Saturday, January 30, 2021

HIKAYAT 1001 MALAM EPISOD 34 - 40...

 EPISOD 34 : KEDATANGAN KHALIFAH

Malam berikutnya Dinarzad berkata kepada kakaknya, Syahrazad, "Kak, jika engkau belum mengantuk, teruskanlah ceritamu yang indah dan aneh itu!" Syahrazad menyahut, "Dengan senang hati."

Hamba mendengar, wahai sang Raja, para sufi itu, yang telah terpengaruh dengan minuman anggur, minta diambilkan alat-alat musik. Si penjaga pintu membawakan mereka sebuah rebana, sebuah suling dan sebuah alat musik Parsi. Sufi-sufi itu bangkit, masing-masing mengambil alat-alat musik itu dan mula memainkannya dan menyanyi, hingga gadis-gadis itu pun turut bernyanyi bersama mereka dengan suara yang sangat keras. Ketika mereka sedang bermain musik dan bernyanyi, mereka mendengar ketukan di pintu. Si penjaga pintu pergi untuk melihat apa yang terjadi.

Nah, penyebab dari ketukan itu, adalah pada malam itu juga Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Jaafar   datang ke kota itu, sebagaimana yang biasa mereka lakukan sekali-sekala. Ketika mereka sedang berjalan-jalan, mereka melewati pintu itu dan mendengar musik yang berasal dari suling dan rebana serta nyanyian gadis-gadis itu, juga suara orang-orang yang seolah-olah sedang berpesta dan tertawa riang. Sang Khalifah berkata, "Jaafar, aku ingin masuk ke rumah itu dan mengunjungi orang-orang di dalamnya."

Jaafar menyahut, "Wahai Pemimpin Kaum Beriman, mereka ini adalah orang-orang yang sedang mabuk dan yang tidak mengenali siapa kita. Hamba khuatir mereka mungkin akan menghina kita dan bersikap kasar terhadap kita kerana tidak mengenali kita."

Sang Khalifah menjawab, "Jangan membantah. Aku harus masuk dan aku mempunyai alasan supaya kita dapat masuk."

Jaafar menyahut, "Hamba mendengar dan patuh"

Lalu Jaafar mengetuk pintu. Ketika si penjaga pintu datang dan membuka pintu, Jaafar melangkah maju, mencium tanah di hadapannya dan berkata, "Wahai tuan, kami adalah pedagang-pedagang dari kota Mosul, dan kami telah berada di Baghdad selama sepuluh hari. Kami telah membawa serta barang-barang dagangan kami dan menginap di sebuah rumah penginapan. Malam ini seorang pedagang dari kota tuan menjemput kami ke rumahnya dan menawarkan kami makanan dan minuman. Kami minum dan bersenang-senang dan menjemput sekelompok pemusik dan gadis-gadis penyanyi dan menjemput kawan-kawan kami lainnya untuk bergabung dengan kami. Mereka semua datang dan kami bergembira-ria, mendengarkan gadis-gadis itu meniup seruling, memukul rebana dan bernyanyi. Tetapi ketika kami sedang bersenang-senang, ketua polisi menyerang tempat itu, dan kami berusaha melarikan diri dengan melompat dari dinding. Sebahagian dari kami ada yang patah tangan dan kakinya dan ada pula yang ditahan untuk disoal siasat, sementara sebahagian yang lain berjaya melarikan diri dengan selamat. Kini kami datang untuk mencari perlindungan di rumah tuan, sebab sebagai orang-orang asing di kota tuan, kami khuatir jika kami terus berjalan di jalanan, polis akan menangkap kami. Jika kami masuk ke rumah penginapan, kami akan terkunci di luar, sebab telah menjadi peraturan di sana, bahawa penginapan itu tidak akan dibuka hingga matahari terbit.

Ketika kami melewati rumah tuan, kami mendengar suara musik dan keributan sebuah pesta dan berharap agar tuan bermurah hati untuk membiarkan kami ikut menikmati sisa malam, walaupun kami harus membayarnya. Jika tuan menolak kami, biarkanlah kami tidur di lorong sempit hingga pagi, dan Tuhan akan memberi pahala kepada tuan. Kami menyerahkan masalah ini pada tuan yang bermurah hati dan keputusannya tergantung tuan, tetapi kami tidak akan pergi dari pintu tuan."

Setelah si penjaga pintu mendengar apa yang dikatakan Jaafar, memandaag pakaian mereka, dan melihat bahawa mereka wajar dihormati, dia kembali menjumpai saudara-saudaranya dan mengulangi kisah Jaafar. Gadis-gadis itu merasa kasihan pada mereka dan berkata, "Biarkan mereka masuk," dan dia menjemput mereka untuk masuk

Ketika sang Khalifah, bersama dengan Jaafar dan *Masrur memasuki ruangan, semua orang termasuk gadis- gadis, para sufi dan pemuda tersebut bangkit untuk menyambut mereka, kemudian mereka duduk kembali....

Tetapi fajar menyingsing, dan Syahrazad menghentikan ceritanya. Lalu adiknya berkata, "Kak, alangkah indah dan menariknya kisah itu!" Syahrazad menyahut, "Ini belum apa- apa jika dibandingkan dengan apa yang akan kuceritakan kepadamu esok malam, jika sang raja mengizinkanku membiarkan aku hidup."

 *Masrur : Seorang yang berkulit hitam, pengawal peribadi Khalifah Harun Ar-Rasyid.

*********************************

­­­­­­­­­­­­­­­­­EPISOD 35 : KISAH DUA EKOR ANJING

Malam berikutnya Dinarzad berkata kepada kakaknya, Syahrazad, "Kak, jika engkau belum mengantuk, teruskanlah ceritamu yang indah dan aneh itu!" Syahrazad menyahut, "Dengan senang hati."

Dikisahkan, wahai sang Raja, ketika sang khalifah bersama dengan Jaafar dan Masrur masuk dan duduk, gadis itu menatap mereka dan berkata, "Tuan-tuan diterima dengan senang hati, dan kami gembira menjadikan tuan-tuan sebagai tamu kami, tetapi dengan syarat-syarat."

Mereka bertanya, "Apakah syarat tuan?"

Gadis itu menjawab, "Bahawa tuan boleh melihat tetapi tidak boleh berbicara dan tidak boleh menanyakan apa pun yang tuan saksikan. Tuan tidak boleh membicarakan apa yang tidak ada hubung kaitnya dengan diri tuan; kalau tidak, maka tuan akan mendengar apa yang tidak akan menyenangkan hati tuan."

 Mereka menyahut, "Ya, sekehendak tuan, sebab kami tidak merasa perlu ikut campur."

Setelah puas dengan penjelasan mereka, gadis-gadis itu duduk menghibur mereka, minum dan bercakap-cakap dengan mereka. Sang Khalifah merasa hairan ketika melihat ketiga sufi itu, yang masing-masing mata kanannya buta. Lebih-lebih lagi Khalifah merasa hairan melihat gadis-gadis dengan kecantikan, daya tarik dan kemurahan hatinya, berada di sebuah tempat yang begitu indah, dengan sekelompok pemusik yang terdiri dari tiga orang sufi bermata satu. Tetapi dia merasa bahawa pada saat itu dia tidak dapat mengajukan pertanyaan apa pun.

Mereka terus berbincang-bincang dan minum, kemudian para sufi itu bangkit, membungkuk, dan kembali memainkan musik lalu mereka duduk dan mengangkat cangkir itu berkeliling. Ketika anggur itu telah menunjukkan pengaruhnya, tuan rumah bangkit, membungkuk, dan sambil menggandeng tangan si gadis yang berbelanja, ia berkata, "Saudaraku, mari kita lakukan tugas kita."

Kedua saudaranya menyahut, "Baiklah."

Si penjagapintu bangun, membersihkan meja, membuang sisa makanan dan kotoran, mengisi kemenyan dan membersihkan ruangan itu. Lalu dia menyuruh sufi-sufi itu duduk di atas sebuah sofa pada satu sisi ruangan, dan mengarahkan sang Khalifah, Jaafar dan Masrur duduk pada sofa lainnya. Lalu dia berteriak kepada si pemuda, "Engkau sangat malas. Bangunlah dan bantu kami, sebab engkau menjadi anggota rumah tangga ini."

Si pemuda bangun dan sambil mempersiapkan dirinya, ia bertanya, "Ada apa?"

Gadis itu menjawab, "Berdirilah di tempatmu."

Lalu si gadis yang berbelanja meletakkan sebuah kerusi di tengah-tengah ruangan, membuka sebuah lemari dan berkata kepada si pemuda, "Ke sinilah dan bantu aku."

Ketika si pemuda mendekat, dia melihat dua ekor anjing pemburu betina berwarna hitam dengan rantai di lehernya di dalam sebuah lemari. Gadis itu mengeluarkan anjing tersebut dan menuntunnya ke tengah-tengah ruangan. Sambil mengatakan, "Inilah saatnya melakukan tugas kami," si tuan rumah maju, menggulung lengan bajunya, mengambil cambuk anyaman, dan memanggil si pemuda, "Bawakan aku salah seekor anjing itu."

