Tuesday, January 4, 2011

KISAH DARI AL QURAN "HARUT DAN MARUT"


Di kerajaan tertinggi yang ada di langit, para malaikat Allah berkumpul saling berbisik dan saling berbincang ketika Allah berfirman kepada mereka: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.”

Ketika itu mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi orang yang akan membuat kerosakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami sentiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”

Allah berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Allah mengajar Adam seluruh nama-nama benda dan Dia menempatkannya di dalam syurga, serta menciptakan Hawa sebagai isteri dan teman hidupnya, hingga akhirnya Adam pun melanggar perintah-Nya hingga mengakibatkan dia diturunkan oleh Allah ke muka bumi.

Jumlah manusia anak cucu Adam kian lama semakin bertambah ramai, setelah mereka berkembang biak dan bertambah jumlahnya, sehingga bumi pun dipenuhi oleh dosa-dosa oleh sepak terajang mereka, kerana ternyata para khalifah Allah di muka bumi itu menyembah berhala yang mereka buat dari batu. Mereka sujud kepadanya dan mereka memenuhi hari-harinya dengan pelbagai jenis hiburan dan mainan, sehingga kerananya seseorang sanggup melakukan pembunuhan, mencuri harta orang lain dan menganiaya saudaranya sendiri.

Demikianlah yang mereka lakukan, sementara para malaikat terus mencatat perbuatan anak cucu Adam dalam lembaran yang tadinya putih bersih menjadi hitam dan lebih kelam daripada malam yang sangat gelap. Ketika itulah para malaikat berkata: “Mereka adalah para khalifah Allah di bumi-Nya, namun mereka suka berbuat derhaka kepada-Nya. Bagaimana ini terjadi padahal Allahlah yang telah memilih mereka?”

Allah berfirman: “Seandainya Aku ciptakan kamu seperti mereka, nescaya kamu pun akan melakukan perkara yang sama seperti mereka.”

Maka para malaikat pun berkata: “Ya Tuhan kami, Maha Suci Engkau, tidak layak bagi kami berbuat derhaka kepada Engkau!”

Allah berfirman: “(Kalau begitu) pilihlah dua malaikat dari golongan kamu.”

Para malaikat pun memilih dari kalangan mereka, Harut dan Marut, dua malaikat yang paling baik ibadahnya kepada Allah.

Kononnya pada masa itu di negeri Babilonia, kecantikan begitu terbuka seiring sejalan dengan pelbagai jenis kemaksiatan. Khamar diminum di mana-mana dan suara muzik terdengar di setiap bar dan kafe yang penuh dengan pelbagai jenis kemungkaran dan kekejian.

Di sana terlihat ada sekelompok manusia yang duduk membentuk lingkaran menonton pertunjukan seorang wanita yang sedang menari dan menyanyi. Sementara sekelompok yang lain mengambil kesempatan ini untuk mengambil dengan diam-diam milik orang lain yang sedang asyik tenggelam menyaksikan pertunjukan tarian dan nyanyian.

Semua pemandangan itu disaksikan dan didengar oleh Harut dan Marut, yang dengan izin Allah telah turun ke bumi, setelah setiap dari mereka dijadikan oleh Allah seperti manusia keturunan Adam, memiliki hasrat dan naluri terhadap makan, minuman dan seks.

Babilonia memang merupakan satu-satumya negeri yang layak untuk disinggahi oleh Harut dan Marut, sebab Babilonia adalah negeri yang menyimpan sejuta keindahan dan pesona yang begitu memukau hati dan mempesona pandangan mata sesiapa pun yang menyaksikannya. Seandainya mereka berdua diturunkan di tempat lain, tentulah orang ramai tidak akan membiarkan mereka berdua, kerana kewujudan mereka berdua akan menjadi sumber fitnah bagi yang lain. Namun Babilonia, memang sebuah negeri sejuta pesona dan keindahan yang sebenarnya.

Setalah menempuh perjalanan jauh, Harut berasa letih dan dia berkata: “Kini kurasakan dadaku begitu sempit dan kepalaku pening, sehingga tubuhku terasa berat sekali seolah-olah seperti gunung yang tidak sanggup ditanggung oleh kedua kakiku.”

Marut menjawab: “Sepertinya kamu merasakan sesuatu yang juga sedang aku rasakan. Namun ada rasa sakit yang sangat di dalam perutku.”

Harut berkata: “Itu suara lapar, temanku! Sesungguhnya kita telah menjadi manusia setelah sebelumnya kita menjadi malaikat yang tidak pernah makan dan minum, melainkan hanya bertasbih kepada Allah dan mensucikan-Nya.”

Harut menatap ke arah langit seolah sedang berdoa kepada Tuhannya agar diberi makanan. Tiba-tiba menyerebaklah bau daging panggang yang begitu harum dan mengundang selera menusuk indera ciuman kedua-duanya. Kedua-duanya pun bangun dan berjalan mencari makanan. Tatapannya berpusing ke sekeliling mereka hingga mereka melihat sejumlah orang yang sedang makan. Mereka mendekati tempat jamuan makan itu hingga jarak di antara kedua-duanya hanya beberapa langkah saja dari hidangan tersebut. Sementara itu, rasa lapar terus menggelitik.

Akan tetapi, harga diri kedua-duanya menghalang diri mereka berdua untuk mengemis atau meminta makan di kota Babilonia. Namun, mana mungkin mereka boleh mengusir rasa lapar jika tidak makan? Kedua-duanya pun pergi duduk berdekatan orang-orang yang sedang makan. Mereka hanya boleh menatapi orang-orang yang sedang makan itu.

Orang-orang yang sedang makan itu melihat, lalu mempersilakan mereka untuk makan bersama. Mereka pun turut bergabung dan makan bersama orang-orang itu sampai kenyang.

Suara dan teriakan perut kini telah berhenti. Selanjutnya, kedua-dua malaikat itu mula memandang orang-orang yang tadi makan bersama mereka. Tiba-tiba ada seorang wanita yang menarik perhatian dengan kecantikan dan keindahannya, dengan rambutnya yang terurai sampai ke bahu, juga dengan wajahnya yang nampak seperti bulan di malam purnama. Sesungguhnya dia adalah ‘si cantik Zuhroh’, wanita yang paling cantik di Babilonia.

Namun tidak lama kemudian mereka menyedari bahawa mereka sudah melakukan kesalahan, dan mereka harus bertaubat serta memohon keampunan di atas dosa ini. Saat itu perasaan malu hampir membunuh mereka dan perasaan menyesal menjalar ke wajah mereka.

Akan tetapi, belum sempat perasaan menyesal itu hilang, hawa nafsu sudah kembali menguasai diri mereka, sehingga mereka pun lama menatap ‘si cantik Zuhroh’ itu. Sementara di dalam dada masing-masing, suara keimanan berteriak semakin kuat, sehingga mereka pun beristighfar kepada Allah.

Satu-satunya cara yang akan menyelamatkan mereka dari dosa itu adalah meninggalkan tempat tersebut. Maka mereka pun segera berdiri sambil memohon keampunan kepada Tuhan. Namun setelah kedua-duanya sedikit jauh, mereka mula merasakan keinginan yang sangat kuat untuk kembali melihat wanita itu, maka mereka pun menoleh, namun tidak lama kemudian mereka kembali meneruskan perjalanannya.

Harut dan Marut berjalan tanpa sepatah kata pun. Walaupun begitu, masih ada kesedaran dalam jiwa mereka masing-masing seakan-akan mengatakan kepada dirinya: “Kenapa aku melakukan perbuatan tadi? Kami telah melakukan derhaka kepada Allah kerana melihat sesuatu yang Allah haramkan kepada kami.”

Harut kemudian menatap Marut dan berkata: “Jiwa manusia yang buruk mendorongku untuk berbuat derhaka kepada Allah. Oh, alangkah buruknya jiwa manusia itu.”

Marut berkata: “Mungkin kamu sedang merasakan sesuatu yang sedang aku rasakan sekarang”.

Harut berkat: “Ya, dan aku juga berasa takut bila nanti tempat kembali kita adalah neraka sama seperti nasib yang dialami oleh orang-orang yang suka berbuat derhaka itu.”

Marut berkata lagi: “Jangan takut! Kita pasti dapat mengalahkan keinginan ini. Kita akan membendung hawa nafsu itu. Kita akan memohon keampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.”

