelah itu.


Perkara pertama yang mereka lakukan adalah bersyukur kepada Allah, berdoa kepada-Nya, dan mensucikan-Nya. Namun demikian, hati mereka tidak lagi mengalami kekhusyukan dan kejernihan seperti yang pernah mereka rasakan sebelumnya. Inilah kehidupan manusia yang lemah, yang selalu mereka cemuh saat mereka berdua masih berada di langit sebagai malaikat.


Sesudah itu mereka berdua kedatangan tamu baru yang tidak mereka kenal sebelumnya, iaitu rasa mengantuk dan ingin tidur. Ini kerana kedua-duanya merasakan bahawa kelopak mata mereka terasa berat untuk dibuka, tubuh mereka sangat letih, lalu Harut berusaha kuat membuka kedua belah matanya dan mengatakan: “Sesungguhnya ini adalah kematian, wahai Marut. Kita akan mati.”


“Ada apa teman?”


“Aku berasa tubuhku sangat letih dan kedua mataku terasa amat berat untuk dibuka.”


“Ini sama dengan apa yang sedang aku rasakan. Ini adalah kematian.”


“Aku tidak menyangka ini kematian. Ini adalah sesuatu yang lain.”


Harut mengatakan demikian sambil menguap. Kata-katanya kemudian terhenti; suaranya terputus dan tubuhnya terdiam dan tenang. Rupanya kedua-dua malaikat itu tertidur untuk pertama kalinya, sebab malaikat tidak pernah mengenal tidur.


Matahari terbit pada hari yang baru, dan itu menjadi kali pertama matahari terbit bagi mereka, setelah mereka berada di muka bumi. Ketika pagi sudah datang, Harut telah terjaga, kemudian berkata kepada Marut yang sedang membuka kedua belah matanya: “Alangkah nikmatnya tidur setelah capai dan letih!”


Marut menjawab: “Aku berasa seolah baru diciptakan lagi, teman!”


Mereka kemudian mula bekerja secara lebih awal. Hakim Harut dan Marut mula menghakimi permasalahan dan persengketaan orang-orang dengan penuh keadilan, sehingga semua orang menjadi redha dan nama baik mereka pun tersiar ke seluruh Babilonia.


Mereka biasa melaksanakan solat selesai memberikan pengadilan, di mana dalam solat itulah mereka memuji dan menyucikan Allah dari segala kekurangan. Mereka tidak keberatan bila raja memanggil mereka agar menemaninya makan, asalkan mereka tidak minum khamar.


Hari demi hari berlalu dengan cepat,sementara Harut dan Marut tetap menjalankan keputusannya di antara orang-orang dengan adil, dan mereka tidak pernah derhaka kepada Allah, hinggalah tiba hari yang telah ditetapkan bagi mereka berdua, iaitu hari permulaan bagi kedua-duanya mengalami pelbagai kesulitan.


Ketika kedua-duanya sedang menjalankan peradilannya, tiba-tiba wanita yang cantik itu datang menghadap kepada kedua-duanya dengan membawa satu kes, sehingga mereka berdua bersua kembali dengannya. Sesungguhnya wanita itu pernah dijumpainya, kini mereka berdua boleh melihatnya kembali. Wanita itu memang memiliki kedua mata yang indah, rambutnya yang aduhai, dan wajahnya yang bersinar. Tidak salah lagi, dialah ‘si cantik Zuhroh’ itu. Saat itu juga keduanya teringat kepadanya hati mereka terus berdegup kuat, dan darah mereka berdesir dengan kuatnya, masing-masing dari kedua-duanya berasa hairan dengan apa yang dirasakan dalam hatinya. Sesungguhnya hati manusia itu amat menakjubkan, kadangkala dihinggapi takut, kadangkala jatuh cinta, kadangkala dibakar kebencian dan kadangkala dibuai oleh angan-angannya. Sesungguhnya betapa indah dan menakjubkan Sang Khalik yang telah menciptakannya.


Ketika ‘si cantik Zuhroh’ menceritakan permasalahan dan kesnya, kedua-duanya hanya terpegun menatapi kecantikan dan keindahan wajahnya, tanpa mendengar apa yang dikatakannya, kedua-duanya terpesona oleh kecantikan Zuhroh. Setiap kali salah seorang dari mereka hendak menahan pandangannya, setiap itu pula dia merasakan adanya suatu kekuatan yang mendorong untuk memandang wanita itu. Nyala bara api cinta dalam hati kedua-duanya kian terasa tidak pernah padam, saat keduanya terbuai oleh perasaan luapan cinta yang kuat dalam hatinya. Zuhroh telah selesai mengatakan kesnya seraya mengatakan: “Inilah kes yang kualami, dan saya menunggu keputusan yang adil dari tuan hakim berdua.”


Harut berkata: “Sesungguhnya permasalahanmu perlu dipelajari. Kemarilah pagi esok!”


Marut berkata menguatkan pengakuan temannya: “Keputusannya adalah apa yang dikatakan hakim Harut. Kembalilah kamu menemui kami pagi esok!”