Si pemuda mengheret salah seekor anjing itu pada rantainya dan membawanya maju, sementara haiwan tersebut meratap dan menggeleng-gelengkan kepalanya ke arah gadis itu. Ketika si pemuda berdiri memegang rantai, si gadis mendatangi anjing itu dengan cambukan keras pada pinggangnya, sehingga haiwan tersebut meraung dan meratap. Si gadis terus mencambuki anjing itu sampai tangannya letih. Lalu dia berhenti, melempar cambuk itu, dan sambil meminta rantai dari si pemuda, memeluk anjing itu dan mulai menangis. Anjing itu pun mulai menangis, hingga keduanya menangis bersama dalam waktu yang cukup lama. Lalu gadis itu mengusap air mata si anjing dengan sapu tangannya, mencium kepalanya dan berkata kepada si pemuda, "Bawalah dia kembali ke tempatnya, dan bawakan aku anjing yang satu lagi."

Si pemuda membawa binatang itu ke lemari dan mengeluarkan anjing yang seekor lagi kepada gadis itu, yang memperlakukannya sebagaimana dia memperlakukan terhadap anjing yang pertama tadi, mencambukinya hingga pengsan. Lalu dia mengambil anjing itu, menangis bersamanya, mencium kepalanya, dan menyuruh si pemuda membawanya kembali pada saudaranya, dan si pemuda membawanya kembali.

Ketika orang-orang yang berada di situ melihat apa yang terjadi, bagaimana gadis itu mencambuki anjing tersebut hingga si anjing pengsan, dan bagaimana dia menangis bersama anjing itu dan mencium kepalanya, mereka benar-benar hairan dan mulai berbicara dalam hati masing-masing. Sang Khalifah sendiri merasa terganggu perasaannya dan kehilangan kesabaran ketika dia terbakar oleh rasa ingin tahu untuk mengetahui kisah tentang kedua anjing itu. Dia melirik kepada Jaafar, tetapi Jaafar berbicara dengan isyarat,

"Ini bukan waktunya untuk bertanya."

Ketika gadis itu selesai menghukum kedua anjing tersebut, si penjaga pintu berkata kepadanya, "Tuan puteriku, pergilah duduk di dipanmu, sehingga pada giliranku, aku dapat memenuhi hasratku."

Sambil berkata, "Baiklah," gadis itu pergi ke hujung ruangan dan duduk di atas dipan, dengan sang Khalifah, Jaafar, dan Masrur duduk berdampingan di sebelah kanannya dan para sufi serta pemuda itu di sebelah kirinya. Walaupun lampu-lampu menyala, lilin-lilin dibakar dan kemenyan memenuhi tempat itu, orang-orang itu merasa tertekan dan menyedari bahawa malam mereka telah terganggu. Lalu si penjaga pintu duduk di atas kerusi…

Tetapi fajar menyingsing, dan Syahrazad menghentikan ceritanya. Lalu Dinarzad berkata kepada kakaknya, "Kak, betapa aneh dan menariknya kisah itu!" Syahrazad menyahut, "Ini belum apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang akan kuceritakan kepadamu esok malam, jika aku masih hidup!"

 *****************************************************

EPISOD 36 : GADIS YANG MEMAINKAN KECAPI

Malam berikutnya, ketika sang raja telah bermesra dengan Syahrazad, Dinarzad berkata, "Kak, jika engkau belum mengantuk, ceritakan kepada kami salah satu ceritamu yang indah untuk mengisi malam." Syahrazad menyahut, "Dengan senang hati."

Hamba mendengar, wahai sang Raja, si penjaga pintu duduk di atas kerusi dan berkata kepada saudaranya si gadis yang berbelanja, "Bangunlah dan berikan hakku."

Gadis itu bangkit, memasuki sebuah bilik dan segera kembali dengan membawa sebuah beg dari kain kuning dengan dua helai sutera berwarna hijau yang dihiasi dengan emas merah dan dua biji ambergris asli. Dia duduk di depan si penjaga pintu, mengeluarkan alat musik sejenis kecapi dari beg itu, dan dengan satu sisi kecapi melekat di atas lututnya, dia memegang kecapi di atas pangkuannya. Kemudian dia memainkan kecapi itu dan, sambil menariknya dengan jari-jemarinya, ia mulai memainkannya dan menyanyikan syair berikut ini:

Cintaku, engkaulah tujuan hidupku,
Dan engkaulah hasratku.
Bersamamu adalah kegembiraan ahadi.
Ketidakhadiranmu, api neraka.
Engkaulah kegilaan hidupku,
Satu-satunya berahiku,
Suatu cinta yang tak kenal malu,
Suatu pemujaan tak bercela.
Baju kesedihan yang kupakai
Mengungkapkan nafsuku yang tersembunyi,
Menghancurkan hatiku yang tergerak
Dan meninggalkanku dalam kebingungan.
Air mataku pada semua orang menyatakan cintaku.
Sebagaimana di atas pipiku mereka mengalir,
Air mataku yang curang menghancurkanku
Dan seluruh rahsiaku terbongkar.
Wahai, sembuhkan aku dari penyakitku yang mematikan;
Engkaulah penyakit dan ubatnya,
Tetapi dia yang kau obati akan lebih menderita lagi.
Matamu yang cemerlang telah menyia-nyiakan diriku,
Rambutmu yang hitam legam telah memperhambaku,
Pipimu yang kemerahan telah menaklukkanku
Dan menceritakan kisahku pada semua orang.
Penderitaanku adalah kesyahidanku,
Pedang cinta, kematianku.
Betapa sering orang yang paling baik
Menghentikan nafas mereka dengan car a ini?
Aku tidak akan berhenti mencintaimu,
Atau membuka apa yang tertutup.
Cinta adalah hukum dan ubat bagiku,
Entah tersembunyi entah terbuka.
Terpujilah mataku yang menatapmu,
Wahai pengungkapan yang mulia;
Yang telah meninggalkanku
dalam kebingungan, kesendirian,
Dalam pemujaan yang sia-sia. 

Ketika gadis itu selesai dengan sajaknya, saudaranya menjerit keras dan meratap, "Oh, oh, oh!" Lalu dia menarik bajunya dan merobeknya, menelanjangi seluruh tubuhnya, dan jatuh pengsan. Ketika sang Khalifah memandangnya, dia melihat bahawa seluruh tubuhnya, mulai dari kepala hingga tumitnya, menunjukkan tanda-tanda hitam bekas cambukan. Kerana menyedari keadaan si gadis dan tidak tahu apa yang menyebabkannya begitu, sang Khalifah merasa terganggu, lalu dia berkata kepada Jaafar, "Demi Tuhan, aku tidak mahu menunggu sesaat pun hingga aku mengerti betul masalah ini dan minta penjelasan atas apa yang telah berlaku, mulai dari pencambukan gadis itu, pencambukan ke atas kedua anjing tadi, kemudian tangisan dan ciuman itu."

Jaafar menyahut, "Tuanku, kini bukan waktunya untuk meminta penjelasan, terutama kerana mereka telah mengajukan syarat kepada kita bahawa kita tidak boleh membicarakan apa yang tidak berkaitan dengan kita, sebab sesiapa yang membicarakan apa yang tidak berkaitan dengan dirinya, akan mendengar apa yang tidak akan menyenangkan hatinya."

Kemudian si gadis yang berbelanja bangkit dan, setelah memasuki sebuah bilik, membawa keluar sebuah baju indah yang dipakaikannya pada saudaranya, menukarkan baju yang telah dirobek saudaranya, dan duduk. Gadis itu berkata kepada saudaranya, "Demi Tuhan, berilah aku minuman lagi," dan saudaranya mengambil cangkir, mengisinya, dan menyerahkannya padanya. Lalu ia memegang kecapi itu di pangkuannya, mencuba sejumlah nada, dan menyanyikan sajak berikut ini:

Jika aku menangisi kepergianmu, apa yang akan kau katakan?
Jika aku didera rindu, jalan mana yang kutempuh?
Jika aku mengirim seseorang untuk menceritakan kisahku,
Keluhan sang kekasih tak seorang pun dapat menyampaikan.
Jika aku dengan sabar berusaha menahan deritaku,
Setelah kehilangan cinta,
tak dapat kutahan hentaman itu.
Tiada yang tinggal kecuali kerinduan dan penyesalan
Dan air mata yang mengalir deras di pipi.
Engkau, yang telah lama menghilang dari pandanganku,
Dalam hatiku yang penuh cinta akan tinggal selamanya.
Engkaukah itu yang telah mengajariku bagaimana bercinta,
Dan janji cinta tak pernah menyimpang?

Ketika saudaranya menyelesaikan lagunya, gadis itu berseru, "Oh, oh, oh!" dan, masih dikuasai oleh perasaannya, sekali lagi ia menarik bajunya hingga robek. Lalu dia menjerit dan jatuh pengsan. Sekali lagi si gadis yang berbelanja memasuki bilik dan keluar dengan baju yang lebih indah lagi daripada sebelumnya. Lalu dia memerciki wajah saudaranya dengan air mawar, dan ketika saudaranya sedar, dia memakaikan baju itu padanya. Lalu saudaranya berkata, "Demi Tuhan, saudaraku, selesaikanlah tugasku ini, sebab hanya tinggal satu lagu ini saja."

"Dengan senang hati," sahut saudaranya, dan dia mengambil kecapi itu dan mulai bermain dan menyanyikan syair berikut ini:

Berapa lama aku harus menahan kehinaan yang kejam ini?

