Wednesday, January 25, 2012

HIDUP SESUDAH MATI (MENGIMANI KEHIDUPAN AKHIRAT)...

Buku 'Hidup Sesudah Mati' karya Bey Arifin ini adalah diantara buku yang berada didalam simpananku. Ianya adalah terbitan tahun 1969 dan dicetak oleh Pustaka Nasional Pte. Ltd. Singapura. Dibawah 'kata Sambutan' tercatat perkataan Djakarta, 17 Agustus 1969. Wassalam dan ditandatangani oleh M. NATSIR.

Marilah kita sama-sama berkongsi ilmu yang terdapat didalamnya dan semoga kita mendapat manfaat darinya. Alfatihah kepada pengarang buku ini semoga rohnya ditempatkan bersama-sama para solehin. Amin...

Selamat Membaca...

Tujuan yang terpokok dari terutusnya para Nabi dan Rasul yang berjumlah 124 ribu orang itu dan di turunkanNya Kitab-Kitab Suci oleh Allah s.w.t. ada dua perkara iaitu:-

  • Menerangkan kepada manusia siapa Tuhan yang sebenarnya iaitu Allah Yang Tunggal dan tidak ada Tuhan selain Allah Yang Tunggal itu.

  • Menerangkan kepada manusia bahawa sesudah hidup yang terbatas waktunya didunia sekarang ini, manusia akan dihidupkan kembali menempuh kehidupan yang kedua kalinya iaitu kehidupan yang kekal dan abadi dimana masing-masing manusia menerima pembalasan dari perbuatan apa saja yang pernah mereka lakukan selama hidup di dunia ini. Perbuatan baik akan mendapat balasan yang baik dan perbuatan jelek akan dibalas dengan kejelekan yang berupa azab siksa yang pedih.

Yang sebenarnya banyak sekali kepercayaan-kepercayaan yang diajarkan oleh Agama Islam, tetapi yang terpenting diantaranya ialah 6 kepercayaan yang dinamai Rukun Iman iaitu percaya dengan Allah, dengan Malaikat, dengan Rasul-Rasul, dengan Kitab-Kitab Allah, dengan Akhirat dan dengan Qadha' dan Qadar. Tetapi diantara 6 pokok kepercayaan yang dinamai Rukun Iman yang tersebut diatas itu, perkara yang terpokok ialah kepercayaan terhadap Allah dan kepercayaan terhadap kehidupan di Akhirat.

Dikatakan terpokok kerana kepercayaan tersebut berulang-ulang disebut sampai berpuluh-puluh kali di dalam ayat-ayat Kitab Suci al_Quran dan Hadis-Hadis Nabi Besar Muhammad s.a.w. Sebagai contoh, sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud:-

"Barangsiapa yang beriman dengan Allah dan Akhirat, hendaklah berlaku baik terhadap tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman dengan Allah dan Akhirat, hendaklah menghormati tetamunya. Dan barangsiapa yang beriman dengan Allah dan Akhirat, hendaklah berkata baik atau diam."

Banyak dan sering sekali tersebut di dalam ayat-ayat al-Quran dan Hadis dimana Allah dan RasulNya berulang-ulang menegaskan untuk difahami dan diyakinkan oleh kita manusia bahawa kehidupan Akhirat itu adalah penghidupan yang amat penting jauh lebih penting dari kehidupan di dunia sekarang ini. Bukan saja lebih penting tetapi lebih besar, lebih lama (lebih kekal), dan satu kehidupan yang lebih baik, lebih moden dan lebih indah bagi orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan.

Didalam berpuluh-puluh ayat dan Hadis, Allah dan Rasul-Nya berulang-ulang pula menegaskan kepada kita manusia bahawa kehidupan di dunia sekarang ini dianggap satu kehidupan yang kecil, yang tidak begitu penting, satu cara hidup yang rendah, yang sempit dan yang amat terbatas.

Penghidupan di dunia ini adalah hanya merupakan satu permainan saja, sesuatu yang tidak sesungguhnya. Penghidupan di dunia ini hanya berupakan setetes air bila dibanding dengan kehidupan Akhirat yang dikatakan Rasulullah s.a.w. sebagai satu samudera luas yang tak dikenal pinggir dan dalamnya.

Perhatikan firman Allah:

"Dan tidaklah kehidupan di dunia ini kecuali hanya sebagai permainan belaka, sedang kehidupan Akhirat itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Apakah kamu tidak mahu memikirkannya?" (al-An'am:32).

Sabda Rasulullah s.a.w. :

"Perbandingan kehidupan dunia dan kehidupan Akhirat ialah seperti seorang berjalan dilaut, lalu memasukkan satu jarinya ke laut, lalu mengangkatnya, maka air yang melekat pada jari itulah dunia ini. (Sedang air masih tertinggal di lautan luas itulah kehidupan Akhirat)."

Begitulah perbandingan kehidupan dunia dan kehidupan Akhirat. Kehidupan dunia bagi masing-masing manusia umumnya hanya dalam jangka waktu antara 60 dan 70 tahun kurang atau lebih. Letaklah umpamanya ada yang berumur sejak Nabi Adam sampai Hari Kiamat yang lamanya mungkin 100 atau 200 abad, Nah! jangka waktu sekian lama itu dianggap oleh Allah amat pendek, amat kecil dan amat terbatas bila dibandingkan dengan kehidupan di Akhirat yang lamanya tak terbatas yang kekal dan abadi itu.

Alangkah ruginya kita manusia, bila dalam kehidupan yang kecil di dunia ini kita hidup senang dan bahagia, bergembira ria, tetapi dalam kehidupan di Akhirat yng kekal dan abadi, kita susah dan sengsara, terbakar hangus dalam Neraka buat selama-lamanya.

Untuk menghindarkan kita manusia dari nasib sengsara yang maha hebat itulah Allah mengutus Nabi-Nabi dan Rasul-RasulNya yang berjumlah 124 ribu orang banyaknya itu sejak Nabi Adam yang pertama sampai kepada Nabi Muhammad s.a.w. sebagai Nabi dan Rasul terakhir.

Semua mereka para Nabi dan Rasul itu telah menghabiskan segenap umur mereka, segena. tenaga dan fikiran yang ada pada mereka, segenap harta dan kemampuan yang ada pada mereka, menyerukan segenap umat manusia agar sama-sama mengimani akan Allah dan mengimani pula akan kehidupan Akhirat yang maha penting dan maha besar itu.

Sekalipun sudah demikian Allah mengutus Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul-Nya, namun masih ada diantara manusia yang belum mengimani kehidupan Akhirat itu, mereka hanya percaya hidup satu kali, iaitu hidup didunia sekarang ini saja. Kehidupan Akhirat sebagai yang diterangkan oleh seluruh Nabi dan Rasul itu, mereka anggap satu kepercayaan yang tak masuk akal sama sekali, satu dogma semata-mata atau hanya berupakan dongengan orang-orang purbakala semata.

Firman Allah:

"Dan alangkah hebatnya sekiranya engkau melihat tatkala mereka disuruh berdiri dipinggir Neraka, lalu mereka berkata menyesal: Alangkah baiknya sekiranya kami dikembalikan hidup didunia sekali lagi, kami tidak lagi akan mendustakan akan ayat-ayat Allah, dan kami akan menjadi orang-orang yang benar-benar beriman. Bahkan telah nyata bagi mereka apa yang dulunya tersembunyi (ghaib) bagi mereka. Sungguhpun begitu, sekiranya mereka dikembalikan dapat hidup sekali lagi didunia, mereka pasti kembali kafir, kembali melakukan apa yang pernah mereka lakukan. Sesungguhnya mereka itu adalah pembohong . Mereka berkata: Tidak ada kehidupan selain kehidupan di dunia ini dan tidaklah kita akan dihidupkan kembali." (al-An'am: 27-29).