Kedua-dua malaikat itu kemudian berlalu menuju satu tempat yang jauh dari manusia di mana di sana itu tidak ada kemaksiatan.

Matahari mula tenggelam hingga bentuknya hanya berupa lingkaran yang berwarna merah, seperti logam mulia. Tidak lama kemudian matahari tenggelam, hingga tak sedikit pun tertinggal darinya. Malam kemudian menyerang siang dengan kegelapannya, lalu bintang-bintang pun muncul di langit hingga memenuhinya dalam festival langit yang sangat indah.

Harut dan Marut tenggelam dalam solat dan tasbih kepada Allah. Mereka memohon keampunan kepada-Nya di atas segala dosa yang telah mereka lakukan.

Kegelapan malam semakin kelam dan semesta alam pun bersedia untuk tidur, sementara kedua-dua malaikat itu masih larut dalam solatnya. Masing-masing mereka tidak mendengar apa-apa, kecuali hanya suara angin yang mendesir kuat seperti suara tangisan wanita yang ditinggal mati bayinya. Kedua-dua malaikat itu merasakan sesuatu yang baru biasa dialami oleh manusia pada umumnya dalam keadaan seperti itu, iaitu rasa takut.

Lalu mereka berdua mengenal rasa dingin saat tubuhnya menggigil kerana cuaca yang sangat diiringi dengan tiupan angin malam yang cukup kencang. Kedua-duanya kemudian memutuskan untuk kembali lagi ke kota, agar terhindar dari rasa takut dan kesejukan. Maka mereka pun berangkat ke sana.

Harut berkata: “Dia telah kembali lagi.”

Marut bertanya: “Siapa yang kembali?”

Harut menjawab: “Rasa lapar ini, wahai teman! Dia sekarang kembali muncul bagaikan raksaksa ganas yang menggigit perut kita.”

Marut berkata: “Ah, kalau demikian, bererti kita menjadi budak perut kita. Celakalah perut ini yang tidak mengenal rasa kenyang.”

Harut berkata: “Mari kita mencari makanan lagi.”

Marut menjawab: “Apabila kita mendapat makanan dan kita kenyang, apakah kita tidak akan lapar lagi nanti?”

Harut menjawab: “Jadi, kita harus bekerja agar boleh membeli makanan.”

Marut berkata: “Pekerjaan apa yang akan kita lakukan?”

Harut menjawab: “Pasrahkan saja kepada Allah. Insya Allah, kita akan menemui pekerjaan yang kerananya kita akan mendapat harta dan kebaikan berlimpah.”

Jika pada siang hari Babilonia adalah kota maksiat dan kecantikan, pada malam hari ia adalah kota para pemabuk, tidak ada seorang pun dari mereka yang sanggup berjalan membawa dirinya, melainkan dengan langkah terhoyong hayang kerana terlalu banyak minum khamar. Babilonia juga merupakan kota keruntuhan moral yang tidak pernah ada habis-habisnya.

Harut dan Marut melihat rombongan ramai orang yang pergi menuju sebuah istana yang kukuh nan megah. Mereka kemudian pergi bersama orang-orang itu, hingga mereka masuk ke dalam sebuah istana megah yang seluruh isinya menggambarkan kemewahan dan kekayaan penghuninya. Mereka kemudian mendapati dirinya dibawa ke dalam ruangan yeng besar lagi luas, yang di dalamnya meja-meja makan telah bertakhta lengkap dan penuh dengan pelbagai jenis makanan yang lazat-lazat serta pelbagai jenis buah-buahan yang mengundangi selera. Berdekatan meja makan utama nampak duduk seorang lelaki yang memakai pakaian yang amat indah lagi mewah menggambarkan kekayaanya yang berlebihan.

Walaupun begitu, mereka hanya memakan makanan untuk membungkam rasa lapar yang tidak terperi. Lelaki yang memakai pakaian mewah itu kemudian memberi isyarat kepada mereka untuk duduk dan makan, dan mereka pun melakukannya. Ketika kedua-duanya sedang asyik makan dengan lahapnya , sepasang bola mata lelaki itu menatapi mereka berdua dari jarak yang cukup dekat. Khamar pun disajikan kepada mereka berdua, tetapi mereka berdua menolaknya, kerana mereka berdua tidak biasa meminumnya. Lelaki itu terkejut bercampur hairan, lalu berkata: “Bukankah kamu berdua berasal dari penduduk Babilonia ini? Mengapa tidak mahu minum khamar?”

Tidak lama kemudian Harut dan Marut memahami bahawa lelaki itu tidak lain adalah raja Babilonia, sementara orang ramai yang mengelilinginya adalah para menteri dan para amirnya. Sang raja kemudian berbicara, sementara semua orang terdiam dan seluruh pandangan tertuju padanya. Sang raja berbicara tentang perselisihan dan persengketaan yang terjadi antara dia dan salah seorang yang hadir di sana menyangkut sebidang tanah.

Raja hendak merampas tanah orang itu secara zalim. Raja selesai berbicara dan semua orang yang ada dalam istana tersebut berpihak pada sang raja meskipun sewenang-wenang. Walaupun demikian, sang raja tidak peduli dengan semuanya itu, melainkan pandangannya tertuju pada Harut dan Marut, kemudian berkata: “Aku menginginkan agar tetamu kita ini yang akan memutuskan permasalahan ini.

Semua orang menatap Harut dan Marut, dan mereka yakin bahawa kedua-duanya akan berpihak kepada sang raja, sekalipun sang raja bersalah.

Tidak pernah terlintas dalam fikiran seorang pun bahawa mereka berdua adalah malaikat yang hanya mengetahui keadilan. Oleh kerana itulah, mereka berdua memutuskan perkara itu dengan adil dan benar. Mereka mengembalikan hak itu kepada pemiliknya. Tidak hanya itu, bahkan kedua-duanya memaklumkan keputusannya bahawa sang raja berada di pihak yang salah, kerana dia telah mengambil hak orang lain secara aniaya.

Keheningan memenuhi seluruh istana ketika orang ramai menunggu keputusan sang raja. Namun kemudian sang raja berkata dengan suara yang lantang: “Sejak saat ini aku lantik kamu berdua sebagai hakim di Babilonia!”

Para menteri keluar sambil bertepuk tangan. Sang raja bukannya memerintahkan kepada para pengawalnya untuk memenjarakan Harut dan Marut, justeru sebaliknya, malah memutuskan agar kedua-duanya dilantik menjadi hakim. Oh, alangkah beruntungnya mereka.

Demikianlah , akhirnya Harut dan Marut mendapat pekerjaan di Babilonia, setelah sebelumnya mereka berdua memasrahkan urusannya dengan tulus kepada Allah s.w.t.

Di dalam istana raja, Harut dan Marut mendapatkan sebuah rumah yang mereka tinggal sejak saat itu. Mereka berdua tidak lagi mengalami kesejukan, rasa lapar dan rasa takut. Mereka juga tidak perlu lagi meminta makanan kepada orang lain setelah itu.

Perkara pertama yang mereka lakukan adalah bersyukur kepada Allah, berdoa kepada-Nya, dan mensucikan-Nya. Namun demikian, hati mereka tidak lagi mengalami kekhusyukan dan kejernihan seperti yang pernah mereka rasakan sebelumnya. Inilah kehidupan manusia yang lemah, yang selalu mereka cemuh saat mereka berdua masih berada di langit sebagai malaikat.

Sesudah itu mereka berdua kedatangan tamu baru yang tidak mereka kenal sebelumnya, iaitu rasa mengantuk dan ingin tidur. Ini kerana kedua-duanya merasakan bahawa kelopak mata mereka terasa berat untuk dibuka, tubuh mereka sangat letih, lalu Harut berusaha kuat membuka kedua belah matanya dan mengatakan: “Sesungguhnya ini adalah kematian, wahai Marut. Kita akan mati.”

“Ada apa teman?”

“Aku berasa tubuhku sangat letih dan kedua mataku terasa amat berat untuk dibuka.”

“Ini sama dengan apa yang sedang aku rasakan. Ini adalah kematian.”

“Aku tidak menyangka ini kematian. Ini adalah sesuatu yang lain.”