Tidakkah aku cukup membayarnya
dengan air mata dan ratapan?
Untuk berapa lama penderitaan ini sengaja kau abaikan,
Seakan-akan ia seorang musuh
yang penuh dendam dan iri hati?
Berhati-hatilah!
Cara-cara jahatmu mendatangkan derita pahit,
Tuan, kali ini tunjukkan belas kasihmu.
Wahai tuan, tuntutlah rasa cinta ini,
Yang kini tak kenal tidur atau sabar.
Adakah itu hukum cinta yang dinikmati cintaku,
Sementara aku sendiri pergi dengan tangan hampa?
Tuanku, biarkan dia menjadi rajaku yang tak adil;
Banyak kesukaran dan cubaan yang kualami,
Mungkin esok akan bertambah sukar
atau sebaliknya,
terserah kepada takdir
kurenungi nasib diriku yang lemah
Ketika dia selesai menyanyikan lagu itu.

Tetapi fajar menyingsing, dan Syahrazad menghentikan ceritanya. Lalu Dinarzad berkata, "Kak, alangkah menghairankan dan menariknya kisah itu!" Syahrazad menyahut, "Esok malam aku akan menceritakan kepadamu sesuatu yang lebih aneh, lebih menghairankan dan lebih menarik, jika sang raja mengizinkanku dan membiarkan aku hidup!"

 ***********************************************

EPISOD 37 : TUJUH ORANG LELAKI HITAM

Malam berikutnya, ketika sang raja telah bermesra dengan Syahrazad, Dinarzad berkata, "Kak, jika engkau belum mengantuk, ceritakan kepada kami salah satu ceritamu yang indah untuk mengisi malam." Syahrazad menyahut, "Dengan senang hati."

Dikisahkan, wahai sang Raja, ketika gadis itu mendengar lagu ketiga, dia berseru, "Demi Tuhan, ini bagus." Lalu dia menarik bajunya dan merobeknya, dan ketika dia jatuh pengsan. dia menunjukkan pada dadanya tanda-tanda hitam dan biru akibat cambukan. Para sufi itu bergumam, "Kami berharap tidak pernah memasuki rumah ini, dan lebih suka melewatkan malam di atas tumpukan sampah di luar kota, sebab kedatangan kami telah dikotori oleh pemandangan yang begitu mengganggu perasaan."

Sang Khalifah menatap mereka dan bertanya, "Bagaimana boleh begitu?"

Mereka menyahut, "Wahai tuan yang terhormat, fikiran kami dikacaukan oleh masalah ini."

Khalifah bertanya, "Tetapi kalian adalah anggota rumah tangga ini; barangkali kalian dapat menjelaskan padaku kisah tentang dua ekor anjing dan gadis-gadis ini."

Mereka menyahut, "Demi Tuhan, kami sama sekali tidak mengetahui dan kami tidak pernah melihat tempat ini sebelumnya."

Dengan penuh kehairanan, Khalifah berkata, "Kalau begitu orang yang duduk di sampingmu ini mestinya mengetahui perkara ini."

Mereka mengalihkan pandangan kepada si pemuda, untuk menyoalnya. Tetapi pemuda itu menyahut, "Demi Tuhan Yang Maha Besar, dalam cinta semuanya sama, sebab meskipun saya dibesarkan di Baghdad, belum pernah seumur hidup saya memasuki rumah ini hingga hari ini. Saya memang melewatkan hari yang menakjubkan dengan mereka. Walaupun begitu, saya tetap tertanya-tanya bagaimana keadaan mereka, semua wanita ini, hidup tanpa lelaki."

Mendengar itu para sufi berkata kepada pemuda itu, "Demi Tuhan, kami anggap engkau sebagai salah satu dari mereka, tetapi kini kami mengetahui bahawa engkau berada dalam kesukaran yang sama dengan kami."

Kemudian Khalifah berkata, "Ditambah dengan Jaafar dan Masrur, kita adalah lelaki bertujuh, sedangkan mereka wanita hanya bertiga tanpa ada seorang lelaki pun. Marilah kita minta penjelasan kepada mereka; jika mereka tidak mahu menjawab dengan suka rela, mereka akan menjawab kerana terpaksa."

Mereka bersetuju untuk melaksanakan rancangan itu, tetapi Jaafar berkata, "Ini tidak benar; biarkan saja mereka, sebab kita menjadi tamu mereka dan, sebagaimana tuan-tuan ketahui, mereka telah menetapkan satu syarat yang harus dipatuhi. Lebih baik kita tetap berdiam diri mengenai hal ini, sebab malam tinggal sebentar lagi, dan segera kita akan mengambil jalan sendiri-sendiri."

Lalu Jaafar menujukan pandangannya kepada sang Khalifah dan berbisik padanya, "Wahai Pemimpin Kaum Beriman, bersabar- lah selama satu jam terakhir malam ini, dan esok pagi hamba akan datang kembali dan membawa mereka ke hadapan Paduka untuk menceritakan kisah mereka."

Tetapi sang Khalifah berteriak padanya, "Jahanam kau, aku tidak dapat lagi menunggu untuk mendapatkan penjelasan tentang

mereka. Biarkan para sufi itu menyoal mereka."

Jaafar menyahut. "Ini bukan gagasan yang baik." Lalu mereka bercakap-cakap beberapa lama dan mempermasalahkan siapa yang pertama-tama harus mengajukan soalan. Akhirnya mereka semua setuju si pemudalah yang harus maju. Ketika gadis-gadis itu mendengar keributan mereka, salah seorang dari mereka bertanya, "Tuan-tuan, apa yang terjadi?"

Si pemuda mendekatinya dan berkata, "Tuan puteriku, tuan- tuan ini mengungkapkan keinginan mereka agar kalian menceritakan kisah tentang kedua anjing hitam itu dan mengapa engkau menghukum mereka dan kemudian meratapi mereka. Mereka juga ingin mengetahui kisah saudaramu dan bagaimana kejadiannya sehingga tubuhnya terkena luka cambukan, seperti seorang lelaki. Itulah semuanya; itulah yang ingin mereka ketahui."

Sambil berpaling kepada mereka, gadis itu bertanya, "Benarkah apa yang dikatakan pemuda ini tentang tuan-tuan?"

Mereka semua menjawab, "Ya," kecuali Jaafar yang tinggal diam dan tidak menjawab sepatah kata pun. Ketika gadis itu mendengar jawaban mereka, dia berkata, "Wahai tamu-tamuku, kamu semua telah menyalahi kami. Bukankah kami telah mengemukakan pada tuan-tuan syarat-syarat kami, bahawa siapa yang membicarakan apa yang tidak berkaitan dengan dirinya, akan mendengar apa yang tidak akan menyenangkan hatinya. Kami membawa tuan-tuan ke dalam rumah kami dan menyediakan makanan untuk tuan-tuan, tetapi tuan-tuan ikut mencampuri urusan kami dan menyalahi kami. Walaupun demikian kesalahan tuan-tuan tidak sebesar kesalahan pemuda ini yang membiarkan kalian masuk dan membawa kalian kepada kami."

Lalu gadis-gadis itu menggulung lengan bajunya dan menghentakkan lantai tiga kali sambil berteriak, "Segeralah keluar," dan sebuah pintu terbuka, maka keluarlah tujuh orang lelaki hitam, dengan pedang terhunus di tangan mereka. Lalu dengan gagang pedang, setiap lelaki hitam itu memukul salah seorang tamu hingga terjatuh dengan wajahnya menghadap lantai, dan dalam sekejap mata ketujuh tamu itu telah diikat tangannya dan diikat satu sama lainnya. Kemudian mereka mengheret para tamu tersebut berbaris menuju ke tengah-tengah ruangan. Masing- masing lelaki hitam itu berdiri dengan pedang terhunus di atas kepala tamunya. Kemudian mereka berkata kepada si gadis, "Wahai tuan puteri yang paling terhormat dan paling berbudi, izinkan kami memenggal kepala mereka."

Gadis itu menjawab, "Tunggu sebentar sampai aku menyoal mereka, sebelum engkau memenggal kepala mereka."

Si pemuda berseru, "Tuhan melindungiku. Wahai tuan puteri, jangan membunuhku kerana kesalahan orang lain. Semua orang ini telah membuat kesalahan dan melawan, kecuali aku. Demi , Tuhan, kita telah mengalami hari yang menyenangkan. Kalau saja kita dapat membebaskan diri dari para sufi bermata satu ini, yang kedatangannya ke setiap kota mendatangkan kutukan padanya, menghancurkannya, dan menjadikannya puing!" Lalu dia mulai meratap dan mengumandangkan sajak berikut ini:

Adillah ampunan dari orang-orang besar,
Dan yang paling adil,
jika ampunan ini diberikan kepada yang paling lemah.
Jangan putuskan persahabatan yang pertama
demi yang terakhir,
Dengan ikatan cinta yang telah tumbuh di antara kita.

Si gadis, walaupun sedang marah, tertawa dan sambil mendatangi tamu-tamunya itu, ia berkata, "Katakan padaku siapa kamu, sebab kamu hanya mempunyai waktu satu jam untuk hidup. Jika kalian bukan tokoh terkemuka di kalangan masyarakat-atau penguasa yang kuat, pasti kalian tidak akan berani menyalahi kami."  

Khalifah berkata kepada Jaafar, "Celaka engkau! Katakan padanya siapa kita, sebab silap sedikit saja kita akan terbunuh!"