Alangkah hebat dan besarnya sesal yang menimpa mereka nanti. Sesal yang tak mungkin dapat ditebus lagi kecuali dengan azab siksa Neraka. Agar manusia jangan sampai menyesal demikian rupa maka Allah mengutuskan Nabi dan Rasul-Nya. Allah turunkan Kitab-Kitab Suci-Nya yang menerangkan akan datangnya kehidupan kedua itu, iaitu kehidupan Akhirat yang tak boleh diragu-ragukan lagi kerana sudah diterang dan diajarkan oleh semua Nabi dan Rasul-Rasul-Nya.

Bersambung.....atas tajuk 'Kehidupan Akhirat Pasti Adanya Tidak Ada Keraguan Padanya'.... Nantikan....


Sunday, January 15, 2012

BERSIMPUH DALAM DOA DAN MUNAJAT...


Suatu ketika, Ibrahim b. Adham ditanya: "Mengapa kami berdoa, tetapi doa kami tidak dimakbulkan? padahal Allah berfirman: "Berdoalah kalian kepadaKu nescaya akanKu kabulkan doa kalian." "Beliau menjawab: "Kerana hati kalian mati."

"Apa yang mematikannya?" Ibrahim berkata: "Kalian tahu hak-hak Allah tetapi kalian tidak menunaikannya. Kalian telah membaca Al-Quran tetapi tidak kalian laksanakan ajaran-ajarannya. Kalian mengatakan bahawa kalian takut mati tetapi tidak mempersiapkannya."

Allah berfirman: "Sesungguhnya syaitan adalah musuh bagimu" tetapi kalian bersekongkol dengan syaitan dalam melakukan maksiat. Kalian berkata: "Kami takut neraka," tetapi kalian menganiaya diri kalian sehingga pantas masuk kedalam neraka.

Kalian berkata: "Kami ingin masuk syurga," tetapi kalian tidak berbuat sesuatu untuk mendapatkan syurga. Bila kalian bangun tidur, kalian membuang mata kalian kebelakang-belakang. Kalian suka mencari aib orang lain sehingga kalian dimurkai Tuhan, lalu bagaimana mungkin doa kalian dikabulkan?"

*************************************************************************************
Allah adalah zat yang Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang telah berfirman dalam Al-Quran:

"Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhiKu dan hendaklah mereka beriman kepadaKu agar mereka selalu berada dalam kebenaran."(QS. Al-Baqarah:186).

Kedekatan Allah kepada hambaNya adalah jaminan bahawa Dia Maha Mengetahui keinginan, perasaan, fikiran, kata-kata yang diucapkan, bisikan, bahkan apa saja yang tersembunyi dalam hati kita. Dengan demikian, Allah mendengar dan mengetahui setiap orang yang bermunajat dan berdoa kepadaNya. Inilah kurnia Allah kepada manusia dan sebagai wujud kasih sayang, rahmat dan kekuasaanNya yang tiada batas.

Dialah pemilik segala sesuatu di seluruh alam semesta. Setiap makhluk, mulai dari orang yang nampaknya paling kuat hingga orang yang terlemah dari binatang yang sangat besar hingga yang terkecil, semuanya milik Allah dan berada dalam kehendak serta pengaturanNya yang mutlak.

Bila kita meyakini kebenaran ini, maka kita boleh berdoa kepada Allah mengenai apa saja sambil meyakini bahawa Dia akan mengabulkan doa kita. Bila kita mengalami ketakutan atau kecemasan kita boleh berdoa kepada Alah agar terbebas dari ketakutan dan kecemasan itu. Begitu pula bila kita menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan maka kita boleh menghadapkan hati dan jiwa kita kepada Allah untuk menghilangkan kesulitan itu. Inilah yang telah ditekankan Rasululullah s.a.w. dalam sabdanya:

"Mahukah aku beritahukan kepadamu suatu senjata yang dapat melindungi dari kejahatan musuh dan agar rezekimu bertambah"? Mereka berkata: " Tentu sahaja wahai Rasulullah." Baginda bersabda: "Serulah Tuhanmu siang dan malam, kerana doa merupakan senjata bagi orang yang beriman."

Namun demikian, ada rahsia lain dibalik apa yang diungkapkan dalam Al-Quran yang perlu kita bicarakan dalam masalah ini sebagaimana Allah telah menyatakan dalam firmanNya:

"Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan dan manusia itu tergesa-gesa."(QS. Al-Isra': 11).

Tidak semua doa yang dipanjatkan oleh manusia bermanfaat. Misalnya seseorang memohon doa kepada Allah agar diberi harta dan kekayaan yang banyak untuk anak-anaknya kelak. Akan tetapi Allah tidak melihat adanya kebaikan dalam doanya itu. Di 'mata' Allah, kekayaan yang banyak itu justru dapat melalaikan anaknya dari Allah. Dalam hal ini, Allah pasti mendengar doa orang tersebut, menerimanya sebagai ibadah dan mengabulkannya dengan cara yang sebaik-baiknya.

Contoh lainnya, seseorang berdoa agar tidak terlambat dalam memenuhi perjanjian. Namun tampaknya lebih baik baginya jika ia sampai ditujuan setelah waktu yang ditentukan kerana ia dapat bertemu dengan seseorang yang memberikan sesuatu yang lebih bermanfaat untuk kehidupan yang abadi. Allah mengetahui masalah ini dan Dia mengabulkan doa bukan berdasarkan apa yang difikirkan orang itu, tetapi dengan cara yang terbaik. Allah pasti mendengar setiap doa tetapi jika Dia melihat tidak ada kebaikan dalam doanya itu Dia akan memberikan apa yang terbaik baginya meskipun berbeza dengan yang dimintanya. Tentu saja hal ini merupakan rahsia yang sangat penting.

Ketika doa tidak dikabulkan, banyak orang yang tidak menyedari rahsia ini, mereka mengira bahawa Allah tidak mendengar doanya. Pemahaman seperti ini adalah keliru kerana "...Allah itu lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri."(QS, Qaf : 16).

Dia maha mengetahui perkataan apa saja yang diucapkan, apa saja yang difikirkan dan peristiwa apa saja yang dialami seseorang. Bahkan ketika seseorang tertidur. Allah mengetahui apa yang ada dalam alam mimpinya. Allah adalah yang menciptakan segala sesuatu. Oleh kerana itu bila saja seseorang berdoa kepadaNya dia harus menyedari bahawa Allah akan menerima doanya pada saat yang paling tepat dan akan memberikan apa yang terbaik baginya.

Disamping sebagai bentuk amal ibadah, doa juga merupakan kurnia Allah yang sangat berharga bagi manusia kerana melalui doa Allah akan memberikan kepada manusia sesuatu yang Dia pandang baik dan bermanfaat bagi dirinya. Allah menyatakan pentingnya doa dalam sebuah ayat:

"Katakanlah: Tuhanku tidak mengindahkan kamu, andaikan tidak kerana doamu. Tetapi kamu sungguh telah mendustakanNya kerana itu kelak azab pasti menimpamu." (QS. Al-Furqan:77).