Harut mengatakan demikian sambil menguap. Kata-katanya kemudian terhenti; suaranya terputus dan tubuhnya terdiam dan tenang. Rupanya kedua-dua malaikat itu tertidur untuk pertama kalinya, sebab malaikat tidak pernah mengenal tidur.

Matahari terbit pada hari yang baru, dan itu menjadi kali pertama matahari terbit bagi mereka, setelah mereka berada di muka bumi. Ketika pagi sudah datang, Harut telah terjaga, kemudian berkata kepada Marut yang sedang membuka kedua belah matanya: “Alangkah nikmatnya tidur setelah capai dan letih!”

Marut menjawab: “Aku berasa seolah baru diciptakan lagi, teman!”

Mereka kemudian mula bekerja secara lebih awal. Hakim Harut dan Marut mula menghakimi permasalahan dan persengketaan orang-orang dengan penuh keadilan, sehingga semua orang menjadi redha dan nama baik mereka pun tersiar ke seluruh Babilonia.

Mereka biasa melaksanakan solat selesai memberikan pengadilan, di mana dalam solat itulah mereka memuji dan menyucikan Allah dari segala kekurangan. Mereka tidak keberatan bila raja memanggil mereka agar menemaninya makan, asalkan mereka tidak minum khamar.

Hari demi hari berlalu dengan cepat,sementara Harut dan Marut tetap menjalankan keputusannya di antara orang-orang dengan adil, dan mereka tidak pernah derhaka kepada Allah, hinggalah tiba hari yang telah ditetapkan bagi mereka berdua, iaitu hari permulaan bagi kedua-duanya mengalami pelbagai kesulitan.

Ketika kedua-duanya sedang menjalankan peradilannya, tiba-tiba wanita yang cantik itu datang menghadap kepada kedua-duanya dengan membawa satu kes, sehingga mereka berdua bersua kembali dengannya. Sesungguhnya wanita itu pernah dijumpainya, kini mereka berdua boleh melihatnya kembali. Wanita itu memang memiliki kedua mata yang indah, rambutnya yang aduhai, dan wajahnya yang bersinar. Tidak salah lagi, dialah ‘si cantik Zuhroh’ itu. Saat itu juga keduanya teringat kepadanya hati mereka terus berdegup kuat, dan darah mereka berdesir dengan kuatnya, masing-masing dari kedua-duanya berasa hairan dengan apa yang dirasakan dalam hatinya. Sesungguhnya hati manusia itu amat menakjubkan, kadangkala dihinggapi takut, kadangkala jatuh cinta, kadangkala dibakar kebencian dan kadangkala dibuai oleh angan-angannya. Sesungguhnya betapa indah dan menakjubkan Sang Khalik yang telah menciptakannya.

Ketika ‘si cantik Zuhroh’ menceritakan permasalahan dan kesnya, kedua-duanya hanya terpegun menatapi kecantikan dan keindahan wajahnya, tanpa mendengar apa yang dikatakannya, kedua-duanya terpesona oleh kecantikan Zuhroh. Setiap kali salah seorang dari mereka hendak menahan pandangannya, setiap itu pula dia merasakan adanya suatu kekuatan yang mendorong untuk memandang wanita itu. Nyala bara api cinta dalam hati kedua-duanya kian terasa tidak pernah padam, saat keduanya terbuai oleh perasaan luapan cinta yang kuat dalam hatinya. Zuhroh telah selesai mengatakan kesnya seraya mengatakan: “Inilah kes yang kualami, dan saya menunggu keputusan yang adil dari tuan hakim berdua.”

Harut berkata: “Sesungguhnya permasalahanmu perlu dipelajari. Kemarilah pagi esok!”

Marut berkata menguatkan pengakuan temannya: “Keputusannya adalah apa yang dikatakan hakim Harut. Kembalilah kamu menemui kami pagi esok!”

Si cantik Zuhroh menatap dalam-dalam kedua-duanya dengan rasa hairan, tidak lama kemudian kedua-duanya berdiri melepaskan kepergiannya.

Ketika wanita itu telah pergi, kedua-duanya terasa menyesal. Marut berkata dengan nada mencela: “Mengapa kamu menangguhkan kesnya sampai pagi esok.”

“Aku tidak tahu, itu di luar kemampuanku, teman.”

“Aku takut masuk neraka gara-gara wanita ini. Marilah kita bertaubat kepada Allah.”

Keesokan harinya si cantik segera mendatangi majlis peradilan untuk menanti keputusan dari kedua-dua hakim Harut dan Marut, sementara itu semalaman mereka berdua tidak dapat memejamkan matanya walaupun sebentar.

Si cantik masuk ke dalam ruangan dan baru saja dia melemparkan senyumannya, Harut lupa kepada janjinya dan Marut pun tidak ingat kepada taubatnya.

Mereka berbicara dengannya, sehingga mereka memberikan keputusan yang berpihak padanya secara tidak adil. Wanita itu kemudian bangun untuk berganjak, namun Harut dan Marut bertanya: “Mahu ke mana kamu?”

Wanita itu menjawab: “Ke kuil untuk menyembah matahari (saat itu penduduk Babilonia kafir, tidak menyembah Allah) . datanglah bersamaku!”

Mereka bertanya: “Lalu apa yang akan kamu lakukan?”

“Tentu kamu berdua akan menyembah matahari bersamaku!”

“Tidak, kami tidak akan menyembah selain Allah.”

Wanita itu kemudian meninggalkan mereka sementara mereka kembali menyesali diri sendiri. Mereka teringat akan janji yang telah mereka ikrarkan.

Harut berkata: “Sesungguhnya rahmat Allah itu sangat luas. Marilah kita bertaubat kepada Allah.”

Malam itu kedua-duanya tertidur tanpa sempat melaksanakan solat atau memohon keampunan. Ketika matahari terbit dan siang membentang, mereka berangkat untuk menemui si cantik dan bukan berangkat untuk menuju majlis pengadilan.

Ketika mereka berjaya menemuinya, wanita itu menghidangkan khamar kepada mereka, namun mereka tidak mahu meminumnya. Melihat itu si cantik menjadi marah dan mereka pun ingin berdamai dengannya, namun Zuhroh berkeras menginginkan agar mereka berdua minum khamar. Akhirnya, mereka minum juga, dan khamar pun mula menguasai kepala mereka berdua.

Ketika kedua-duanya sedang mabuk dan berasyik masyuk dengan Zuhroh, mendadak datanglah seseorang menemui Zuhroh, dan dia melihat Harut dan Marut berada di rumah Zuhroh sedang berasyik masyuk bersamanya. Melihat kedatangan orang itu, kedua-duanya nampak gugup dan terlintas di dalam fikiran mereka bahawa orang itu akan menyebarkan rahsia mereka berdua.

Mereka berada di bawah pengaruh khamar, Harut mencekik orang itu dan Marut pun membantunya mengakhiri nyawa si malang yang tidak bersalah itu, hanya semata-mata kerana dia telah melihat mereka berdua sedang berbuat maksiat dengan Zuhroh.

Setelah pengaruh khamar hilang dari kepala mereka dan mereka tersedar, kedua-duanya berasa sedih dan gundah. Mereka ingin terbang ke langit, namun bagaimana mungkin kerana kini diri mereka terasa sangat berat sebab telah dibebani oleh dosa-dosa. Mereka kemudian mendengar suara dari langit yang menyeru keduanya: “Kamu memilih seksa dunia atau akhirat?”

Mereka kemudian memilih seksa dunia daripada seksa akhirat, sehingga mereka pun terus-menerus di seksa hingga hari kiamat kelak.

Sunday, January 2, 2011

KISAH DARI AL QURAN "ASH HABUL UKHDUUD"

Di istana raja terjadi pembicaraan antara dia dan seorang penyihir tua yang berasa bahawa usianya sebentar lagi akan segera berakhir. Sekarang, dari waktu ke waktu dia sedang menanti hari kematiannya.

Raja berkata: “Apa yang akan dilakukan, wahai penyihir? Aku tidak punya cara untuk melakukan tipu daya tanpamu. Sesungguhnya di negeri ini para manusia itu menyembahku kerana jasa sihirmu.”

Penyihir menjawab: “Paduka, sesungguhnya aku telah menginjak akhir usia dan kesihatanku telah lemah. Menurut pendapatku, kamu harus memilih seorang anak kecil untukku, dan aku akan mengajarkan sihir kepadanya, sehingga dia boleh menjadi penyihirmu. Jika aku mati, sihirku tidak akan mati dan orang-orang tetap akan menjadi hambamu.