Jaafar menyahut, "Inilah bahagian yang patut kita terima."
Sang Khalifah berteriak padanya, "Kini bukan waktunya engkau melucu."
Lalu gadis itu mendekati para sufi dan berkata, "Apakah kamu bersaudara?"
Mereka menjawab, "Demi Tuhan, wahai gadis, kami tidak bersaudara, juga kami bukan kaum faqir."
Lalu gadis itu menyoal salah seorang di antara mereka, "
Apakah engkau dilahirkan buta sebelah?"

Sufi itu menjawab, "Tidak, demi Tuhan, tuan puteri. Adalah suatu kejadian yang aneh dan menghairankan yang menyebabkan aku kehilangan mataku, mencukur janggutku, dan menjadi seorang sufi. Kisahku adalah kisah yang, jika ia dilukiskan dengan jarum di sudut mata, akan menjadi peringatan bagi mereka yang mahu berfikir."

Lalu gadis itu menyoal sufi kedua, dan dia mengatakan hal yang sama. Lalu disoalnya pula sufi ketiga, ia pun mendapat jawaban yang sama.

 Lalu mereka berkata, "Demi Tuhan, tuan puteri, kami masing- masing berasal dari kota yang berbeza, dan kami masing-masing adalah putera seorang raja, penguasa yang berkuasa ke atas seluruh kerajaan dan rakyatnya."

Si gadis mengarahkan pandangannya kepada lelaki hitam itu dan berkata, "Siapa pun yang menceritakan kisahnya dan menjelaskan apa yang ada padanya dan apa yang telah membawanya ke tempat tinggal kita ini, biarkan dia menghusap kepalanya dan pergi, tetapi siapa pun yang menolaknya, penggallah kepalanya...."

Tetapi fajar menyingsing, dan Syahrazad menghentikan ceritanya. Lalu Dinarzad berkata kepada kakaknya, "Kak, betapa aneh dan menariknya kisah itu!" Syahrazad menyahut, "Ini belum apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang akan kuceritakan kepadamu esok malam, jika aku masih hidup!"

*******************************************

EPISOD 38 : DI SEBUAH MAKAM DI TANAH PERKUBURAN

Malam berikutnya, ketika sang raja telah bermesra dengan Syahrazad, Dinarzad berkata, "Kak, jika engkau belum mengantuk, ceritakan kepada kami salah satu ceritamu yang indah untuk mengisi malam." Syahrazad menyahut, "Dengan senang hati."

Hamba mendengar, wahai sang Raja, setelah gadis itu berbicara, yang pertama maju adalah si pemuda sambil berkata, "Wahai gadis, engkau tahu bahawa alasan saya datang ke tempat ini adalah kerana saya dipekerjakan untuk memikul barang-barang belanjaan, yang membawa saya mulai dari pedagang anggur ke tukang daging, dan dari tukang daging ke penjual sayur, dan dari penjual sayur ke penjual buah-buahan, dan dari penjual buah-buahan ke penjual makanan kering, lalu ke penjual manisan, penjual ubat, dan akhirnya ke rumah ini. Itulah kisah saya."

Gadis itu berkata, "Usaplah kepalamu dan pergi."

Tetapi dia menjawab, "Demi Tuhan, aku tidak akan pergi sebelum mendengar kisah-kisah yang lain."

Lalu sufi yang pertama maju dan berkata "Tuan puteri, penyebab mataku buta dan janggutku dicukur adalah sebagai berikut:

Ayahku adalah seorang raja, dan dia mempunyai seorang saudara yang juga menjadi raja, yang mempunyai seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan. Setelah bertahun-tahun berlalu dan kami tumbuh membesar, kadangkala aku mengunjungi bapa saudaraku, tinggal bersamanya selama sebulan atau dua bulan dan kembali menemui ayahku. Sebab di antara aku dan anak bapa saudaraku telah tumbuh persahabatan yang erat dan rasa kasih sayang yang mendalam.

Suatu hari aku mengunjungi saudara sepupuku dan dia memperlakukan aku dengan kebaikan yang luar biasa. Dia menyembelihkan untukku banyak kambing, menawariku anggur yang jernih, dan duduk bersamaku untuk minum. Ketika anggur itu telah menghangatkan badan kami, sepupuku berkata, "Saudara sepupu, aku ingin menunjukkan kepadamu sesuatu yang telah aku persiapkan selama setahun penuh, asalkan engkau tidak berusaha untuk menghalangiku."

Kujawab, "Dengan senang hati." Setelah dia menyuruhku bersumpah, dia bangkit dan dengan cepat menghilang, tetapi sebentar kemudian dia kembali dengan seorang wanita yang memakai mantel, sehelai sapu tangan dan hiasan kepala yang berbau sangat harum hingga membuat kami menjadi semakin mabuk. Lalu dia berkata,

"Saudara sepupu, bawalah gadis ini dan pergilah di depanku menuju sebuah makam di tanah perkuburan ini," sambil melakarkannya hingga aku mengetahui tempat itu.

Lalu dia menambahkan, "Masuklah bersamanya ke dalam makam itu dan tunggulah aku di sana."

Tanpa dapat mengajukan pertanyaan atau protes disebabkan sumpah yang telah kuucapkan, kubawa gadis itu dan berjalan bersamanya sampai kami memasuki tanah perkuburan dan duduk di dalam makam. Tak lama kemudian sepupuku tiba, dengan membawa semangkuk air, satu beg mortir dan sebuah cangkul besi. Dia langung menuju ke pusara, membongkarnya, lalu menyusun batu-batunya di satu sisi. Dia meneruskan lagi penggaliannya ke dalam tanah pusara itu hingga dia menemukan sebuah pelat besi, berukuran sebuah pintu kecil, yang menutupi sepanjang dan selebar pusara. Dia mengangkat pelat itu, dan bawahnya muncullah sebuah tangga berputar. Lalu dengan menatap kepada gadis itu, dia berbicara dengan isyarat, "Tetapkan pilihanmu," lalu gadis itu menuruni tangga dan menghilang. Kemudian sepupuku menatap wajahku seraya berkata, "Saudara sepupu, ada satu lagi pertolongan yang kuminta."

Aku bertanya, "Apakah itu?"

Dia berkata, "Setelah aku turun ke tempat ini, letakkan semula pelat besi dan tanah itu seperti semula...."

Tetapi fajar menyingsing, dan Syahrazad menghentikan ceritanya. Lalu Dinarzad berkata kepada kakaknya, "Kak, betapa aneh dan menariknya kisah itu!" Syahrazad menyahut, "Ini belum apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang akan kuceritakan kepadamu esok malam, jika aku masih hidup!"

 ************************************

EPISOD 39 : SEPASANG MUDA MUDI YANG TELAH JADI ARANG

Malam berikutnya, ketika sang raja telah bermesra dengan Syahrazad, Dinarzad berkata, "Kak, jika engkau belum mengantuk, ceritakan kepada kami salah satu ceritamu yang indah untuk mengisi malam." Syahrazad menyahut, "Dengan senang hati."

Hamba mendengar, wahai sang Raja, sufi pertama berkata kepada gadis itu: Setelah aku melaksanakan petunjuk-petunjuknya, aku merasa pening dan goyang, lalu bermalam di salah satu rumah bapa saudaraku, yang diserahkannya padaku untuk kugunakan sebelum dia meneruskan perjalanan berburu.

Ketika aku bangun keesokan harinya dan mengingat kembali kejadian-kejadian di malam sebelumnya, aku menyangka bahawa semua itu hanya ada dalam mimpi. Kerana ragu-ragu dan bimbang, aku bertanya tentang saudara sepupuku, tetapi tak seorang pun dapat memberitahukan tentang dia. Lalu aku pergi ke tanah perkuburan dan mencari makam itu, tetapi aku tidak dapat menemukannya atau mengingat apa pun tentang hal itu. Aku terus berjalan dari satu makam ke makam lainnya dan dari satu pusara ke pusara lainnya, tanpa berhenti untuk makan atau minum, hingga malam menjelang. Aku mulai khuatir mengenai saudara sepupuku,

dan sementara aku tertanya-tanya dalam hati ke manakah tangga berputar itu mengarah, aku mulai ingat akan kejadian-kejadian itu sedikit demi sedikit, sebagaimana orang ingat akan apa yang terjadi dalam mimpi. Akhirnya aku kembali ke rumah, makan sedikit, dan melewatkan malam yang menggelisahkan. Setelah mengingat apa yang aku dan dia kerjakan malam itu, keesokan harinya aku kembali ke tanah perkuburan dan berkeliling, mencari- cari sampai malam tiba, tanpa menemukan makam itu atau mendapatkan jalan yang mungkin akan menuntunku ke sana. Aku pun kembali ke tanah perkuburan untuk ketiga dan keempat kalinya dan mencari-cari makam itu sejak pagi-pagi hingga malam hari tanpa hasil, hingga aku hampir kehilangan akal karena sedih dan khuatir.

Akhirnya, kerana menyedari bahawa aku tidak menemukan jalan lain, kuputuskan untuk kembali ke kota ayahku. Ketika aku tiba di sana dan memasuki gerbang kota, tiba-tiba aku diserang, dipukuli, dan diikat. Ketika aku bertanya, "Apa sebabnya?" aku diberitahu, "Wazir telah mengadakan perlawanan terhadap ayahmu dan mengkhianatinya. Melalui komplotan dengan seluruh bala tentara, dia telah membunuh ayahmu dan merebut kekuasaannya dan memerintahkan kami untuk mencarimu."