Allah pasti akan mengabulkan doa orang yang menderita dan berada dalam kesulitan kerana dengan berdoa seseorang boleh merasakan dekatnya dengan Allah. Sebagai hamba Allah, kita sangat memerlukan Dia. Kerana ketika kita berdoa, kita akan menyedari betapa lemah dan hinanya kita di hadapan Allah. Ketika berdoa , kita juga menyedari bahawa tidak seorang pun yang dapat menolong kecuali Allah.

Keikhlasan dan kesungguhan kita dalam berdoa bergantung kepada sejauh mana kita merasa memerlukan apa yang kita minta. Misalnya, ketika kita berdoa kepada Allah untuk memohon keselamatan didunia, maka doa akan lebih khusyu' ketika kita benar-benar berada dalam situasi yang gawat seperti di tengah medan pertempuran atau terancam bahaya, Allah menceritakan keadaan ini dalam sebuah ayat:

"Katakanlah: Siapakah yang dapat menyelamatkanmu dari bencana didarat dan dilaut yang kamu berdoa keoadaNya dengan berendah diri dengan suara yang lembut: Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur." (QS. Al-An'am:63)

Di dalam Al-Quran, Allah juga telah memerintahkan kita agar berdoa dengan merendahkan diri:

"Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS. Al-A'raf: 55).

Dalam ayat lainnya, Allah menyatakan bahawa Dia mengabulkan doa orang-orang yang teraniaya dan orang-orang yang berada dalam kesusahan:

"Atau siapakah yang mengabulkan doa orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepadaNya dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu sebagai khalifah di bumi? Apakah ada tuhan lain selain Allah? Sedikit sekali kamu yang memperhatikannya." (QS. An-Naml:62).

Sumber: Agar Allah Memberi Jalan Keluar.

Monday, January 2, 2012

CARA MENGUBATI SAKIT MENTAL MENURUT ISLAM...

JENIS-JENIS SAKIT MENTAL

Sebenarnya dalam diri manusia, terdiri daripada beberapa komponen yang dapat diklasifikasikan seperti berikut:-

  • Hati
  • Nafsu
  • Rohani
  • Akal
  • Jasad
Sekiranya rosak salah satu daripada komponen tersebut akan rosaklah sistem akal. Apabila akal rosak ia mengakibatkan rosaknya hati dan hati adalah punca kesihatan jasmani. Sabda Nabi Muhammad s.a.w. yang bermaksud:

"Apabila rosaknya maka rosak jasad semuanya (tubuh) dan apabila sihat jasad sihat semuanya (tubuh), iaitu hati."

Namun menurut Wan Husin Azmi (1983), kesihatan jasad berkait rapat dengan kesihatan hati iaitu rohani. Antara penyakit rohani yang sering dialami manusia ialah rasa kebimbangan dan takut iaitu takut miskin, takut mati, takut bencana dan takut malapetaka, disamping penyakit lain seperti dukacita (depression), merana, rasa bersalah (guilty), sukar buat keputusan dan terlalu panik (nervous), terperanjat dan takutkan suasana meriah atau ramai (phobia).

Jalan keluar daripada terus tenggelam dalam keadaan begini hanya ada beberapa pilihan untuk ditentukan. Rawatan melalui cara 'agama' adalah diantara rawatan yang tidak kurang pentingnya, iaitu beriman kepada Tuhan yang merupakan satu kekuatan yang luarbiasa.

Manusia sering mengalami penanggungan yang diluar kemampuannya. Menanggung keluarga yang ramai dengan ukuran saiz yang besar sementara pendapatan tidak seberapa merupakan beban yang membawa kesukaran hidup.

Anak yang belajar tanpa dibekalkan dengan kemudahan dan peralatan yang secukupnya akan menimbulkan rasa bimbang atau gelisah di hati kedua-dua ibu bapa mereka.

Kemelut hidup yang menuntut pelbagai keperluan yang tidak dapat dielakkan, boleh menjejaskan perkembangan jiwa. Ini kerana, diri mereka sentiasa tertekan, bimbang dan akhirnya ramai yang menanggung kesengsaraan batin dan berakhir dengan penyakit darah tinggi serta lemah jantung. Semua keadaan diatas menunjukkan adanya tanda takut. Takut demikian tidak dituntut oleh Islam. Menurut ilmu tasawuf, takut sebenarnya ialah melenyapkan rasa selain terhadap Allah S.W.T. Walau bagaimanapun ia tidak mungkin tercapai melainkan menyucikan hati (rohani) terlebih dahulu berdasarkan firman Allah S.W.T yang bermaksud:

"Sesungguhnya telah berbahagialah mereka yang menyucikan dirinya dan sentiasa mengingati Allah, lalu ia mengerjakan solat." (Al-A'laa: 143-15).

Berdasarkan ayat diatas itu jelaslah sekali bahawa manusia yang sihat mentalnya terlebih dahulu perlu menyucikan dirinya (takziah nafsi). Dalam jasad manusia terdapat seketul darah hitam (hati kasar) dan didalamnya pula terletaknya roh dan didalam roh itu terletaknya nur. Sementara dalam nur terdapatnya sir (keinginan) yang dipanggil aku (kawasan aku).

Allah s.w.t. berfirman yang bermaksud:

"Allah lah yang memberi cahaya kepada seluruh langit dan bumi, perumpamaan cahaya Allah seperti longgokan lampu yang di dalamnya ada pelita dan pelita itu pula di dalam sebuah kaca, kaca-kaca itu seperti bintang...hingga akhir hayat." (An-Nur:35).

Dalam masalah menyucikan hati sebagai prasyarat untuk mengembalikan kesihatan mental menurut Imam Al-Ghazali (1983), beliau telah menyentuh beberapa faktor penting untuk difahami. Bagi beliau, menyucikan diri (takziah nafsi) bererti menyuci rohani, hati, roh dan akal keseluruhannya.

Bagi mereka yang tidak menyucikan rohaninya daripada maksiat, sukar bagi mereka untuk mengatasi masalah penyakit mental kerana penyakit mental berhubung rapat dengan pembersihan diri.

Sebagai rumusannya, nyata kepada kita bahawa manusia yang sering dihantui kebimbangan dan ketakutan adalah kerana ia tidak menjadikan agama sebagai landasan kehidupannya. Oleh itu, jelas bahawa iman merupakan prasyarat dalam menghadapi pertarungan jiwa yang membelenggu kehidupan masyarakat masa kini.

'Sindrom Kurang Daya Tahan Iman' merupakan fenomena baru yang dialami oleh kebanyakan orang sehingga menimbulkan pelbagai krisis sosial. Terjadinya kes-kes seperti ketegangan, kebimbangan, kecelaruan dan kerosakan mental yang mengganggu kerasionalan minda seseorang banyak bertolak daripada kurangnya daya tahan iman.

Manusia mudah mengalah dan tersungkur di bawah arus pengaruh kesyaitanan, akhirnya berlakulah fenomena-fenomena seperti minuman keras, dadah, pelacuran, lari dari rumah (untuk menyelamatkan diri dari tekanan keluarga), buang anak, dera anak, bohsia, penyelewengan dan pelbagai lagi insiden lain yang berhubung rapat dengan kes sindrom kurang daya tahan iman itu.