Raja menyetujuinya, kemudian dia memerintah para kakitangannya untuk memilih anak terpintar di dalam kerajaannya untuk menjadi penyihir baru. Mereka pun memilih Abdullah bin Tamir, seorang anak yang paling cerdas di kota itu.

Abdullah berangkat ke rumah si penyihir pada hari pertama dengan penuh keceriaan dan kebahagiaan, kerana dia telah mendapat kurnia itu. Sekarang pakaian baru dan hartanya pun banyak. Dia akan menjadi penyihir raja, Tuhan yang ditakuti oleh manusia, dan dia pun akan menjadi orang yang paling terkenal di kerajaan itu setelah raja, bahkan orang yang terkaya setelah raja. Dia akan dapat semua yang dia inginkan. Pelajaran sihir pun kemudian dimulakan.

Perjalanan dari rumah Abdullah ke rumah penyihir cukup jauh dan memakan waktu lama, sehingga kadangkala dia duduk untuk berehat kerana keletihan menempuh perjalanan. Abdullah memerhatikan bahawa setiap kali dirinya melewati sebuah gua kecil di perjalanan, setiap itu pula dia mendengar suara syeikh tua menyeru: “Wahai Zat yang hidup kekal, wahai Zat yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya, wahai Zat yang menciptakan bumi dan langit.”

Abdullah kecil tak berani masuk ke dalam gua kerana takut kepada penghuninya, iaitu seorang syeikh tua. Namun demikian, gema dari ucapan itu terus terngiang di telinganya: “Wahai Zat yang hidup kekal, wahai Zat yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya.”

Abdullah kemudian sampai ke rumah penyihir, dan penyihir pun mula memberikan pelajaran sihir kepadanya. Namun penyihir mengetahui bahawa anak itu disibukkan oleh sesuatu. Penyihir bertanya kepadanya: “Apa yang terjadi padamu, wahai penyihir kecil?”

Tuan, sesungguhnya hari ini aku mendengar beberapa kalimat yang menyibukkan aku dari segala sesuatu.

“Kalimat apa itu?”

“Siapakah Zat yang hidup kekal dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya? Siapa Zat yang telah menciptakan langit dan bumi?”

Penyihir marah dan wajahnya menjadi merah. Dia berkata: “Berhati-hatilah mengatakan perkataan itu, sebab kita semua adalah hamba bagi raja. Sesungguhnya kamu adalah seorang penyihir raja, maka pelajarilah sihir yang yang dapat membuat semua manusia menjadi pembantumu dan kamu akan menjadi orang terkaya di kerajaan ini, bahkan di seluruh dunia.”

Abdullah terdiam dan kembali mempelajari sihir lagi. Namun kali ini dia mencermati bahawa sihir yang dia pelajari tidak lain hanyalah silap mata, hanya tipuan yang mengelabui pandangan mata tanpa ada kenyataannya. Bahkan apa yang diterimanya hanyalah halusinasi dan ilusi belaka.

Sementara itu suara syeikh terus terngiang di telinganya: “Wahai Zat yang hidup kekal, wahai Zat yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya.”

Telur yang dia sembunyikan disebalik salah satu lengan baju atau saku Abdullah, dia keluarkan dari lengan baju atau saku lain, lalu dia menyemburkan api dari mulut, kemudian memadamkannya kembali dan ada pula yang berupa mantera-mantera yang tidak mengandungi hal yang bermanfaat sama sekali.

Itulah yang diajarkan si penyihir raja kepada Abdullah, sehingga dia berasa bahawa dirinya tidak lebih dari seorang pelayan raja, sedang raja itu sendiri tidak lebih dari manusia lemah yang tidak memiliki kemanfaatan atau kemudaratan apa pun terhadap siapa pun. Bahkan dia adalah orang yang selalu memerlukan makanan ketika lapar, memerlukan air ketika haus, dan memerlukan ubat ketika sakit. Oh, alangkah besar ketertipuan yang telah dijalani penduduk kerajaan tersebut.

Ketika Abdullah dalam perjalanan ke rumah si penyihir, tiba-tiba dia mendengar suara itu lagi: “Wahai Zat yang hidup kekal, wahai Zat yang terus-menerus mengurus makhluk-Nya.”

Si kecil itu kemudian memaksa diri masuk ke dalam gua, hingga dia berada di dalamnya dan menemui seorang datuk tua yang sedang berdoa sambil mengangkat kedua belah tangannya seraya mengatakan: “Wahai Tuhanku, Zat yang hidup kekal dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya . . . Tuhan langit dan bumi. Engkaulah Tuhan yang patut disembah tidak ada Tuhan selain-Mu. Engkaulah Tuhan Pemilik alam semesta, tidak ada Tuhan selain-Mu. Maha suci Engkau dan Engkau Maha Tinggi. Arasy-Mu diatas langit, wahai Zat yang Maha Penyayang. Maka, ampunilah aku dan kasihanilah aku!”

Abdullah tidak menyedari, kecuali saat air mata menitis di kedua pipinya bak mutiara yang berguguran. Tiba-tiba tanpa sedar, lidahnya mengatakan: “Aku beriman kepada Zat yang hidup kekal dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya.”

Ketika itulah syeikh tersedar seraya bertanya: “Siapa kamu, wahai anak kecil ?”

“Aku Abdullah bin Tamir, penyihir kecil raja.”

“Bagaimana kamu boleh masuk ke sini?”

“Aku mendengarmu memanggil Tuhanmu yang hidup kekal dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya dan ucapanmu itu mengejutkanku.”
“Wahai anakku, sesungguhnya Allah adalah Penciptaku, Penciptamu, dan Pencipta raja yang mendakwa dan mengaku secara bohong bahawa dirinya adalah Tuhan selain Allah.”

Abdullah berkata: “Allah? Oh, itu Tuhan yang Agung. Aku pernah mendengar kata-katamu itu. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana cara agar aku dapat menyembah Allah.”

Syeikh tua kemudian mengajar Abdullah bagaimana cara menyembah dan bertasbih kepada Tuhannya. Maka menangislah mata si kecil yang kemudian berubah dewasa kerana keimanannya, yang mengungguli orang-orang dewasa yang kafir terhadap Allah.

Ketika itulah pendeta tua itu berkata: “Wahai Abdullah, janganlah kamu menunjukkan keberadaanku kepada orang lain dan sembunyikanlah keimananmu dari mereka, sebab jika raja mengetahui keadaanmu, nescaya dia akan membunuhku dan juga kamu, sehingga keimanan di muka bumi ini akan lenyap.”

Abdullah menjawab: “Aku mematuhi apa yang diperintahkan oleh syeikh yang telah menunjukkanku kepada Allah, Zat yang Maha Esa lagi Tunggal.” Abdullah kemudian pergi.

Abdullah tidak lagi peduli terhadap pelajaran sihir yang dia pelajari dari si penyihir, sebab dia tahu bahawa penyihir itu adalah orang yang banyak berdusta, sedangkan sesuatu yang dusta akan segera terbuka di hadapan orang lain, sekalipun pelakunya seorang anak kecil atau orang fakir seperti dirinya.

Sejak Abdullah beriman kepada Allah, yang terpenting dalam kehidupannya adalah pergi ke gua tempat sang pendeta, untuk mendengar tasbih dan alunan suara pujiannya, juga belajar kepadanya tentang bagaimana dia mendendangkan tasbih di waktu malam untuk mendekatkan diri kepada Allah. Oleh kerana itulah, Abdullah sering terlewat datang ke rumah penyihir.

Jika Abdullah pergi ke rumah si penyihir, maka penyihir itu memukulnya kerana terlewat, dan jika dia kembali ke rumahnya, maka keluarganya memukulnya kerana terlewat. Dengan demikian, si kecil itu berada di antara dua perkara, di mana yang paling manis di antara kedua-duanya adalah yang paling pahit akibatnya.

Abdullah kemudian menceritakan persoalannya. Pendeta berkata memberinya nasihat: “Apabila penyihir bertanya kepadamu mengapa kamu terlewat, jawablah bahawa keluargaku menahanku.”