Lalu mereka membuatku pengsan dan membawaku ke hadapan sang wazir.

Wahai gadis yang mulia, telah menjadi kenyataan bahawa wazir itu dan aku saling bermusuhan, sebab akulah yang menyebabkan kebutaan salah satu matanya. Kerana senang bermain panah, suatu hari aku berdiri di atas atap istana, ketika seekor burung hinggap di istana wazir, yang secara kebetulan juga sedang berdiri di atas atap istananya. Ketika aku menembak burung itu, pelurunya tidak mengenainya tetapi justeru mengenai wazir dan menembus sudut matanya. Itulah penyebab dendamnya terhadapku. Oleh itu, ketika mereka membawaku ke hadapannya, dia mencucukkan jarinya ke mataku, mencongkelnya keluar hingga darah mengalir di pipiku. Lalu dia mengikatku, menempatkanku dalam sebuah peti, dan menyerahkan aku kepada ahli pedang ayahku sambil berkata, "Tunggangi kudamu, hunus pedangmu dan bawa orang ini bersamamu ke hutan belantara. Lalu bunuhlah dia dan biarkan haiwan-haiwan dan burung-burung hutan memakan dagingnya."

Pengawal itu mengikuti perintah wazir dan membawaku ke hutan belantara. Lalu dia turun dari kudanya, mengeluarkan aku dari peti dan memandangku serta bersiap sedia untuk membunuhku. Aku meratap dengan sedih atas apa yang telah terjadi pada diriku hingga membuatnya ikut meratap bersamaku. Lalu sambil memandang padanya, aku mengumandangkan sajak berikut ini:

Kau kujadikan perisai dari anak panah musuh,

Tetapi ternyata engkaulah anak panah itu sendiri. Kuharapkan bantuanmu ketika aku celaka, Sebagaimana tangan kiri membantu si tangan kanan, Tapi berdirilah kau sebagai orang bebas, jauh dariku, Dan membiarkan musuh membidikkan panah mereka, Dan jika kau tak dapat mempertahankan persahabatan kita, Antara dirimu dan aku tidak ada pertalian lagi.

Ketika pengawal itu mendengar sajakku, dia merasa kasihan kepadaku lalu membatalkan niatnya untuk membunuhku dan membebaskanku sambil berkata, "Larilah dan jangan kembali ke negeri ini, sebab mereka akan membunuh engkau dan juga membunuhku. Sebagaimana sang penyair berkata:

Jika engkau mengalami ketidakadilan,
selamatkan dirimu,
Dan tinggalkan rumah
untuk berkabung atas pendirinya
Negerimu akan kau gantikan dengan yang lain,
Tetapi untuk dirimu,
engkau tak akan menemukan diri yang lain.
Atau dalam suatu tugas,
Jangan mempercayai orang lain,
Sebab tidak ada yang setia seperti dirimu.
Dan tidakkah singa berjuang sendiri,
la tak akan mencari mangsa sendiri.

Hampir tidak dapat mempercayai keselamatanku, kucium tangannya sambil berfikir bahawa kehilangan mata bagiku jauh lebih baik daripada harus kehilangan nyawa.

Lalu aku melakukan perjalanan perlahan-lahan hingga aku mencapai kota bapa saudaraku. Ketika aku menemuinya dan menceritakan padanya tentang kematian ayahku dan kehilangan mataku, dia berkata kepadaku, "Aku pun mengalami dukacita yang cukup berat, sebab anakku hilang. Hingga kini aku tidak tahu apa yang telah terjadi kepadanya, juga aku tidak menerima berita apa pun tentang dirinya." Lalu dia meratap dengan sedih, menghidupkan kembali kesedihan lamaku dan menimbulkan belas kasihanku. Kerana tidak mampu berdiam diri, kuceritakan kepadanya apa yang telah dilakukan anaknya, dan dia merasa sangat senang dan berkata, "Mari tunjukkan padaku makam itu."

Aku menjawab, "Demi Tuhan, bapa saudaraku, aku telah lupa jalan ke sana, dan aku tidak tahu lagi yang mana satu makam itu."

Dia berkata, "Marilah kita pergi bersama."

Lalu aku dan bapa saudaraku mendatangi tanah perkuburan itu dengan diam-diam. Ketika kami tiba di tengah-tengahnya, tiba-tiba saja aku mengenali makam itu hingga merasa sangat gembira dengan harapan akan menunjukan apa yang ada di sebalik tangga berputar itu dan apa yang terjadi terhadap saudara sepupuku. Kami memasuki makam, membuka pusara, dan setelah membersihkan tanahnya, menemukan pelat besi itu.

Bapa saudaraku berjalan di depan, dan kami menuruni

sekitar lima puluh anak tangga. Ketika kami mencapai anak tangga yang paling bawah, kami melihat gulungan asap yang besar yang hampir membutakan mata kami. Bapa saudaraku berseru, "Tidak ada kekuatan dan kekuasaan, kecuali di tangan Tuhan Yang Maha Besar, Maha Kuasa."

Lalu kami melihat sebuah lorong. Ketika kami maju sedikit, kami tiba di sebuah ruangan dengan tiang-tiang besar yang disinari oleh atap yang terbuat dari kaca yang sangat tinggi. Kami berkeliling dan melihat sebuah tangki air di tengah-tengahnya, melihat kendi-kendi besar dan karung-karung yang penuh dengan tepung, biji-biji padi dan biji-bijian lainnya. Di hujung ruangan pula kami melihat sebuah tempat tidur yang ditutupi dengan sebuah kain cadar. Bapa saudaraku mendekati tempat itu, dan ketika dia mengangkat cadar itu, dia menemukan anaknya dan gadis yang dahulu pergi bersamanya, berbaring saling berpelukan, tetapi keduanya telah menjadi arang. Seakan-akan mereka telah dilempar ke dalam api yang berkobar-kobar, yang membakar mereka hingga mereka berubah menjadi arang.

Ketika bapa saudaraku melihat pemandangan ini, dia mengungkapkan kepuasannya dan meludahi wajah anaknya sambil berkata, "Inilah hukumanmu di dunia ini, tetapi masih ada hukuman yang menantimu di dunia mendatang."

Lalu dia melepaskan kasutnya dan memukuli wajah anaknya sekeras-kerasnya…

Tetapi fajar menyingsing, dan Syahrazad menghentikan ceritanya. Lalu Dinarzad berkata, "Kak, alangkah menghairankan dan menariknya kisah itu!" Syahrazad menyahut, "Esok malam aku akan menceritakan kepadamu sesuatu yang lebih aneh, lebih menghairankan dan lebih menarik, jika sang raja mengizinkanku dan membiarkan aku hidup!"

 **********************************************************

EPISOD 40 : MENCUKUR JANGGUT DAN ALIS MATA...

Malam berikutnya, ketika sang raja telah bermesra dengan Syahrazad, Dinarzad berkata, "Kak, jika engkau belum mengantuk, ceritakan kepada kami salah satu ceritamu yang indah untuk mengisi malam." Syahrazad menyahut, "Dengan senang hati."

Hamba mendengar, wahai Raja yang bahagia, sufi pertama itu berkata kepada sang gadis:

Tuan puteri, ketika bapa saudaraku memukuli wajah anaknya dengan kasut, sementara dia dan gadis itu terbaring di sana dalam tumpukan arang, aku berkata kepadanya, "Demi Tuhan, bapa saudaraku, jangan membuatku merasa semakin sedih. Aku merasa khuatir dan menyesal atas apa yang menimpa anakmu. Namun sepertinya dia masih kurang cukup menderita, sehingga engkau memukuli wajahnya dengan kasutmu."

Dia menyahut, "Wahai anak saudaraku, hendaklah engkau mengetahui bahawa anakku ini tergila-gila kepada saudara perempuannya sendiri, dan aku sering melarangnya untuk menemuinya tetapi sambil selalu berkata kepada diriku sendiri, 'Mereka cuma anak-anak' Tetapi setelah mereka dewasa, mereka melakukan perbuatan terkutuk seperti suami isteri dan aku mendengar tentang hal itu, hampir tidak mempercayai telingaku sendiri. Aku mengheretnya dan memukulinya tanpa belas kasihan sambil mengatakan, "Hati-hati, hati-hatilah dengan perbuatan itu, kalau-kalau cerita kita menyebar ke mana-mana bahkan ke wilayah-wilayah dan kota-kota yang jauh dan engkau akan dipermalukan dan kehilangan maruah di kalangan para raja hingga akhir zaman. Hati-hati, hati-hatilah, sebab gadis ini adalah saudaramu sendiri, Tuhan telah melarangnya untuk kau miliki."