Menurut Dr. Wan Husin Azmi (1983), cara untuk mengatasi masalah yang sering menekan jiwa manusia seperti kebimbangan atau takut, pergolakan jiwa dan keadaan terpinga-pinga (tidak tahu apa yang harus dilakukan) yang merupakan faktor utama kepada gangguan mental itu, adalah dengan kembali 'mengimani hanya kepada Allah s.w.t.'


Dipetik dari buku Manusia dan Personaliti.

TENTERA BERBAJU PUTIH BINGUNGKAN ISRAEL!!!


Perang di Gaza dan penindasan terhadap rakyat Palestin sekian lama di lakukan Israel, namun sehingga kini rejim Zoinis itu masih gagal menakluki Tanah Suci umat Islam itu walaupun menggunakan pelbagai senjata serba canggih berbanding para mujahidin Palestin.

Sebenarnya, banyak kisah berkaitan kebesaran Allah yang berlaku di bumi Gaza yang tidak pernah diketahui umum kecuali setelah sukarelawan bertemu sendiri para pejuang berkenaan serta para keluarga mereka yang terlibat.

Peliknya, pelbagai kejadian aneh dan ajaib ini diakui sendiri oleh tentera Israel sehingga ada yang mengatakan terdapat pasukan ghaib berbaju putih atau ‘halimunan’ di Gaza.

  • Dikatakan ada pasukan ghaib membantu para mujahidin Palestin dan ia turut diakui oleh pasukan Israel. Pada Januari 2009, askar Israel menerobos masuk ke sebuah rumah keluarga Palestin di Gaza. Anak lelaki keluarga itu ditahan. Askar Israel bertanyakan tentang ciri pakaian para pejuang al-Qassam, salah satu kumpulan mujahidin di Palestin.

Lelaki itu menjawab jujur bahawa pejuang al-Qassam mengenakan pakaian serba hitam. Jawapannya itu membuatkan tentera Israel marah dan menuduhnya penipu. Lalu lelaki itu dipukul bertalu-talu sehingga pengsan.

Selama tiga hari berturut-turut lelaki itu akan ditanya soalan yang sama dan lelaki itu tetap jujur memberi jawapan yang sama. Dan setiap kali itu juga dia akan dipukul sehinggalah akhirnya tentera Israel mengalah dengan lelaki itu dan menjerit memberitahu: “Engkau penipu!” (merujuk kepada mujahidin al-Qassam yang dilihat tentera Israel).

  • Dalam satu kisah lain pula, sebuah van ambulans dalam perjalanan ke hospital. Sekumpulan tentera Israel telah menghentikan van itu lantas bertanya kepada pemandunya adakah dia daripada kelompok Hamas atau Fatah?

“Aku bukan dari kelompok mana-mana pun. Aku seorang pemandu ambulans,” jawab pemandu itu. Lantas tentera Israel itu bertanya: “Jika begitu, siapakah pasukan berpakaian serba putih yang mengikuti kamu tadi?”

Pertanyaan tentera Israel itu membuatkan si pemandu tersebut kebingungan kerana hakikatnya, dia hanya memandu van itu berseorangan tanpa diiringi sesiapa pun.

  • Kisah ini turut disampaikan oleh khatib yang memberi ceramah di masjid dalam Wilayah Nashirat di Gaza. Ceritanya, seorang mujahidin Palestin telah menanam seunit ranjau peledak untuk menghalang kemasukan tentera Zionis Israel. Lalu dia bersembunyi untuk menjaga kawasan tersebut. Datang beberapa helikopter Israel dan menurunkan sejumlah besar pasukannya beserta kereta kebal yang berisi pelbagai senjata hebat.Melihat jumlah pasukan Israel yang besar itu, mujahidin itu merasakan ranjau yang ditanamnya tidak akan mampu memusnahkan pasukan tersebut. Impak ranjau itu terlalu kecil untuk pasukan sebesar itu. Maka dia mengambil keputusan untuk pulang semula ke markasnya.

Tetapi sebaik saja mujahidin itu mahu bangun, dia terdengar satu suara berkata: “Utsbut tsabatkallah.” Maknanya, tetapkanlah di tempatmu, maka Allah akan membantumu. Ucapan itu kedengaran sebanyak tiga kali.

Puas mujahidin itu mencari dari mana datangnya suara itu. Anehnya tiada sesiapa di sekelilingnya. Jadi siapa yang bersuara itu?

Kerana kata-kata itu, mujahidin itu duduk semula di tempat persembunyiannya. Dan ketika itulah dia melihat apabila pasukan Israel itu melalui perangkap ranjau yang dipasangnya, sesuatu yang tidak dijangka berlaku.

Peledak yang dipasangnya meletup dan kesan letupannya amat dahsyat, ibarat berpuluh peledak diletupkan sekaligus. Akibatnya, seluruh pasukan zionis itu terjejas teruk dan terpaksa pulang semula ke pengkalan mereka.

Bagaimana peledak biasa yang ditanamnya boleh berfungsi sedemikian rupa? Itulah pertolongan Allah!

  • Di daerah selatan Gaza, para mujahidin memasang peledak. Tetapi, belum sempat kabel ranjau peledak itu disiapkan, muncul beberapa pesawat peninjau Israel di udara menyebabkan para mujahidin segera bersembunyi. Tidak lama kemudian, muncul kereta perisai dan tentera Israel.

Pasukan Zionis itu berhenti di kawasan tempat para mujahidin memasang peledak tadi. Sayangnya mereka tidak dapat berbuat apa-apa kerana peledak itu tidak boleh berfungsi berikutan wayarnya yang belum disambung.

Mujahidin itu sekadar mampu berdoa yang bermaksud: Ya Allah, sebagaimana Engkau tidak memberi kesempatan kepada kami menghadapi mereka, jadikanlah mereka juga tidak memiliki kesempatan yang serupa!

Dan tidak lama kemudian, berlaku keajaiban. Berlaku satu letupan dahsyat di kawasan pasukan Israel itu yang mengorbankan ramai tenteranya hingga memaksa mereka berundur dari kawasan itu.

Setelah itu , para mujahidin datang semula kelokasi tersebut. Mereka terkejut, peledak yang mereka pasang masih utuh tidak meletup. Jadi, dari mana datangnya letupan yang berjaya mengundurkan tentera Israel tersebut?

  • Seorang lagi pejuang bercerita sewaktu dia melakukan kawalan di sempadan Gaza berseorangan. Ketika itu, dia terdengar sayup-sayup suara orang yang sedang berzikir dan beristighfar. Puas dia mencari di sekelilingnya untuk mencari dari mana datangnya suara itu sedangkan tiada sesiapa di sekelilingnya. Dan seketika barulah dia tersedar, suara-suara itu datangnya dari celah-celah batu dan pasir di sekitar nya. Subhanallah!

  • Di sebuah kawasan perumahan di Wilayah Tal islam pula, beberapa pejuang Palestin yang cedera kelihatan menangis di tepi rumah-rumah penduduk. Lantas mereka bertanya, “Mengapa kalian menangis?” Dan jawab mujahidin itu, “Kami menangis bukan kerana kami takut dengan musuh, sebaliknya kerana, bukan kami yang bertempur, ada ‘pasukan’ lain yang sedang menentang musuh kita dan kami tidak tahu dari mana mereka datang.