Oleh kerana jarak antara rumah penyihir dan rumah Abdullah jauh, si penyihir pun percaya atas apa yang Abdullah katakan dan tidak bertanyakan kepada keluarganya. Keluarga Abdullah juga percaya atas apa yang Abdullah katakan dan tidak bertanyakan kepada si penyihir. Dengan demikian, Abdullah terlepas dari kekejaman si penyihir, juga dari seksaan keluarganya.

Ketika Abdullah sedang menyusuri perjalanannya pada suatu hari, tiba-tiba dia melihat desakan manusia. Dia kemudian mendekat, ternyata dia melihat raksaksa menutupi jalan, sehingga tidak ada seorang pun yang boleh melompat atau melaluinya. Abdullah pun memungut seketul batu dari tanah, kemudian berkata: “Sekarang aku boleh mengetahui apakah pendeta yang lebih Allah cintai atau penyihir.” Dia kemudian berdoa: “Ya Allah, jika pendeta yang lebih Engkau cintai daripada penyihir, maka jauhkanlah haiwan ini dari jalan.”

Abdullah kemudian melemparkan batu itu, dan ternyata raksaksa itu pergi dan tidak menutupi jalan lagi. Abdullah kemudian meneruskan perjalanannya menuju pendeta, sedang keimanan telah memenuhi relung hatinya. Dia kemudian menceritakan kejadian yang menimpanya kepada sang pendeta.

Pendeta berkata kepadanya: “Wahai anakku, sekarang kamu lebih baik daripada aku dan sesungguhnya Allah akan memberikan cubaan kepadamu. Jika kamu mendapat cubaan, janganlah kamu tunjukkan tentang kewujudanku kepada pihak yang menyeksamu.”

Kedua-dua orang itu kemudian larut dalam solat yang panjang dan doa kepada Allah.

Raja mempunyai saudara sepupu yang buta sejak kecil. Oleh kerana itulah, dia sangat sedih atas nasib yang dialaminya. Dia selalu mencari doktor yang boleh mengembalikan penglihatan yang telah hilang itu, agar sepupunya boleh melihat seperti manusia yang lain.

Para tabib telah didatangkan, namum tidak seorang pun mampu mengembalikan penglihatannya. Meskipun si buta ini memiliki kekayaan, namun harta itu tidak boleh membahagiakannya dan tidak pula boleh mengembalikan penglihatannya.

Selanjutnya, sepupu raja didatangi seseorang yang menyampaikan khabar baik kepadanya, bahawa ada seorang tabib di kota anu yang telah dikunjungi oleh ramai orang, kemudian setiap orang yang berpenyakit itu sembuh, sehingga semua orang menyangka bahawa sang tabib memiliki kemampuan untuk menyembuhkan segala jenis penyakit.

Si buta kemudian menyiapkan berbagai hadiah dan harta, lalu berangkatlah dia mnemui si tabib yang mujarab itu, yang mampu membuat sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh tabib-tabib lain.

Sampailah si buta dan orang-orang yang bersamanya di rumah si tabib, dan mereka mendapati pesakit beratur cukup panjang yang berdiri di depan pintu rumahnya. Mereka kemudian meminta izin untuk menemui si tabib, ternyata mereka dikejutkan dengan satu kejutan, ternyata tabib tersebut adalah Abdullah bin Tamir sendiri, penyihir raja yang kini telah menjadi seorang lebih terkenal daripada semua orang, bahkan dari raja itu sendiri.

Si buta menawarkan harta dan hadiah kepada Abdullah agar dia mahu mengembalikan penglihatannya. Namum Abdullah berkata: “Aku tidak mengambil upah dan aku tidak memerlukan harta. Aku hanya perlu kamu beriman kepada Allah semata-mata.”

Si buta bertanya: “Siapa itu Allah?”

Abdullah menjawab: “Allah adalah Zat yang akan menyembuhkanmu dari penyakitmu jika aku berdoa kepada-Nya untukmu.”

“Bagaimana dengan raja? Bukankah dia itu Tuhan.”

“Apakah raja dapat menyembuhkanmu? Dia adalah hamba, aku adalah hamba, kamu adalah hamba dan kita semua adalah hamba.”

Abdullah kemudian mengusap mata si buta dengan kedua tangannya, kemudian Allah menyembuhkan dan mengembalikan penglihatannya.

Si buta pun berkata: “Aku beriman kepada Allah. Tidak ada tuhan selain Allah.”

Anak kecil yang sekarang telah menjadi tabib itu berkata: “Janganlah kamu memberitahu perihalku kepada raja, kerana dia pasti akan membunuhku dan juga kamu.”

Si buta kemudian keluar dalam keadaan sihat dan dapat melihat dan tidak memerlukan orang lagi untuk menuntunnya. Dia telah beriman kepada Allah setelah kafir kepada-Nya. Dia menyembunyikan keimanannya, meskipun terhadap anak-anak dan isterinya.

Salah seorang pengawal datang ke istana sepupu raja yang penglihatannya telah dikembalikan Allah. Pengawal itu kemudian berkata: “Raja ingin bertemu denganmu!”

Dia kemudian berangkat bersama si pengawal, tanpa memerlukan seorang pun yang membimbingnya dalam perjalanan menemui raja. Ketika dia telah bertemu raja, raja sangat terkejut melihat keadaannya dan dia berkata: “Selamat buat sepupuku yang sudah boleh melihat kembali.”

Anak saudara itu menjawab: “Segala puji bagi Allah atas hal itu.”

Mendengar itu, raja terus marah dan berkata: “Allah, apakah kamu memuji Allah di kerajaan dan di istanaku? Apakah kamu percaya kepada Allah?”

“Ya, aku percaya kepada Allah yang telah menyembuhkanku dan mengembalikan penglihatanku, wahai Raja.”

“Apakah ada Tuhan yang disembah di kerajaanku ini, selain diriku.”

“Bahkan semua orang adalah hamba di kerajaan Allah, wahai raja.”

Raja kemudian marah dan memanggil para pengawal. Mereka kemudian menyeksa sepupunya sampai dia menunjukkan kepada mereka keberadaan Abdullah.

Mereka pun mendatangkan Abdullah dan menyeksanya, hingga Abdullah menunjukkan kepada mereka tempat keberadaan sang pendeta. Ketiga-tiga orang itu kemudian dihadapkan kepada raja yang zalim itu. Raja kemudian mengikat ketiga-tiga orang itu dengan rantai besi.

Raja berkata: “Ingkarilah Allah! Jika tidak, aku akan membunuh kamu.”

Sepupu raja yang pernah buta itu menjawab: “Aku tidak akan pernah menyembah selain Allah, dan aku tidak akan menyengutukan-Nya dengan sesuatu pun.”

Perajurit pun kemudian membunuh sepupu raja, iaitu dengan cara menggergajinya dengan gergaji hingga tubuhnya menjadi dua bahagian. Mereka kemudian berkata kepada pendeta: “Ingkarilah Allah. Jika tidak, kami akan melakukan apa yang telah kami lakukan kepada si buta itu.”

Namun pendeta tetap tegas atas keimanannya sehingga mereka membelah tubuhnya dengan gergaji sampai menjadi dua bahagian.

Sekarang tiba giliran Abdullah. Mereka berkata kepadanya: “Ingkarilah Allah! Jika tidak, kamu akan jadi seperti mereka.”

Abdullah menjawab: “Allah adalah Tuhanku, dan aku tidak akan menyengutukan Allah dengan sesuatu pun.”

Mereka kemudian meletakkan gergaji di atas kepala Abdullah dan hendak membunuhnya.

Namun gergaji itu tumpul dan tidak mampan. Mereka pun mencuba membunuhnya dengan pedang, namun Abdullah tidak jua dapat dibunuh, kemudian mereka cuba membunuhnya dengan panah, anak panah dan pisau, namun mereka tetap tidak berjaya. Raja terpegun bingung di hadapan anak kecil itu. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan.

“YA Allah, hindarkanlah mereka dariku dengan sesuatu yang Engkau kehendaki.”

Demikianlah doa si anak kecil itu saat dia berada di puncak bukit yang tinggi bersama kedua-dua orang pengawal yang akan melemparkannya dari atas bukit supaya dia mati, setelah semua cara dan usaha untuk membunuhnya gagal.