"Lalu, wahai anak saudaraku, aku memisahkan anak perempuanku itu darinya. Tetapi gadis itu telah jatuh cinta kepadanya, sebab syaitan telah membalikkan matanya dan membuat percintaan itu memikat hatinya. Ketika mereka menyedari bahawa aku telah memisahkan mereka satu sama lain, puteraku membangun dan mempersiapkan tempat di bawah tanah ini, menggali sumur dan membawa apa pun yang mereka perlukan sebagai perbekalan sebagaimana yang engkau lihat di sini. Kemudian, dengan memanfaatkan kepergianku berburu, dia mengambil saudara perempuannya dan melakukan apa yang engkau saksikan dahulu itu. Dia yakin bahawa dia akan bersenang-senang dengannya untuk jangka waktu yang lama"

Lalu bapa saudaraku meratap, dan aku pun meratap bersamanya. Lalu dia memandangku dan berkata, "Engkau menjadi anakku sebagai penggantinya," dan ketika dia memikirkan tentang apa yang telah terjadi kepada kedua anaknya itu, pembunuhan abangnya, dan kehilangan mataku, dia kembali meratap dan aku meratap bersamanya atas cubaan-cubaan hidup dan kemalangan- kemalangan di dunia ini. Lalu kami memanjat keluar dari pusara itu dan aku memasang kembali tutup pelat besi itu di atas kuburan sepupuku dan saudara perempuannya, dan tanpa diketahui oleh seorang pun, kami pulang kembali. Tetapi baru saja kami mahu duduk, tiba-tiba kami mendengar suara-suara genderang, terompet, hiruk-pikuk manusia, gemerincing pedang, ringkik kuda dan perintah-perintah berbaris untuk berperang, sementara udara tertutup debu yang mengepul akibat larinya kuda-kuda dan derap kaki manusia. Kami kebingungan dan terkejut, dan ketika kami bertanya, kami diberitahu bahwa wazir yang telah merebut kerajaan ayahku telah mengarahkan pasukan dan mempersiapkan tenteranya dan mengambil banyak kaum Badwi untuk bekerja padanya bagi menyerang kami dengan tenteranya yang bagaikan pasir gurun yang tak dapat dihitung dan tak dapat ditahan oleh siapa pun kemaraan mereka. Mereka menguasai kota dengan begitu cepat sekali, menawan seluruh penduduknya, yang tidak mampu mengadakan perlawanan sedikit pun hingga mereka menyerahkan kawasan itu pada si wazir. Bapa saudaraku mereka tangkap dan bunuh, sedangkan aku sendiri berjaya melarikan diri ke luar kota sambil berfikir, jika aku jatuh ke tangan wazir itu, dia pasti akan membunuhku dan membunuh Sayir, ahli pedang ayahku yang telah bermurah hati membebaskan aku dahulu."

Kesedihanku bertambah-tambah dan kekhuatiranku semakin besar, ketika aku memikirkan tentang apa yang telah menimpa bapa saudaraku dan saudara-saudara sepupuku dan tentang kehilangan mataku, dan aku meratap dengan sedih. Aku bertanya kepada diri sendiri, "Apa yang harus kulakukan? Jika aku menunjukkan diriku di muka umum, penduduk kota dan seluruh tentera ayahku akan mengenaliku sebagaimana mereka mengenali matahari dan akan berusaha menunjukkan jasa kepada wazir dengan membunuhku."

Aku tidak dapat memikirkan cara lain untuk melarikan diri dan menyelamatkan nyawaku kecuali mencukur janggut dan alis mataku. Maka aku mengambil cara itu, menukar pakaianku dengan pakaian sufi pengemis, dan menjalani kehidupan sebagai seorang sufi. Lalu aku meninggalkan kota tanpa diketahui seorang pun dan mengadakan perjalanan ke negeri ini, dengan tujuan mencapai Baghdad, dengan harapan bahawa aku mungkin cukup beruntung menemukan seseorang yang mahu membantuku menemui Pemimpin Kaum Beriman, Khalifah yang bijaksana, sehingga aku dapat menceritakan kepadanya kisahku dan mengajukan persoalanku ke hadapannya. Aku tiba malam itu juga, dan ketika aku sedang berdiri dengar ragu-ragu di gerbang kota, tanpa mengetahui ke mana aku harus pergi, sufi di sampingku ini mendekatiku, menunjukkan tanda-tanda sedang berada dalam perjalanan, dan menyapaku. Aku bertanya padanya, "Apakah Anda orang asing?"

Dia menjawab, "Ya."

Aku berkata lagi, "Aku pun orang asing di sini."

Saat kami sedang bercakap-cakap, seorang sufi lain muncul dan ikut bergabung bersama kami di gerbang itu, sambil berkata, "Aku orang asing di sini."

Kami menyahut, "Kami pun orang asing di sini."

Lalu kami bertiga berjalan sampai malam, tiga orang asing yang tidak tahu mahu pergi ke mana. Tetapi Tuhan menuntun kami ke rumah ini, dan tuan puteri cukup baik dan bermurah hati membiarkan kami masuk dan membantuku melupakan kehilangan mataku.

Mendengar itu, sang gadis berkata, "Usaplah kepalamu dan pergilah."

Sufi pertama itu menyahut, "Demi Tuhan, aku tidak akan pergi sehingga aku mendengar kisah yang lain..."

Tetapi fajar menyingsing, dan Syahrazad menghentikan ceritanya. Lalu Dinarzad berkata kepada kakaknya, "Kak, betapa aneh dan menariknya kisah itu!" Syahrazad menyahut, "Ini belum apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang akan kuceritakan kepadamu esok malam, jika aku masih hidup!" 

Kembali ke Episod 1&2 di sini

Wednesday, December 4, 2019

HIKAYAT 1001 MALAM EPISOD 26-33...

EPISOD 26 : SEPARUH MANUSIA SEPARUH BATU


Ramai yang berminat dengan cerita hikayat ni. Untuk tidak menghampakan maka aku sambung Episod 26 hingga Episod 33. Selamat membaca...

Malam berikutnya Dinarzad berkata kepada kakaknya, Syahrazad, "Kak, jika engkau belum mengantuk, teruskanlah ceritamu yang indah dan aneh itu!" Syahrazad menyahut, "Dengan senang hati."

Hamba mendengar, wahai sang Raja, si pemuda yang tersihir berkata kepada raja itu, "Tuanku, kutebas leher lelaki hitam itu, tetapi tidak berhasil memotong kedua pembuluh darahnya. Ternyata aku hanya menebas kulit dan daging tenggorokannya, yang kusangka aku telah membunuhnya. Lelaki itu mulai mengamuk dengan buasnya hingga isteriku terlempar dari sisinya. Aku mundur, menyimpan pedang itu kembali ke tempatnya, dan pergi kembali ke kota. Kumasuki istana dan kemudian tidur di tempat tidurku hingga pagi.

Ketika isteriku datang dan aku memandangnya, kulihat dia telah memotong rambutnya dan memakai pakaian berkabung. Dia berkata, "Suamiku, jangan mencelaku atas apa yang kulakukan, sebab aku baru saja menerima berita bahawa ibuku telah meninggal, ayahku terbunuh dalam perang suci, dan kedua abangku juga telah kehilangan nyawanya, yang seorang dalam peperangan dan yang seorang lagi kerana digigit ular. Ada banyak alasan bagiku untuk meratap dan berkabung."

Ketika aku mendengar apa yang dikatakannya, aku tidak menyahut, kecuali mengatakan, "Aku tidak mencelamu. Lakukanlah seperti yang engkau inginkan." 

Dia berkabung selama setahun penuh, meratap dan menangis. Ketika tahun itu berlalu, dia berkata kepadaku, "Aku ingin engkau mengizinkan aku mendirikan sebuah makam di dalam istana ini untuk kugunakan sebagai tempat perkabungan khusus dan menamakannya rumah kesedihan." 

Kujawab, "Baik, lakukan saja." Lalu dia memberikan perintah, dan sebuah rumah perkabungan dibangun untuknya, dengan sebuah makam berkubah dan sebuah nisan di dalamnya. Kemudian dia memindahkan lelaki hitam yang terluka itu ke dalam makam dan menempatkannya di atas nisan tersebut. Tetapi, meskipun dia masih hidup, sejak saat aku menebas tenggorokannya, dia tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun atau mampu melakukan suatu kebaikan pun terhadap isteriku, kecuali minum cairan. Isteriku mengunjunginya di dalam makam setiap hari, pagi dan malam, sambil membawakan minuman dan kuah daging. Isteriku terus melakukan hal itu sepanjang tahun, sementara aku menahan kesabaran dan membiarkannya melakukan muslihat-muslihatnya sendiri. 

Suatu hari, ketika dia tidak mengetahuinya, aku memasuki makam dan mendapatinya sedang menangis dan meratap: 

Ketika aku melihat kesusahanmu, 
Hal itu melukaiku, seperti yang engkau lihat. 
Dan ketika aku tidak melihatmu, 
Hal itu melukaiku, seperti yang engkau lihat. 
Wahai, berbicaralah padaku, hidupku, 
Tuanku, bercakaplah denganku. 
Lalu dia bernyanyi pula: 
Saat ketika aku memilikimu adalah saat yang kurindukan;
Saat ketika kau tinggalkan aku adalah saat aku mati. 
Jika aku hidup dalam ketakutan karena kematian yang dijanjikan, 
Aku lebih suka bersamamu daripada hidupku selamat. 

Lalu dia mengumandangkan sajak berikut ini: 

Jika kudapatkan semua rahmat di dunia ini 
Dan seluruh kerajaan dari sang raja Parsi, 
Jika tidak kulihat tubuhmu dengan mataku, 
Semua ini tidak cukup ditukar dengan sayap seekor serangga. 