  • Ada juga kisah yang diceritakan sendiri oleh tentera Israel dan disiarkan di saluran televisyen Negara Yahudi tersebut. Menurut seorang bekas tenteranya, sewaktu dia sedang melakukan kawasalan di Gaza, entah dari mana muncul seorang tentera berpakaian serba putih lalu membaling pasir ke wajahnya, ketika itu juga matanya jadi buta sehingga kini.

  • Di kawasan lain di Gaza, ada tentera Israel juga bercerita, mereka berperang dengan sekumpulan pejuang berpakaian serba putih dan berjanggut panjang. Anehnya, bila ditembak, pejuang serba putih itu sedikit pun tidak cedera hingga tentera Israel menggelar pejuang itu sebagai ‘halimunan’. Siapakah tentera berbaju putih yang dimaksudkan Israel itu.

  • Jenazah seorang mujahidin bernama Musa Hasan yang syahid kerana serangan udara Israel. Sepotong kain yang terkena darah mujahidin itu masih berbau harum walaupun telah dicuci berulangkali.

  • Antara bulan Disember 2008 hingga Januari 29009, Israel melakukan pelbagai serangan yang menyasarkan golongan wanita dan kanak-kanak dengan tujuan akan berkurangnya generasi Palestin dimasa akan datang. Dalam tempoh itu, hampir seribu lima ratus nyawa terkorban. Ajaibnya, mengikut takrif yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesihatan Gaza, 3,700 bayi lahir dalam tempoh tersebut. Ibaratnya dua ribu nyawa yang dikorbankan Israel, Allah memberi empat ribu nyawa baru sebagai gantinya.

Bantulah umat Islam di Gaza. Hentikanlah penindasan Israel di bumi Palestin.

Allahuakbar!
Allahuakbar!
Allahuakbar!


Sumber : Mastika Jan 2012.



Saturday, December 31, 2011

ORANG YANG BAIK DARI KETURUNAN YANG BAIK...

Pada tahun 149 Hijrah, Syaqiq al Bakri seorang alim berangkat ke Baitullah untuk menunaikan haji. Namun di tengah perjalanan, ia berhenti sebentar di kota Qadisyiah bersama rombongannya. Dalam kesibukan di tempat peristirehatannya, Syaqiq memerhatikan orang-orang hilir mudik yang corak pakaiannya beragam.

Tiba-tiba, pandangannya tertumpu pada seorang pemuda. Wajahnya cerah bercahaya menampakkan pesona dan karisma. Padahal seluruh badannya dibalut kain guni yang kasar. kakinya pun hanya mengenakan terompah kayu. Pemuda itu duduk sendirian tersisih dari keramaian kota.

Dalam hati, Syaqiq berkata bahawa si pemuda itu pastilah berpura-pura menjadi seorang sufi. Dengan begitu, orang akan hiba melihatnya. Terlintas di hati Syaqiq untuk menguji pemuda itu. Jika tidak ketahuan, Syaqiq justeru malah akan mencela dan mengkritik tajam atas sikap berpura-pura pemuda itu.

Namun tatkala Syaqiq mendekati, tiba-tiba ia mendengar pemuda itu berkata: "Hai Syaqiq! Tidakkah kau tahu bahawa Allah s.w.t. telah berfirman dalam kitabNya yang mulia, "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak buruk sangka (terhadap orang lain) kerana setengah dari buruk sangka itu berdosa." (al-Hujarat:12).

Setelah membacakan firman itu, pemuda tersebut bangun dan beranjak dari tempatnya. Tentu saja Syaqiq tersinggung dengan perkataan pemuda tadi. Tapi, ia sendiri bingung, entah dari mana pemuda itu dapat membaca isi hatinya.

Sungguh ajaib. Dia mengetahui nama Syaqiq padahal Syaqiq sendiri sama sekali tidak pernah bertemu dengannya. Syaqiq yakin, pemuda itu salah seorang soleh yang termasyhur. Merasa ingin mengenal lebih jauh, Syaqiq segera mengejarnya dari belakang. Tapi rupanya dia lebih cepat dari Syaqiq sampai ia pun tidak lagi melihatnya.

"Kemanakah ia menghilang diantara kerumunan orang disitu?" bisiknya dalam hati. Gagal menemui pemuda tadi, Syaqiq segera melanjutkan perjalanan bersama rombongan dari Qadisyiah menuju ke Arafah. Begitu sampai disana, tanpa diduga, sekali lagi Syaqiq bertemu dengan pemuda itu. Kali ini Syaqiq melihat dia sedang khusyuk mengerjakan solat. Sementara anggota-anggota badannya bergoncangan dan air matanya mengalir.

Syaqiq terharu. Ia pun berusaha mendekati pemuda tadi dan duduk di dekatnya menunggu dia selesai solat. Syaqiq kagum, dalam hati ia berkata bahawa pemuda itu sangat khusyuk solatnya. Begitu solat selesai, pemuda itupun lalu menoleh ke arah Syaqiq dan berkata, "Hai Syaqiq, bacalah firman Allah "Dan sesungguhnya Aku (Allah) adalah Maha Pengampun kepada sesiapa saja yang kembali kepadaKu, beriman kepadaKu mengerjakan amal soleh, kemudian dia mencari jalan yang benar." (Thaha:82).

Dalam hati, Syaqiq terus merenung membaca firman tersebut. Sementara seperti biasa, kali ini pemuda tersebut telah menghilang lagi, bahkan Syaqiq sangat bermasalah mencarinya, mengingati begitu ramainya orang yang hilir mudik.

Ketika Syaqiq berada di Mina, Syaqiq sekali lagi berpeluang menemui pemuda itu di satu tempat mengambil air, Syaqiq segera mendatanginya. Ketika itu pemuda itu sedang menghulurkan bekas mengambil air dibawanya. Tanpa diduga tempat bekas air itu terlepas dari tangannya. Entah apa yang dilakukannya saat itu, pemuda itu langsung mengangkat kepalanya ke arah langit dan berdoa: "Kepada Engkau aku kembali bila aku merasakan kehausan, DaripadaMu jua kuminta makanan bila aku merasakan kelaparan. Ya Allah, Ya Tuhanku, Aku tidak punya bekas selainnya, janganlah Engkau ambil dia dari tanganku!"

Begitu selesai memanjatkan doa, ajaib, tempat air itu beransur naik seolah-olah ada mata air yang sedang mengisinya dari bawah. Pemuda itu lalu mencelupkan tangannya ke dalam tempat air tadi. Dia lalu meminum air itu sepuas-puasnya bahkan air itu boleh digunakan untuk berwuduk. Ia pun langsung menunaikan solat empat rakaat.

Selesai solat, dia lantas menggengam pasir dari tempat itu dan dibubuhkannya kedalam bekas itu dengan air yang ada di dalamnya lalu diapun meminumnya. Sungguh, Syaqiq terpesona oleh perbuatan pemuda tadi. Takjubnya bukan main terhadap apa yang telah diperbuat pemuda itu. Dia minum apa yang ada dalam bekas itu setelah membubuh segenggam pasir di dalamnya.

Syaqiq lantas memutuskan untuk mendekatinya dan berkata, "Berilah aku sedikit rezeki yang diberikan Allah kepadamu!" Syaqiq ingin tahu apa yang sebenarnya di dalam wadah yang di makannya pemuda itu. Pemuda itu pun lantas menoleh kearah Syaqiq. Namun tatapannya seolah berkata bahawa sesuatu tengah terjadi pada diri Syaqiq.