Allah mengabulkan doa anak kecil itu, lalu mendadak bukit itu bergoncang dan para pengawal itu terjatuh dari ketinggiannya dan mati seketika itu juga, sedang Abdullah masih tetap hidup.

Selanjutnya, dia kembali kepada raja untuk menyerunya kepada Allah, sehingga raja pun menjadi semakin berang. Raja memerintahkan para tenteranya untuk meletakkan anak itu di sampan dan membawanya ke laut, kemudian dilemparkan di sana agar mati tenggelam. Di tengah gelombang yang dahsyat, suara Abdullah melengking memanggil Tuhannya:

Sampan itu kemudian terbalik dan Abdullah selamat dari tenggelam, kemudian dia kembali kepada raja dan berkata kepadanya: “Sesungguhnya kamu tidak akan pernah dapat membunuhku, kecuali jika kamu melakukan apa yang aku perintahkan kepadamu.”

Raja berkata: “Apa yang kamu perintahkan kepadaku?”

Abdullah menjawab: “Kumpulkanlah semua orang di kawasan lapang yang luas, kemudian ikatlah aku di atas batang pohon, lalu ambillah anak panah dari tabung anak panahku dan letakkanlah ia di busurnya, kemudian katakanlah, ‘Dengan menyebut nama Allah, Tuhan anak ini. Jika kamu melepaskan anak panah itu, nescaya kamu dapat membunuhku.’”

Raja pun setuju dengan apa yang dikatakan oleh Abdullah agar dia dapat menghabisinya.

Tidak lama penduduk kerajaan itu pun berkumpul di dataran tinggi, kemudian mereka melihat Abdullah terikat di sebuah pohon. Ternyata raja memegang tabung anak panah Abdullah, kemudian mengeluarkan satu anak panah darinya. Semua orang terdiam dan suara raja terdengar kuat mengatakan: “Dengan menyebut nama Allah, Tuhan anak ini.”

Seketika dia melepaskan anak panah itu hingga mengenai kening Abdullah, maka Abdullah pun mati secara syahid. Penduduk kerajaan kemudian sedar bahawa raja mereka tidak dapat membunuh anak itu, kecuali setelah dia mengatakan: “Dengan menyebut nama Allah.” Mereka semua kemudian berteriak: “Kami beriman kepada Allah tuhan anak itu.”

Tubuh Abdullah memang telah mati, namun doa dan keimanannya tetap kekal. Raja pun menjadi bingung, sebab semua orang di dalam kerajaannya telah menjadi penyembah Allah, bukan penyembah dirinya seperti dahulu. Dia kemudian memerintahkan untuk menggali parit yang besar. Setelah itu dia memerintahkan para pengawal untuk menyalakan api, maka api yang besar pun dinyalakan. Satu demi satu mereka kemudian membawa orang-orang mukmin itu. Para tentera pun menyeru: “Apakah kamu akan mengingkari Allah atau kami akan melemparkanmu ke dalam parit berapi?”

Tidak ada seorang pun dari orang-orang mukmin itu, kecuali mereka dibakarnya di dalam parit tersebut,hingga yang tertinggal hanya seorang wanita yang menggendong bayi di kedua belah tangannya. Mereka mengambil bayi itu dan berkata: “Apakah kamu akan kembali dari iman kepada Allah? Jika tidak, kami akan membakar bayimu ini.”

Si ibu kemudian menatap bayinya dan ingin mengatakan perkataan kafir, namun Allah menghendaki dia tidak menjadi kafir sehingga bayi itu dapat berkata: “Ibu, bersabarlah. Sesungguhnya kamu berada dalam kebenaran yang nyata.”

Si ibu pun menolak kekafiran dan hanya meredhai keimanan. Maka bayi itu dilemparkan ke dalam parit tersebut. Setelah itu dia pun dilemparkan ke sana, agar pada kesudahannya raja dan para tenteranya mendapat seksaan yang amat pedih pada hari kiamat nanti.
Kisah Ash-Haabul Ukhduud ini Allah rakamkan didalam surah Al-Buruj ayat 4-10
  1. Demi langit dan bumi yang mempunyai gugusan bintang,
  2. Dan hari-hari yang dijanjikan,
  3. Dan yang menyaksikan dan yang disaksikan,
  4. Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit,
  5. Yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar,
  6. Ketika mereka duduk disekitarnya,
  7. Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman,
  8. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu'min itu melainkan kerana orang yang mu'min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Terpuji,
  9. Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu,
  10. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cubaan kepada orang-orang mu'min laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar,
  11. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang soleh bagi mereka syurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai itulah keberuntungan yang besar,
  12. Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras,
  13. Sesungguhnya Dia lah Yang menciptakan (makhluk) dari permulaan dan menghidupkannya (kembali)
  14. Dia lah yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih,
  15. Yang mempunyai singgahsana lagi Maha Mulia,
  16. Maha Kuasa berbuat apa yang dikehendaki-Nya.
  17. Sudahkah datang kepadamu berita kaum-kaum penentang,
  18. (Yaitu kaum) Fir'aun dan Tsamud?
  19. Sesungguhnya orang-orang kafir selalu mendustakan,
  20. Padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka,
  21. Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al-Quran yang mulia,
  22. Yang tersimpan dalam Luh Mahfudz.

KISAH DARI AL QURAN - "PEMILIK KEBUN"

Syeikh Abdullah adalah salah seorang penduduk kota Dharawan yang dikurniakan Allah sebuah kebun yang subur dengan berbagai jenis buah-buahan yang menghiasi ranting-ranting pohon sehingga kebun beliau menjadi seperti salah satu syurga Allah di muka bumi.


Dia juga rajin merawat tanaman dan pohon buah-buahan itu hingga pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap musim.

Syeikh Abdullah juga merupakan seorang hamba Allah yang soleh dan mengetahui hak-hak Allah pada hartanya yang berupa sebuah kebun tanaman yang subur. Setiap kali musim menuai tiba dia tidak pernah lupa untuk mengeluarkan zakat. Akibat dari sifat yang warak itu, Allah telah memberkati kebunya dengan memberi hasil yang berlipat kali ganda.

Salah sebuah kebuan buah-buahan yang sempat dirakam
(gambar hiasan)


Orang-orang fakir dan miskin yang berada dikota itu bebas memakannya tanpa dikenakan sebarang bayaran oleh Syeikh Abdullah. Mereka menganggap kebun Syeikh Abdullah sebagai syurga bagi mereka sementara Syeikh Abdullah terus mendapat keredhaan dan keberkatan dari Allah melalui hasil yang melimpah ruah dari kebunnya.

Syeikh Abdullah dikurniakan Allah tiga orang anak lelaki. Diantara ketiga-tiga anak lelakinya itu, yang sulong dan yang bongsu selalu bersikap tamak dan tidak bersetuju dengan perbuatan ayahnya yang mengeluarkan zakat dan memberi sedekah kepada fakir miskin. Sementara anaknya yang tengah selalu beserta ayahnya dalam setiap tindakan yang dilakukan. Syeikh Abdullah selalu berdoa kepada Allah supaya kedua-dua anaknya itu diberi petunjuk.

Anak yang sulong selalu mempertikaikan akan kewajaran ayahnya memberikan sedekah manakala yang bongsu akan menyokong dan memberi pendapat bahawa jika setiap hasil dari kebun itu dijual nescaya mereka akan menjadi kaya di kota Dharawan ini.

Anak yang tengah berkata: “Itu adalah hak Allah atas tanam-tanaman.”

Si bongsu pula berkata: “Apakah Allah memerintahkan kepada ayah untuk mensia-siakan harta dan memberikannya kepada setiap orang yang mengaku dirinya fakir?’

Si sulong berkata: “Atau barangkali Allah telah memerintahkan kepadanya untuk mel;upakan kita dari hasil buah-buahan ini?’

Anak yang tengah berkata: “Tidak, bahkan Allah lah yang menumbuhkan buah-buahan ini sedang kita tidak melakukan apa-apapun kecuali hanya menanam benih ditanah, kemudian menyiramnya dengan air. Adapun tanam-tanaman itu sesungguhnya Allah memberikan perintah kepadanya sehingga ia menjadi besar, tumbuh dan kemudian menjadi pohon setelah sebelumnya menjadi benih, lalu pepohonan itupun memberikan buahnya dengan perintah Allah.”