Ketika dia berhenti menangis, aku berkata kepadanya, "Isteriku, engkau sudah cukup berkabung dan meratap dan lebih banyak air mata lagi tidak akan ada gunanya." 

Dia menyahut, "Suamiku, jangan ikut campur dengan perkabunganku. Jika engkau ikut campur lagi, aku akan membunuh diriku." 

Aku terdiam dan meninggalkannya sendiri, sementara dia terus berkabung, meratap dan menangis selama setahun lagi. Suatu hari, setelah tahun ketiga, kerana merasakan ketegangan dari beban yang berat dan berlarut-larut ini, terjadi sesuatu yang meletupkan kemarahanku. Ketika aku kembali lagi melihat isteriku, aku menemukannya di dalam makam, di samping nisan itu, sedang berbicara, "Tuanku, belum pernah kudengar sepatah kata pun darimu. Selama tiga tahun aku tidak mendapat jawaban." Lalu dia membaca sajak berikut ini: 

Wahai nisan, 
wahai nisan, 
sudahkah ketampanannya lenyap, 
Atau sudahkah kau hilangkan sendiri rupa yang cemerlang itu ? 
Wahai nisan, 
bukan taman bukan pula bintang, 
Matahari dan bulan sekaligus bagaimana kau terima ?

Sajak tersebut semakin menambah kemarahanku, hingga aku berkata kepada diri sendiri, "Oh, berapa lama lagi aku akan mampu menahannya?" Lalu aku mengumandangkan sajak berikut ini: 

Wahai nisan, 
wahai nisan, 
sudahkah dia kehilangan warna hitamnya, 
Atau sudahkah kau hilangkan sendiri rupa yang menjijikkan itu? 
Wahai nisan, 
bukan bilik mandi bukan pula longgokan sampah, 
Batu bara dan lumpur sekaligus bagaimana kau terima ? 

Ketika isteriku mendengar ini, dia bangkit berdiri dan berkata, 'Jahanam kau, anjing kotor. Kaulah yang melakukan ini padaku, melukai kekasihku dan menyeksanya dengan memisahkanku dari kemudaannya, sementara dia telah terbaring di sini selama tiga tahun, tidak hidup dan tidak pula mati." 

Aku berkata kepadanya, "Kau, yang paling kotor dari semua pelacur dan paling menjijikkan dari semua perempuan hina yang mendambakan dan menyetubuhi lelaki hitam, yang sememangnya akulah yang melakukan hal ini terhadapnya." Lalu kusambar pedangku dan menariknya untuk menyerang isteriku. Tetapi ketika dia mendengar dan menyedari bahawa aku telah berketetapan akan membunuhnya, dia tertawa dan berkata, "Menjauhlah, kau anjing. Sayang, sayang sekali, apa yang telah dilakukan tak dapat ditarik kembali; pun yang mati tidak akan hidup lagi, tetapi Tuhan telah mengirimkan kepadaku orang yang telah melakukan ini terhadapku dan membakar hatiku dengan api dendam." Lalu dia berdiri, mengucapkan kata-kata yang tidak dapat kupahami sambil berteriak, "Dengan ilmu sihir dan kekejamanku, jadilah engkau separuh manusia, separuh batu." 

Tuan, sejak saat itu, aku menjadi seperti yang tuan lihat sekarang, patah hati dan sedih, tak berdaya dan tak pernah tidur, tidak hidup bersama yang hidup atau mati bersama yang mati....
Tetapi fajar menyingsing, dan Syahrazad menghentikan ceritanya. Lalu Dinarzad berkata, "Kak, betapa aneh dan menariknya kisah itu!" Syahrazad menyahut, "Esok malam ceritanya akan lebih aneh, jika sang raja mengizinkanku dan membiarkan aku hidup!"

********************************************
EPISOD 27 : WANITA TUKANG SIHIR

Malam berikutnya, ketika sang raja telah bermesra dengan Syahrazad, Dinarzad berkata, "Kak, jika engkau belum mengantuk, ceritakan kepada kami salah satu ceritamu yang indah untuk mengisi malam." Syahrazad menyahut, "Dengan senang hati." 

Dikisahkan, wahai sang Raja, pemuda yang tersihir berkata kepada raja itu: "Setelah isteriku mengubahku ke dalam bentuk seperti ini, dia mengucapkan mantera-mantera pada kota ini, dengan seluruh taman-tamannya, ladang-ladangnya, dan pasar- pasarnya, diubahnya menjadi hutan belantara, tasik dan gunung-ganang. Isteriku mengubah para penduduk kotaku, yang terdiri dari empat penganut agama, iaitu Islam, Majusi, Kristen dan Yahudi, menjadi ikan; kaum Muslim berwarna putih, kaum Majusi merah, kaum Kristen biru manakala kaum Yahudi kuning. Begitu pula, dia mengubah kepulauan ini menjadi empat bukit yang mengelilingi tasik. 

Tidak sampai di situ saja, bahkan isteriku melepaskan pakaianku dan menelanjangiku setiap hari dan memukulku seratus kali pukulan dengan cambuk hingga punggungku terkupas dan berdarah. Kemudian dia menutupi separuh tubuhku dengan baju dari bulu binatang yang kasar dan menutupinya dengan pakaian yang mewah ini." 

Lalu pemuda itu menitikkan air mata dan membaca sajak berikut ini: 

Wahai Tuhan, 
aku terima dengan sabar ketentuan-Mu, 
Dan agar aku mendapat perkenan-Mu, aku bertahan, 
Sehingga untuk kezaliman dan ketidakadilan mereka 
Semoga kami memperolehi pahala berupa Syurga-Mu. 
Engkau tak pernah membiarkan orang yang kejam bebas, 
Tuhanku; Keluarkan aku dari api itu, 
Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Sang raja berkata kepada pemuda itu, "Anak muda, engkau telah mengangkat satu kecemasan tetapi menambahkan kesusahan lain pada kesusahan-kesusahanku. Tetapi di manakah isterimu, dan di manakah makam dengan lelaki hitam yang terluka itu?" 

Jawab pemuda itu, "Wahai sang Raja, lelaki hitam itu terbaring di atas nisan di dalam makam, yang terletak di ruangan samping ini. Isteriku datang mengunjunginya pagi-pagi setiap hari, dan jika dia datang, dia menelanjangiku dan melancarkan seratus pukulan dengan cambuk hingga aku berteriak dan menjerit tanpa mampu berdiri dan mempertahankan diri, sebab tubuhku separuh batu, separuh lagi darah dan daging. Setelah dia menghukumku, dia pergi menjumpai lelaki hitam untuk memberinya minuman dan kuah daging. Keesokan paginya dia akan datang lagi sebagaimana biasa." 

Sang raja menyahut, "Demi Tuhan, wahai anak muda, akan kulakukan sesuatu untukmu yang akan tercatat dalam sejarah dan mengabadikan namaku." Lalu sang raja bercakap-cakap dengan pemuda itu hingga malam tiba dan mereka pergi tidur. Keesokan harinya, sang raja bangun dan melepaskan pakaiannya, dan setelah menarik pedangnya, memasuki ruangan dengan makam berkubah dan menemukan tempat itu diterangi lilin-lilin dan lampu-lampu yang berbau harum kemenyan, minyak wangi, daun kunyit dan ubat-ubatan lainnya. Dia langsung mendatangi lelaki hitam itu dan membunuhnya. Lalu diangkatnya keluar mayat itu dan di- lemparkannya ke dalam sebuah perigi di dalam istana. Diambilnya pakaian lelaki hitam itu dan dipakainya, menutupi dirinya, dan berbaring menyembunyikan dirinya di dasar nisan, dengan pedang terhunus di bawah bajunya. 

Tidak berapa lama kemudian, tukang sihir terkutuk itu tiba. Pertama sekali yang dilakukannya adalah menelanjangi suaminya, mengambil sebuah cambuk, mencambuki suaminya berulang kali, sementara si suami berteriak, "Ah, isteriku, kasihanilah aku, tolonglah aku, aku telah mendapat cukup hukuman dan kesakitan; kasihanilah aku." 

Wanita itu membalas, "Seharusnya engkau mengasihani aku dan membiarkan kekasihku hidup...."

Tetapi fajar menyingsing, dan Syahrazad menghentikan ceritanya. Lalu Dinarzad berkata, "Kak, alangkah aneh dan menariknya kisah itu!" Syahrazad menyahut, "Esok malam ceritanya jauh lebih menarik, jika aku masih hidup."

*******************************

EPISOD 28 : RAJA BERSAMA WANITA TUKANG SIHIR

Malam berikutnya, ketika sang raja telah bermesra dengan Syahrazad, Dinarzad berkata, "Kak, jika engkau belum mengantuk, ceritakan kepada kami salah satu ceritamu yang indah untuk mengisi malam." Raja Syahrayar menambahkan "Demi Tuhan, ceritakanlah kelanjutan dari kisah semalam agar aku mengetahui apa yang terjadi pada pemuda yang kena sihir itu." Syahrazad menyahut, "Dengan senang hati." 