"Wahai Syaqiq! Nikmat Allah itu terlalu banyak yang diberikan pada kita, baik yang nampak mahupun tidak. Bersihkanlah hatimu dan jangan suka menduga apa-apa!"

Pemuda itu lalu memberi Syaqiq bekas itu dan Syaqiq pun meminumnya . Rasanya seperti bubur yang manis dan enak serta baunya harum pula. Syaqiq senang bukan main. Apalagi rasa bubur yang dimakannya itu lazat tak terkira.

Demi Allah, aku belum pernah merasakan bubur yang begitu lazat seumur hidupku seperti yang sedang kumakan ini. Aku terus menjamah bubur itu sampai aku merasa kenyang, bahkan rasa kenyang di perutku boleh tahan berhari-hari sampai sampai aku tidak menginginkan makanan lain saat itu," ujar Syaqiq.

Setelah kenyang dan puas, Syaqiq pun mengembalikan bekas tersebut kepada pemuda itu. Si pemuda itu pun lalu pergi. Seperti yang sudah-sudah, kali ini pun tidak kelihatan lagi batang hidungnya sampai berada di Mekah.

Pada salah satu malam di Mekah, Syaqiq sekali lagi melihat pemuda itu di pinggir kubah air zam zam. Dia sedang berdiri menunaikan solat penuh khusyuk. Rentang waktu solatnya lama sekali, hingga Syaqiq mendengar keluh kesah dan suara tangisannya yang sungguh memilukan siapa saja yang berada disampingnya.

Pemuda itupun terus solat rakaat demi rakaat sampai muncul waktu fajar barulah dia berhenti. Kemudian disambung pula dengan bertasbih dan berzikir. Tatkala waktu Subuh tiba, pemuda itu turut berjemaah dengan rombongan Syaqiq. Selepas solat Subuh, dia lalu tawaf mengelilingi Kaabah tujuh kali pusingan, kemudian dia menepikan dirinya dari tempat tawaf menuju ke suatu tempat di pinggir masjid.

Syaqiq begitu ghairah dan mengikutinya dari belakang untuk melihat apa yang akan diperbuatnya sesudah itu. Syaqiq melihat dia duduk dan orang-orang banyak mengelilinginya. Syaqiq menduga, mereka bertemu setiap tahun di sana. Sebab dalam perjalanan menuju Baitullah Syaqiq tidak melihat seorangpun dari mereka dalam rombongan.

Syaqiq lalu ikut duduk disitu mengelilinginya. Sementara orang-orang semakin ramai berdatangan membanjiri dari berbagai arah masjid itu. Rasa ingin tahu membuak dalam hati Syaqiq untuk mengetahui siapakah pemuda itu. Namun tidak terlintas sedikitpun dalam benaknya untuk bertanya siapakah gerangan dirinya.

"Wahai saudaraku, boleh aku bertanya sedikit?" Syaqiq menghampiri salah seorang yang mengerumuni pemuda itu. "Boleh."

"Siapa pemuda ini?" tanya Syaqiq. "Kau belum tahu?" Syaqiq menggelengkan kepala.

"Dia adalah Musa b. Ja'afar b. Muhammad b. Ali b. Hussain b. Ali b. Abi Thalib." jawab lelaki yang ditanya Syaqiq seraya tersenyum.

"Oh, dari keturunan Ali Zainul Abidin b. Hussain. Orang yang disebelah Syaqiq itu tersenyum seraya berkata, "Orang yang baik dari keturunan yang baik!"

Semoga Allah menurunkan rahmat dan keberkahan dari mereka sekelian serta mengurniakan manfaat bagi kita di dunia dan akhirat. Amin.


Sumber : Majalah Hidayah.


Monday, December 26, 2011

AMALAN DAN IBADAH PENYELAMAT DI HARI KEMUDIAN...

Ada sebuah hadis yang agak panjang yang menerangkan tentang hari kiamat. Nabi s.a.w. menceritakan bagaimana umatnya berdepan dengan pelbagai masalah.

Hadis tersebut menyebut bahawa daripada Abdur Rahman b. Samurah r.a. berkata: "Sekali peristiwa, Rasulullah s.a.w. keluar lalu bersabda yang ertinya: "Sesungguhnya aku telah bermimpi ajaib malam semalam. Aku telah melihat seorang dari umatku telah didatangi oleh Malaikat Maut untuk mengambil nyawanya, maka Malaikat itu telah terhalang oleh ketaatannya kepada kedua ibu bapanya."

"Aku juga telah melihat seorang dari umatku telah disediakan untuk menerima seksa kubur, maka dia telah diselamatkan oleh wuduknya."

"Aku juga melihat seorang dari umatku telah dikerumuni oleh syaitan-syaitan, maka ia telah dibebaskan dari bahayanya oleh Zikrullah."

"Aku juga melihat seorang dari umatku sedang ditimpa dahaga yang berat, setiap kali dia mendatangi sesuatu telaga, dia dihalang dari meminumnya, maka segera menjelang puasanya serta memberinya minuman hingga ia merasa puas."

"Aku juga melihat seorang umatku mengunjungi para Nabi yang ketika itu sedang duduk berkumpul, setiap kali dia mendekati mereka, dia diusir dari situ maka menjelmalah mandi junubnya sambil memimpin ke kumpulan ku seraya menunjuknya duduk disisiku."

"Aku juga melihat seorang dari umatku dikabusi oleh suasana gelap gelita, di hadapannya gelap, di kanannya gelap, dikirinya gelap, dikepalanya gelap di bawahnya juga gelap sedangkan dia dalam keadaan bingung, maka menjelmalah Haji dan Umrahnya, lalu mengeluarkannya dari suasana gelap gelita itu dan memasukkannya kedalam suasana yang terang benderang."

"Aku juga melihat seorang dari umatku berbicara dengan kaum muslimin, akan tetapi tidak seorangpun mahu membalas bicaranya, maka menjelmalah Silaturrahimnya seraya menyeru orang-orang itu katanya: "Wahai kaum mukminin, sambutlah bicaranya, lalu mereka pun bicara dengannya."

"Aku juga melihat seorang dari umatku menepis-nepis bahang api dan percikkannya dari muka nya, maka segera menjelmalah sedekahnya lalu menutupi muka dan kepalanya dari bahaya api itu."

"Aku juga melihat seorang dari umatku sedang diseret oleh Malaikat Zabaniyah kemerata tempat, maka menjelmalah amal makruf nahi mungkarnya seraya menyelamatkannya dari cengkamannya serta menyerahkannya pula kepada Malaikat Rahmat."

"Aku melihat juga seorang dari umatku sedang merangkak-rangkak, antaranya dengan Tuhannya dipasang hijab (tabir), maka menjelmalah budi pekertinya seraya memimpinnya sehingga dibuka hijab tadi dan masuklah ia kehaderat Allah s.w.t."

"Aku juga melihat seorang dari umatku terheret ke sebelah kiri oleh buku catatannya, maka menjelmalah perasaan takutnya kepada Allah lalu tertukarlah buku catatannya kearah kanan."

"Aku juga melihat seorang dari umatku terangkat timbangannya, maka menjelmalah anak-anaknya yang mati kecil lalu menekan timbangannya itu sehingga menjadi berat pula."

"Aku juga melihat seorang dari umatku sedang berdiri di pinggir Jahannam, maka menjelmalah perasaan gerunnya terhadap seksa Allah Ta'ala lalu membawa jauh dari tempat itu."