Si bongsu berkata: “Ah itu hanyalah cerita kosong belaka dan tidak ada gunanya. Yang jelas, setiap hari kitalah yang menyiramnya dengan air, memelihara dan menjaganya dari hama.”

Anak yang tengah berkata: “Bahkan Allah lah yang menjaganya dari ditimpa api yang akan membakarnya, atau dari hujan yang akan menenggelamkannya, atau dari hama yang tidak dapat kita lihat atau kita atasi. Apa yang dikeluarkan oleh ayah kita adalah sebahagian dari hak Allah dan bukan seluruhnya. Seandainya Allah memerintahkan kita mengeluarkan hak itu seluruhnya, nescaya kita tidak mendapat kebahagiaan apa pun.”

Si sulong berkata: “Kami mengakui terhadap hak Allah, tapi apakah Allah memerintahkan agar ayah kita memberikannya kepada orang-orang fakir dan miskin.

Anak yang tengah berkata: “Ya! Sebab Allah telah memberikan kita harta dan buah-buahan dan dia menjadikan kita orang-orang yang mendapatkan amanah pada kedua hal itu. Sementara Allah pun menjadikan sebahagian orang sebagai orang-orang fakir, agar orang kaya memberikan sebahagian hartanya kepada orang fakir sehingga mereka dapat hidup. Jika kita tidak memberikan apapun terhadap orang-orang fakir, dari mana mereka dan keluarganya akan makan?”

Si sulong lantas berkata: “Lalu kenapa setiap orang dari mereka tidak bekerja sendiri dan makan dari hasilnya?”

Si tengah menjawab: “Sebahagian dari mereka bekerja, tapi Allah lah yang Maha Pemberi rezeki. Dia meluaskan rezeki kepada sebahagian dari kita dan menyempitkannya kepada sebahagian yang lain untuk menguji kita, juga untuk mengetahui dengan nyata siapa yang menunaikan hak Allah dan siapa yang tidak menunaikannya.”

Anak yang bongsu berkata: “Kamu seperti ayah kita dan nampaknya penyakit kepada keluarga kita sudah merupakan penyakit keturunan.”

Anak yang tengah lalu berkata: “Zakat dan sedekah yang dikeluarkan sebagai penyakit? Astaghfirullah hal adzim. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kamu berdua, wahai saudara-saudaraku yang mulia!”

Sudahkah pemilik kebun ini mengeluarkan zakat tanamannya?
(gambar hiasan)

Ketiga-tiga saudara itu kemudian berpisah. Anak yang tengah pergi mengikut jejak ayahnya, sementara kedua saudaranya pergi menjauhkan diri dari ayahnya dan menghabiskan malam-malam berikutnya dengan penuh kemarahan terhadap ayah dan saudara tengahnya.

Salah seorang yang fakir datang kekebun Syeikh Abdullah untuk meminta sejumlah buah-buahan untuk anaknya yang sedang sakit dan menangis tiada hentinya kerana tidak menemui sesuatupun yang boleh dimakan. Syeikh Abdullah kemudian masuk kekebunnya lalu memetik buah-buahannya kemudian memberikan sebahagiannya. Setelah itu Syeikh memberikan sejumlah wang kepada si fakir tersebut.

Tiba-tiba si fakir berdoa dengan suara kuat: “Semoga Allah memberkatimu, pada harta dan ‘Syurga’ mu.

Syeikh kemudian menatap anak-anaknya dan berkata: “Kerana doa-doa seperti inilah Allah memberikan keberkatan kepada kita pada kebun dan buah-buahan kita wahai anak-anakku.”

Anak yang sulong kemudian pergi sambil menggigit kedua-dua bibirnya kerana marah sambil berkata: “Kerana si fakir dan orang-orang seperti inilah kita bakal tidak mendapatkan sebiji buah atau satu dirham pun untuk kita makan.

Syeikh Abdullah kemudian marah dan berkata: “Allah tidak akan memberikan keberkatan apapun kepadamu dan saudara kamu selama kamu dalam keadaan kedekut ini.”

Anak yang tengah cuba menenangkan ayahnya lalu berkata: “Ayah, sesungguhnya saudaraku ini tidak bermaksud apapun melainkan bahawa ayah sudahpun mengeluarkan zakat harta dan buah-buahan sehingga kita tidak perlu lagi bersedekah.

Syeikh berkata: “ Wahai anakku, sesungguhnya sedekah itu dapat memadamkan kemurkaan Allah dan meninggikan darjat orang-orang mukmin di syurga. Sesungguhnya Allah akan memberikan untuk sebiji yang disedekahkan seratus kebaikan. Jika kita bersedekah dengan tujuh biji buah, nescaya Allah akan menjadikan pada setiap biji buah itu pahala seratus biji buah yakni semuanya menjadi tujuh ratus biji buah, sedangkan satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa. Jadi jumlah keseluruhannya akan menjadi tujuh ribu kebaikan. Allah akan menambah dan melipat gandakan pahala bagi siapa pun yang Dia kehendaki, sebab Allah Maha Pemberi kurnia yang agung.”

Anak yang tengah berkata: “ Apa lagi pahala untuk orang-orang yang bersedekah, ayah?”

Syeikh berkata : “Allah akan memberikan pahala kepadanya yang tidak Dia berikan kepada seseorang manusia pun.”

Sesungguhnya pada hari kiamat, matahari dekat dengan kepala sehingga manusia memerlukan naungan dan air kerana sangat haus. Mereka tidak akan mendapatkannya selain naungan Arasy Allah.

Diantara tujuh kelompok yang akan Allah masukkan kedalam naunganNya pada hari yang tiada naungan selain naunganNya adalah orang-orang yang mengeluarkan sedekahnya dengan tangan kanan, kemudian menyembunyikannya dari tangan kiri sehingga tangan kiri tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanan.”

Anak yang bongsu menjawab dengan nada sinis: “Tapi didunia kita perlu harta, bukan kebaikan.”

Anak yang tengah menjawab: “Tapi di akhirat kita tidak memerlukan apapun selain kebaikan dan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Ketika kamu berdiri di hadapan Allah, tidak akan pernah berguna harta dan kekayaan itu, sebab itu akan hilang dan lenyap setelah kematianmu.”

Syeikh Abdullah berkata: “Ketahuilah bahawa orang yang tidak mengeluarkan zakat harta itu akan Allah jadikan pada hari kiamat kelak sebagai tontonan bagi yang lain, kerana Allah akan menyeksanya dengan seksaan yang pedih. Orang yang tidak mengeluarkan zakat akan dikurung pada hari kiamat dalam kurungan yang diperbuat dari api, hingga Allah selesai dari menghisab semua makhlukNya mula dari Adam a.s hingga orang yang paling terakhir matinya.

Allah kemudian mengalihkan perhatianNya dengan pandangan yang murka kepada orang-orang yang tidak mengeluarkan zakatnya. Setelah itu hartanya akan berubah nmenjadi kalung api dilehernya, kemudian api membakar harta emas dan perak simpanannya. Selanjutnya, kening, lambung dan punggungnya akan diseterika dengan api itu.”

Saudara sulong berkata tanpa mendengar perkataan ayahnya: “bahkan aku akan bertaubat sebelum mati dan Allah akan mengampuniku. Dengan demikian, aku dapat menikmati harta di dunia dan syurga di akhirat.”

Meskipun ayahnya tidak mendengar, namun Allah dapat mendengar, sebab Dia adalah Zat yang Maha Mendengar segala suara. Tiada sesuatu pun yang samar bagi-Nya, kerana Dia adalah Zat yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Allah tidak akan menerima taubat orang yang melakukan dosa dan lupa bahawa Allah hanya menerima taubat dari orang-orang yang berniat untuk taubat, bukan orang-orang yang berniat untuk maksiat.

Semuanya kemudian berpisah ketika waktu solat telah tiba. Ketika Syeikh Abdullah bersujud, dia memanjatkan doanya: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada anak-anakku.”

“Aku berpesan kepada kamu untuk berbuat baik kepada orang-orang fakir dan tidak melupakan zakat hak Allah yang ada pada kebun kita,”

Demikianlah perkataan Syeikh Abdullah di atas pembaringannya saat sedang sakit tenat sehingga tidak lama kemudian sakitnya ini membawa kepada kematian. Rupanya Allah menghendaki lelaki yang baik dan pemilik ‘syurga’ itu wafat, beberapa saat sebelum musim tuaian tiba.