Si cantik Zuhroh menatap dalam-dalam kedua-duanya dengan rasa hairan, tidak lama kemudian kedua-duanya berdiri melepaskan kepergiannya.


Ketika wanita itu telah pergi, kedua-duanya terasa menyesal. Marut berkata dengan nada mencela: “Mengapa kamu menangguhkan kesnya sampai pagi esok.”


“Aku tidak tahu, itu di luar kemampuanku, teman.”


“Aku takut masuk neraka gara-gara wanita ini. Marilah kita bertaubat kepada Allah.”


Keesokan harinya si cantik segera mendatangi majlis peradilan untuk menanti keputusan dari kedua-dua hakim Harut dan Marut, sementara itu semalaman mereka berdua tidak dapat memejamkan matanya walaupun sebentar.


Si cantik masuk ke dalam ruangan dan baru saja dia melemparkan senyumannya, Harut lupa kepada janjinya dan Marut pun tidak ingat kepada taubatnya.


Mereka berbicara dengannya, sehingga mereka memberikan keputusan yang berpihak padanya secara tidak adil. Wanita itu kemudian bangun untuk berganjak, namun Harut dan Marut bertanya: “Mahu ke mana kamu?”


Wanita itu menjawab: “Ke kuil untuk menyembah matahari (saat itu penduduk Babilonia kafir, tidak menyembah Allah) . datanglah bersamaku!”


Mereka bertanya: “Lalu apa yang akan kamu lakukan?”


“Tentu kamu berdua akan menyembah matahari bersamaku!”


“Tidak, kami tidak akan menyembah selain Allah.”


Wanita itu kemudian meninggalkan mereka sementara mereka kembali menyesali diri sendiri. Mereka teringat akan janji yang telah mereka ikrarkan.


Harut berkata: “Sesungguhnya rahmat Allah itu sangat luas. Marilah kita bertaubat kepada Allah.”


Malam itu kedua-duanya tertidur tanpa sempat melaksanakan solat atau memohon keampunan. Ketika matahari terbit dan siang membentang, mereka berangkat untuk menemui si cantik dan bukan berangkat untuk menuju majlis pengadilan.


Ketika mereka berjaya menemuinya, wanita itu menghidangkan khamar kepada mereka, namun mereka tidak mahu meminumnya. Melihat itu si cantik menjadi marah dan mereka pun ingin berdamai dengannya, namun Zuhroh berkeras menginginkan agar mereka berdua minum khamar. Akhirnya, mereka minum juga, dan khamar pun mula menguasai kepala mereka berdua.


Ketika kedua-duanya sedang mabuk dan berasyik masyuk dengan Zuhroh, mendadak datanglah seseorang menemui Zuhroh, dan dia melihat Harut dan Marut berada di rumah Zuhroh sedang berasyik masyuk bersamanya. Melihat kedatangan orang itu, kedua-duanya nampak gugup dan terlintas di dalam fikiran mereka bahawa orang itu akan menyebarkan rahsia mereka berdua.


Mereka berada di bawah pengaruh khamar, Harut mencekik orang itu dan Marut pun membantunya mengakhiri nyawa si malang yang tidak bersalah itu, hanya semata-mata kerana dia telah melihat mereka berdua sedang berbuat maksiat dengan Zuhroh.


Setelah pengaruh khamar hilang dari kepala mereka dan mereka tersedar, kedua-duanya berasa sedih dan gundah. Mereka ingin terbang ke langit, namun bagaimana mungkin kerana kini diri mereka terasa sangat berat sebab telah dibebani oleh dosa-dosa. Mereka kemudian mendengar suara dari langit yang menyeru keduanya: “Kamu memilih seksa dunia atau akhirat?”


Mereka kemudian memilih seksa dunia daripada seksa akhirat, sehingga mereka pun terus-menerus di seksa hingga hari kiamat kelak.

3 comments:

  1. Ni cerita issrailliyat yakni cerita yg direka oleh yahudi, kerana terdapat byk prkara yg bercanggah dgn islamsalam cerita ini, cerita sebenarnya boleh rujuk kpd para alim ulama, wallahhualam :)

    ReplyDelete
  2. cerita ini banyak di internet. sekali imbas membacanya, macam sebuah cerita yang menarik.

    namun banyak perkara yang boleh dipersoalkan. dalam quran harut dan marut disentuh hanya pada qs al-baqarah 102. tapi kenapa boleh dihuraikan panjang lebar sebegini ?

    berhati-hati meng-copy paste cerita ini..

    ReplyDelete
  3. Semua kisah dalam al Quran sangat ringkas. Contohnya Israk Mikraj, Kisah Nabi Yusof, Iskandar Zukurnain dan sebagainya tetapi terdapat banyak kitab dan buku-buku yang boleh menceritakan kisah tersebut secara detail. Dari sumber manakah kisah itu diperolehi? Sumbernya sudah tentulah dari ahli tafsir dan hadis Nabi s.a.w.

    ReplyDelete