"Aku juga melihat seorang dari umatku terjerumus kedalam api neraka, maka menjelmalah air matanya yang pernah mengalir kerana takutkan Allah Ta'ala lalu menyelamatkannya dari api neraka itu."

"Aku juga melihat seorang dari umatku sedang meniti Shirat (titian) manakala seluruh tubuhnya bergoncang seperti bergoncangnya dedaun yang ditiup angin, maka menjelmalah baik sangkanya terhadap Allah Ta'ala lalu mententeramkan goncangannya itu dan mudah lah ia meniti sehingga kehujung titian."

"Aku juga melihat seorang umatku sedang meniti Shirat, kadangkala ia merangkak dan kadangkala ia meniarap, maka menjelmalah sembahyangnya menyeru kepadaku lalu aku pun memimpin tangannya dan mengajaknya berdiri dan meniti sehingga ke hujung titian itu."

"Aku juga melihat seorang umatku hampir tiba di pintu syurga dan dengan tiba-tiba pintunya tertutup maka menjelmalah penyaksiannya bahawa tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah, lalu terbukalah pintu-pintu syurga itu untuknya sehingga ia boleh memasukinya."

"Aku juga melihat ada ramai orang digunting-gunting lidahnya, maka aku bertanya Jibril a.s. siapakah gerangan mereka itu?, maka Jibril menjawab: "Mereka itulah yang suka membawa mulut kesana kemari dan aku melihat orang-orang yang digantung dengan lidah-lidahnya, maka aku bertanya Jibril, siapakah gerangan mereka itu?, maka jawab Jibril: "Mereka itulah orang-orang yang melempar tuduhan terhadap kaum muslimin, mukminin dan mukminat dengan tuduhan tanpa bukti."

Hadis ini telah disebut oleh imam as-Sayuti didalam kitabnya "Sharhus-Shudur", sambil berkata, ia telah dikeluarkan oleh at-Tabrani di dalam kitab "Al-Kabir".

Begitu pula dengan "Al Hakim", dan At-Tarmizi didalam kitab "Nawadirul-Ushul" dan al-Isfaani di dalam kitabnya "at-Tarqhib".

Saturday, December 24, 2011

KEMATIAN YANG SESUAI DENGAN DOANYA...

Petang menjelang, seperti biasa pada hari Khamis, Siti sudah mempersiapkan segalanya. Sepinggan nasi, semangkuk sayur, lauk sekadarnya serta secawan teh pun telah dihidangkan di meja makan. Rupanya menu yang disajikan hari ini sudah cukup untuk berbuka puasa nanti tatkala Azan Maghrib berkumandang.

Perempuan ini memang melakukannya sendiri, tidak meminta bantuan kepada orang lain meski pun umurnya sudah meningkat dan fizikalnya juga sudah lemah.

Dia ikhlas melakukannya. Bukan anak-anaknya tidak peduli terhadap keperluan Siti, malahan anak-anaknya seringkali menawarkan diri untuk tinggal bersama dan memenuhi keperluan sehari-hari bersama dalam keadaan seadanya.

Mohammad, anaknya yang sulung pun berkali-kali memohon agar ibunya tak perlu melakukan aktiviti tersebut dan menikmati hari-harinya berkumpul bersama keluarga, tapi Siti rupanya tidak mahu menyusahkan orang lain termasuk anak-anaknya.

Dia ingin lebih masa lapang untuk beribadah, bersolat, berzikir, membaca al-Quran dan sebagainya. Amalan begitu telah lama dilakukan sejak lama suaminya meninggal dunia, dia mengisi sisa-sisa hidupnya dengan amalan-amalan yang lebih berkah di rumah kecil yang sederhana.

Dia ingin dibuatkan pondok sendiri, agar boleh melakukan aktiviti hariannya dengan tenang. Dan rumah atau pondok itu bersebelahan dengan rumah anak sulungnya. Bagi perempuan ini, bukan harta dan kekayaan yang akan dibawa nanti ke akhirat, namun amalan-amalanlah yang nanti akan dipertanggungjawabkannya.

Dia sedar nanti di akhirat tidak ada yang boleh menolong dirinya kecuali amalan baik yang dilakukannya semasa didunia. Maka dia ingin sisa umurnya tidak disia-siakan untuk bergumul dengan persoalan duniawi yang pasti tak akan habisnya.

Dunia, menurutnya tempat bagi umat manusia untuk berlindung barang sejenak, tempat untuk mempersiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan yang lebih kekal, yakni di akhirat. Setiap hari sebahagian besar waktunya dihabiskan untuk mendapat redhaNya. Untuk mencukupi keperluan sehari-hari, dia membuat makanan ringan seperti kerepek atau jagung goreng yang dibungkus dalam plastik dan diletakkan ke beberapa gerai dan kedai terdekat.

Hal ini dilakukan setiap pagi setelah menunaikan solat Dhuha dan mengaji Quran. Hampir tak pernah dilewatkannya setiap habis solat fardhu beserta solat sunat Qabliyah dan Ba'diyahnya, dia lanjutkan dengan zikir kemudian dilanjutkan dengan membaca al-Quran.

Tradisi ini dilakukan sejak muda hingga sekarang. Kerana dia juga percaya bahawa dengan meluangkan masa dengan al-Quran boleh menghindarkan dirinya dari menjadi "nyanyuk" atau pelupa apabila usia makin tua kelak.

Setiap ada kegiatan keagamaan selalu diikutinya. Solat berjemaah Maghrib, Isyak dan Subuh disurau atau masjid, hampir tak pernah ditinggalkan kecuali ada keuzuran seperti hujan lebat atau keadaan badan yang tidak sihat.

Demikian pula solat Tahajjud juga dilakukannya setiap malam di pertiga akhir hingga Subuh tiba. Tak ketinggalan berpuasa sunat Isnin dan Khamis yang sangat dianjurkan oleh Nabi s.a.w. pun tak pernah ditinggalkannya

Perasaan Siti sudah lega kerana makanan untuk berbuka puasa sudah terhidang. Nasi, sayur, lauk serta segelas teh juga sudah terhidang di meja. Tinggal menunggu azan maghrib tiba. Biasanya saat maghrib tiba, dia akan berbuka puasa terlebih dahulu dengan meminum teh dilanjutkan dengan solat baru kemudian makan nasi.

Mengingat waktu Maghrib sedia tiba, sementara dia tak ingin menunda-nunda Solat Maghrib, maka segera dia mengambil wuduk. Dibelakang rumah Siti ada bilik mandi tertutup terbuat dari anyaman buluh. Disebelahnya, terdapat tempayan kecil yang disanggah empat batang bambu tua. Cucunyalah yang biasa membantunya mengambilkan air telaga sebelah untuk mengisi tempayan untuk mandi.

Selesai berwuduk, Siti membaca doa sambil menengadahkan kedua tangannya. Kedua matanya menatap ke langit. Kain tudung yang diselempangkan di kepala melambai tertiup angin petang. Perempuan ini tidak tahu bahawa apa yang dilakukannya adalah wuduk yang terakhir kalinya, kerana sehabis berdoa ketika kakinya hendak melangkah, dia terantuk batu dan jatuh. Dia tak sempat menjaga keseimbangan tubuhnya. Tangannya pun tak sempat berpegangan pada buloh atau bilik di sampingnya.