Ketiga-tiga bersaudara itu kemudian kembali setelah mereka memakamkan ayah mereka. Mereka menangisi kematian ayahnya dan bersedih kerana berpisah dengannya. Setelah itu setiap daripada mereka pulang ke rumah masing-masing.

Ketika pagi menyingsing, mereka pergi menuju ke kebun tempat mereka menyediakan segala sesuatu untuk musim tuaian yang sudah dekat waktunya. Mereka menyediakan kebun mereka untuk menjemput musim tuaian ini dengan penuh kebahagiaan kerana kebun tersebut memberikan hasil buah-buahan yang berlimpah ruah.

Buah-buahan yang ada di atas pohon itu seperti bintang yang menyinari langit atau lampu yang menghiasi pepohonan. Kurnia itu begitu melimpah dan rezeki itu sangat banyak, sehingga masing-masing dari mereka melihat ‘syurga’ itu dan mengharapkan seandainya ayah mereka masih hidup, nescaya dia akan turut merasakan kebahagiaan mereka, kerana buah-buahan yang begitu banyak.

Ketiga-tiga orang itu kembali ke rumah mereka dan mereka mula bergaduh sesama mereka.

Anak sulong berkata: “Atas alasan apa kita harus memberikan harta kita kepada orang-orang fakir.”

Anak yang tengah menjawab: “Ini adalah hak Allah, dan Dia telah memerintahkan ini kepada kita untuk mengeluarkannya. Demikian juga ayahmu pun telah mewasiatkannya kepadamu sebelum dia meninggal dunia.”

Anak bongsu berkata: “Sesungguhnya ayah kita itu bodoh. Dia memberikan buah-buahan dan hartanya kepada orang-orang fakir. Seandainya kita menjual buah-buahan itu, nescaya kita akan menjadi orang yang paling kaya dan kita pun dapat menyimpan harta yang banyak.

Anak yang tengah menjawab: “Kamu memaki ayahmu dan menuduhnya bodoh dan kamu juga melarang zakat?”

Anak sulong berkata: “Janganlah kamu memaki ayah kita. Inilah kesalahan darimu. Namun kamu benar jika kamu mengatakan bahawa pada tahun ini kita tidak akan memberikan sedikit pun dari buah-buahan itu kepada orang-orang fakir.”

Anak yang tengah berkata: “Bagaimana? bagaimana mungkin kamu melarang sesuatu yang telah Allah perintahkan kepada kita. Apakah kamu telah lupa akan semua hal yang pernah dikatakan tentang hal ini?”

Anak bongsu berkata: “Dia saudara tuamu. Dengarlah apa yang dia katakan. Laksanakan apa yang dia perintahkan, kecuali kami pun akan mengharamkanmu mendapatkan buah-buahan ini.”

Anak sulong berkata: “Saudaraku, itu adalah harta kita, sedang ayahmu semoga Allah merahmatinya kerana telah mengeluarkan zakat selama bertahun-tahun lamanya. Kita akan menyimpan harta ini dan tidak mengeluarkan zakatnya hanya untuk tahun ini saja. Setelah itu, kita akan mengeluarkan zakat harta ini setiap tahun.”

Anak yang tengah berkata: “Jangan lakukan itu saudaraku, sebab barang siapa yang tidak memberikan zakat sekali, maka untuk selanjutnya berat baginya untuk mengeluarkannya.”

Anak bongsu berkata: “Zakat, hak Allah, orang-orang fakir. Tinggalkan semua ini. Marilah kita buat kesepakatan, nescaya kita akan menjadi orang yang kaya raya. Harta dan buah-buahan itu akan menjadi milik kita, sedang orang-orang fakir itu, cukuplah mereka mendapatkan zakat di waktu-waktu yang sebelumnya.”

Anak sulong barkata: “Aku mempunyai idea.”

Anak bongsu bertanya: “Apa itu ?”

Anak sulong berkata: “Kita akan menuai pada malam hari dan kita akan memetik buah-buahan itu sebelum Subuh, sebelum orang-orang fakir dan miskin itu masuk ke dalam kebun. Apabila orang-orang fakir itu datang pada pagi hari, mereka tidak akan mendapatkan buah-buahan itu sedikit pun. Meraka kemudian kembali tanpa membawa buah-buahan dan kita dapat melakukan apa yang kita inginkan.”

Anak yang tengah berkata: “Saudaraku, takutlah kamu kepada Allah. Mengapa kamu tidak bertasbih kepada Allah dan memanjatkan puji dan bersyukur kepada-Nya atas kenikmatan yang telah Dia kurniakan kepada kamu dan memohon keampunan kepada-Nya?”

Anak bongsu menjawab: “Kami akan memohon keampunan, tapi setelah menuai nanti.”

Malam telah menyelimutkan kegelapannya kepada alam, sehingga sebahagian manusia tidak boleh melihat sebahagian yang lain, kerana kegelapan malam yang pekat.

Dari rumah Syeikh Abdullah ketiga orang bersaudara itu pergi secara sembunyi-sembunyi di pagi yang masih gelap kerana mereka takut didengar oleh salah seorang miskin, Oleh kerana saudara yang tengah dikhuatirkan akan membongkar rahsia itu, maka kedua-dua saudaranya pun memintanya bersumpah dengan nama Allah bahawa hari itu tidak akan ada seorang miskin pun yang menemui mereka.

Buah yang telah dipetik sedia untuk dipasarkan

Hal itu dilakukan oleh kedua-dua orang itu kerana mereka tahu bahawa saudaranya yang tengah pasti akan menanti perintah mereka. Dengan demikian, mereka berkeyakinan mampu untuk mencegah agar tidak mengeluarkan zakat. Masing-masing dari mereka dalam perjalanannya menuju ke kebun dibuai oleh khayalan akan mendapatkan harta yang banyak, yang akan masuk ke dalam bekas mereka setelah mereka dapat menjual buah-buahan itu. Jika harta itu telah masuk ke dalam bekas mereka, maka mereka dapat membeli berbagai barang, kemudian menjualnya lagi, sehingga harta mereka akan bertambah dan semakin bertambah, sampai menjadi seperti gunung layaknya.

Dengan harta itu, mereka akan membeli kebun yang banyak, sehingga mereka tidak hanya memiliki sebuah kebun, tetapi seribu kebun. Selanjutnya, orang-orang miskin akan menjadi hamba dan pembantu mereka.

Mereka berjalan dengan membawa impiannya masing-masing, hingga mereka sampai di kebun itu. Tiba-tiba mereka menemui kegelapan yang sangat pekat, hingga salah seorang dari mereka hampir tidak dapat melihat tangannya sendiri.

Saudara sulong kemudian berseru: “Mengapa gelap ini? Aku tidak dapat melihat pintu kebun.”

Saudara bongsu menjawab: “Aku benar-benar tersesat. Kita tersesat jalan.”

Saudara yang tengah berkata: “Bahkan kita menjadi orang yang tidak mendapat hasil apa-apa. Allah telah mengharamkan kita dari buah-buahan di kebun itu. Tidakkah sekarang kamu melihat lokasi kebun itu telah menjadi tanah yang kosong. Sekarang Allah telah menghukum kita, sehingga ‘syurga’ yang ayah kamu telah bersusah payah di sana dan kamu tidak ingin mengeluarkan zakat darinya itu pun terbakar habis dan menjadi arang. Bukankah telah aku katakan kepada kamu bahawa hal itu akan terjadi jika kamu tidak bertasbih dan berrsyukur kepada-Nya ?”

“Maha Suci Tuhan kita. Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang zalim.”

Mereka kemudian saling mencela, dan berkata: “Aduhai, celakalah kita. Sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang malampaui batas lagi zalim. Mudah-mudahan Allah akan memberi pengganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada kebun kita ini. Sesungguhnya kita telah bertaubat kepada Allah dan sesungguhnya kita mengharapkan keampunan dari Tuhan kita.”

Namun mereka menyesal pada saat penyesalan tidak lagi berguna dan mengakui dosa setelah datang hukuman. Oh, seandainya saja mereka mengeluarkan zakat harta mereka sebagaimana yang telah Allah perintahkan kepada mereka nescaya perkara sebegini tidak akan terjadi.