Baju panjang serta kain yang dipakainya pun basah oleh curahan air. Badannya membentur tanah serta batu-batu kecil. Sambil menahan rasa sakit, dia masih sempat memanggil cucunya yang kebetulan bermain bola plastik di belakang rumah. Mendengar suara orang terjatuh kemudian diikuti suara keluhan minta tolong, kedua-dua cucu Siti segera menghentikan permainannya bergegas menuju arah panggilan tersebut. Mereka terlihat embah atau nenek mereka sedang terbaring di bilik mandi.

"Astaghfirullah embah, kenapa jadi begini?" kata Yip, 15, terkejut melihat keadaan neneknya.

"Tolong...!" kata Siti merayu menahan rasa sakit kerana tubuhnya terbentur dengan tanah dan bebatuan dibilik mandi.

"Tak apa embah, kita bawa ke dalam rumah!" kata Eko.

Keduanya langsung memimpin nenek mereka dan membaringkannya diatas anjung. Segera setelah kejadian itu, mereka memberitahukan khabar jatuhnya nenek kepada ibu bapanya masing-masing.

Sejurus kemudian, sebilangan keluarga telah berkumpul. Mengetahui keadaan Siti yang tengah kepayahan anaknya bermaksud menghulurkan segelas minuman untuk membatalkan puasa Siti. Tapi Siti menolaknya dengan alasan masih puasa, dan Azan Maghrib belum tiba.

"Belum masuk Maghrib. Aku ingin puasaku penuh." jawabnya sambil terketar-ketar.

Tak lama kemudian Azan Maghrib pun berkumandang. Sementara di rumah atau pondok Siti tersebut telah berkumpul sejumlah orang, terutamanya anak-anak serta cucu-cucunya yang ingin mengetahui keadaannya yang sesungguhnya. Hati mereka was-was membayangkan hal-hal yang tak diinginkan terjadi pada Siti jatuh sedemikian rupa. Kalau dulu-dulunya pernah sakit demam, biasanya pening-pening atau sengal-sengal saja atau masuk angin.

Itupun cukup ditempel koyok saja atau minum ubat dibelinya dari gerai berdekatan. Dan demam yang dirasakannya pun lambat laun segera menghilang. Tapi kali ini, lain dari yang sudah-sudah. Rasa cemas dan khuatir mulai menyelimuti keluarga. Mereka berusaha menyedarkan Siti. Sekali lagi mereka menyuakan segelas minuman untuk mengisi perutnya yang kosong setelah seharian berpuasa. Si ibu hanya memberi isyarat, tak keluar kata-kata dari mulutnya.

Matanya memang masih mampu menatap anak-anak dan cucunya yang petang itu hampir berkumpul semua di rumahnya. Namun rasanya tenaganya awal Maghrib itu sudah jauh berkurang, untuk menggerakkan badan pun sangat berat dan susah. Dia tawakkal kepada Allah s.w.t.

Dari raut mukanya seakan megatakan, "Ya Allah, kalau pun saat ini juga Engkau memanggilku, aku siap menghadapMu. Akan tetapi jika masih diberi umur panjang, aku bersyukur mungkin masih ada waktu untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan bekal saat menghadapMu nanti."

Sesungguhnya keluarganya berharap keadaan Siti menjadi lebih baik. Tapi yang terjadi sebaliknya. Reaksinya terhadap orang sekitar semakin menurun. Untuk bercakap saja sudah tak mampu hanya gerakan tangan dan isyarat matanya sahaja.

Anak-anaknya pun hanya mampu memicit-micit atau mengurut-ngurut tubuhnya barangkali rasa sakit setelah jatuh tadi boleh berkurangan. Namun rupanya Malaikat pencabut nyawa telah mencatat bahawa malam ini juga akan mengambil nyawa Siti. Sementara keluarga juga tak mampu lakukan apa-apa, kecuali mendoakan agar ibu mereka diberikan kemudahan dalam segalanya.

Seluruh keluarga juga hanya mampu pasrah kalau kini ibu mereka yang sekaligus menjadi teladan kepada mereka sudah tidak ada lagi.

Waktu terus berdetik, perempuan tua yang terbaring di atas anjung rumah itu akhirnya menghembuskan nafas terakhir. Siti meninggal pada hari Khamis malam Jumaat tahun 1993. Kini peribadinya yang selama ini menjadi teladan bagi anak-anak sepeninggalan ayah mereka telah kembali ke Rahmatullah dalam keadaan tenang.

MASA HIDUPNYA...

Menurut cucunya Yip, Siti termasuk orang tua yang mengajarkan kesederhanaan dan tidak suka menunjuk-nunjuk. Prinsip hidup untuk mengabdi kepada Allah Maha Pencipta tampaknya menjadi pegangan kukuhnya.

Hari-harinya penuh dengan bekerja, bergaul dengan masyarakat serta beribadah. Dia tak ingin menggantungkan kepada orang lain, termasuk anak-anaknya sendiri meskipun keadaan fizikalnya sudah lemah dalam soal memenuhi keperluannya sendiri.

Siti juga faham bahawa orang tak mampu hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Dia juga ramah kepada sesiapapun dan cuba tidak membuat masalah dengan mereka. Baginya kenikmatan dan anugerah yang telah diberikan oleh Allah kepadanya haruslah disyukuri. Bagaimana cara mensyukurinya...Ya... dengan menunjukkan ketaatan kepada Allah menjalankan apa-apa yang diredhaiNya dan meninggalkan semua yang menjadi kemurkaanNya.

Dia selalu ingat bahawa manusia diciptakan hanyalah untuk mengabdikan diri kepada Allah, bukankah Allah s.w.t. telah berfirman, "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (Az-Zariyat:56).

Keadaan embah atau neneknya itu sangat sederhana, dia menyara dirinya dengan sumber yang terrbatas. namun itu tidak membuatnya pernah mengeluh. Menurut Yip, justru kemiskinan hidup dijadikannya penyebab untuknya semakin mendekatkan diri kepada Allah. Bahkan di setiap kesempatan, dia memanjatkan doa agar diberi kemudahan saat menghadap kepada Illahi Rabbi. Dia sering berucap kepada anak-anaknya dan tetangga agar dirinya meninggal dalam keadaan yang baik, mudah dan tak mahu menyusahkan orang lain.

Harapan itu rupanya didengar dan dikabulkan oleh Allah s.w.t. Siti meninggal dunia pada hari Khamis malam Jumaat dalam keadaan suci selepas berwuduk dan setelah menyelesaikan puasa sunat Khamis.

"Dia juga berpesan kepada cucunya agar kelak sudi dibacakan surah Yassin dan Al-Mulk apabila dia meninggal dunia kelak." ujar Yip.

Sementara Mohammad, anak tertua dari Siti, meminta kepada keluarga dan saudara-saudaranya untuk mengikhlaskan kepergiannya. Jasadnya mungkin telah tiada, namun dia meninggalkan jejak-jejak dan pelajaran baik yang boleh diteladani.

Kesederhanaan, sikap tawadduk, kesolihan serta pesanan-pesanannya agar tidak terlalu berlebihan dalam memandang dunia, kerana dunia hanyalah sementara dan kehidupan yang sesungguhnya yang lebih kekal adalah kehidupan di akhirat.

Mudah-mudahan ia diterima di sisiNya dan mendapat kerahmatan. Amin...


Sumber : Majalah Hidayah.