Hamba mendengar, wahai sang Raja, setelah perempuan penyihir itu menghukum suaminya dengan mencambukinya hingga pinggang dan kedua bahunya berdarah dan dia memuaskan kehausannya akan pembalasan dendamnya, dia memakaikan baju dari bulu binatang yang kasar itu padanya dan menutupinya dengan pakaian luar. Lalu dia menjumpai si lelaki hitam, dengan cangkir minuman dan kuah daging sebagaimana biasanya. Dia memasuki makam, menuju nisan itu, dan mulai menangis, mengeluh dan meratap, "Kekasihku, menolak diriku bukanlah kebiasaanmu. Jangan kikir, sebab musuh-musuhku bersuka-ria melihat perpi- sahan kita. Bermurah hatilah dengan cintamu, sebab mengor- bankannya bukanlah kebiasaanmu. Kunjungilah aku, sebab hidupku bergantung pada kunjunganmu. Wahai tuanku, berbicaralah padaku, hiburlah diriku." Lalu dia menyanyikan sajak berikut ini: 

Untuk berapa lama kekejaman ini menghina, 
Bukankah aku membayarnya dengan cukup banyak airmata? 
Wahai kekasih, berbicaralah padaku, 
Wahai kekasih, bercakaplah denganku,  
Wahai kekasih, jawablah aku. 

Sang raja merendahkan suaranya, dengan menirukan suara lelaki hitam itu, berkata, "Ah, ah, ah! Tidak ada kekuatan dan kekuasaan kecuali di tangan Tuhan Yang Maha Besar, Yang Maha Agung." 

Ketika wanita itu mendengarnya berbicara, dia berteriak kesenangan dan pengsan, dan ketika kembali sedar, dia berseru, "Benarkah engkau berbicara padaku?" 

Raja menjawab, "Jahanam, kau tidak patut mendapat kurnia sehingga orang mahu berbicara denganmu atau menyahut perkataanmu." 

Dia bertanya, "Apakah sebabnya?" 

Jawab raja, "Sepanjang hari engkau menghukum suamimu, sementara dia menjerit meminta tolong. Dari saat matahari tenggelam hingga pagi dia menangis, memohon dan berdoa kepada Tuhan mengutukimu dan aku, dengan jeritannya yang memekakkan telinga dan melemaskan badan sehingga aku tidak pernah dapat tidur. Jika bukan karena ini, aku pasti telah sembuh sejak dahulu lagi, dan inilah sebabnya mengapa aku tidak mahu berbicara denganmu atau membalas perkataanmu." 

Dia berkata, "Tuanku, jika engkau mengizinkanku, aku akan menyembuhkannya dari keadaannya yang sekarang." 

Sang raja menyahut, "Sembuhkan dia dan jauhkan kita dari kebisingan suaranya." 

Perempuan itu pergi keluar dari makam, mengambil sebuah mangkuk, dan setelah mengisinya dengan air, mengucapkan sebuah mantera atasnya, dan air itu mulai mendidih dan bergolak bagaikan dipanggang di atas api. Lalu dia memerciki pemuda itu dengan air tersebut dan berkata, "Dengan kekuatan manteraku, jika Sang Pencipta telah menciptakanmu dalam bentuk ini, atau jika Dia telah mengubahmu menjadi bentuk ini karena marah kepadamu, tetaplah dalam keadaan begitu, tetapi jika engkau bertukar rupa akibat ilmu sihir dan kekejamanku, kembalilah kepada bentukmu yang sesungguhnya, atas kehendak Tuhan, Pencipta dunia ini." Pemuda itu langsung menggoyangkan tubuhnya dan berdiri, tegak dan gagah, dan dia bersuka cita dan bersyukur kepada Tuhan atas kesembuhannya. Lalu istrinya berkata kepadanya, "Menjauhlah dari pandanganku dan jangan pernah kembali sebab jika engkau kembali dan aku melihatmu di sini, aku akan membunuhmu." 

Wanita itu berteriak pada suaminya, hingga pemuda itu pun pergi. Lalu dia kembali ke makam dan, setelah turun menuju nisan itu, ia berseru, "Tuanku tersayang, keluarlah dan izinkan aku memandang wajahmu yang tampan." 

Sang raja menjawab dengan suara tertahan, "Engkau telah membebaskan aku dari anggota badan itu, tetapi belum membebaskan kita dari badan itu sendiri." 

Dia bertanya, "Tuanku tersayang, apa yang engkau maksudkan dengan badan itu?" 

Jawab sang raja, "Jahanam kau, perempuan terkutuk, yang kumaksud adalah para penduduk kota dan keempat-empat kepulauan itu, sebab setiap malam terutama di tengah malam, ikan- ikan itu mengangkat kepalanya dari tasik dan berdoa kepada Tuhan agar mengutukiku, dan inilah sebabnya mengapa aku tidak sembuh-sembuh. Pergilah menjumpai mereka dan bebaskan mereka segera; lalu kembalilah untuk memegang tanganku dan membantuku bangun, sebab aku sudah mulai merasa lebih baik." 

Ketika wanita itu mendengamya, dia merasa sangat senang dan menyahut dengan riang gembira, "Ya, tuanku, ya, dengan pertolongan Tuhan, buah hatiku." Lalu dia bangkit, pergi ke tasik, dan mengambil sedikit air dari dalamnya... 

Tetapi fajar menyingsing, dan Syahrazad menghentikan ceritanya. Lalu Dinarzad berkata, "Alangkah aneh dan menariknya kisah itu! Syahrazad menyahut, "Ini belum apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang akan kuceritakan kepadamu esok malam, jika sang raja mengizinkan aku dan membiarkan aku hidup!" Raja Syahrayar menganggukkan kepalanya.

***************************

EPISOD 29 : RAJA MEMBUNUH TUKANG SIHIR

Malam berikutnya Dinarzad berkata kepada kakaknya, Syahrazad, "Jika engkau belum mengantuk, ceritakan kepada kami sambungan dari kisahmu semalam." Syahrazad menyahut, "Dengan senang hati." 

Dikisahkan, wahai sang Raja, perempuan itu mengucapkan beberapa patah kata di atas tasik, dan ikan-ikan mulai menari. Pada saat itulah pengaruh mantera terlepas, dan para penduduk kota menjalankan lagi kegiatan mereka seperti biasa dan kembali melakukan jual beli. Lalu dia kembali ke istana, memasuki makam dan berkata, "Tuanku, hulurkan tanganmu yang sangat ramah dan bangkitlah." Sang raja menyahut dengan suara tertahan, "Lebih mendekatlah padaku." Perempuan itu bergerak lebih mendekat, sementara sang raja mendesaknya, "Lebih mendekatlah lagi," dan dia bergerak sampai badannya menyentuh badan sang raja. Tiba-tiba sang raja mendorongnya kembali dan dengan sekali tebasan pedang memotong tubuh perempuan itu menjadi dua bahagian. Tubuh yang terpotong dua itu jatuh ke tanah dan mati seketika itu juga. 

Sang raja keluar dan, ketika menemukan pemuda itu yang sedang menantinya, menyalaminya atas kebebasannya, dan pemuda itu mencium tangannya, berterima kasih padanya dan memuji rahmat Tuhan atas keselamatan dirinya. Lalu sang raja bertanya padanya, "Apakah engkau ingin tinggal di sini atau menyertaiku datang ke kotaku?" 

Pemuda itu menyahut, "Wahai raja zaman ini, tahukah tuan berapa jauh jarak antara kota tuan dengan kotaku?" 

Sang raja menjawab, "Itu sejauh setengah hari perjalanan." 

Pemuda itu berkata, "Wahai sang Raja, tuan sedang bermimp^ sebab antara kota tuan dan kotaku terbentang jarak sejauh setahun penuh perjalanan. Tuan mencapai kami dalam setengah hari sebab kota itu berada di bawah pengaruh sihir." 

Raja bertanya, "Sekalipun demikian, apakah engkau ingin tetap tinggal di sini di kotamu atau menyertaiku datang ke kotaku?" 

Pemuda itu menjawab, 'Wahai sang Raja, aku tidak mahu berpisah dari tuan, walaupun hanya untuk sesaat." 

Raja merasa senang dan berkata, "Syukur kepada Tuhan yang telah menyerahkanmu padaku. Engkau akan menjadi puteraku, sebab aku tidak memiliki seorang pun anak." 

Mereka berpelukan, berpegangan satu sama lain dengan eratnya dan merasa berbahagia. Lalu mereka berjalan bersama menuju istana, dan ketika mereka memasuki istana itu, si pemuda yang baru sembuh dari sihir itu mengumumkan kepada orang- orang terkemuka dalam kerajaannya dan kepada para pembantunya bahawa dia akan melakukan suatu perjalanan. 

Pemuda itu menghabiskan waktu sepuluh hari untuk bersiap-siap, membawa perbekalan yang diperlukan, bersama dengan hadiah-hadiah yang diberikan padanya oleh para pangeran dan para pedagang kota itu untuk perjalanannya. Kemudian dia berangkat bersama sang raja, dengan semangat membara untuk meninggalkan kotanya selama setahun penuh. Dia berangkat dengan lima puluh orang Mamluk dan banyak penunjuk jalan serta pelayan-pelayan, membawa seratus muatan berupa hadiah-hadiah, barang-barang berharga dan harta benda lain, juga wang. Mereka terus berjalan, pagi dan petang, siang dan malam, selama setahun penuh hingga mereka sampai dengan selamat ke tempat tujuan dengan rahmat Tuhan. Lalu raja mengutus seseorang untuk memberitahu wazirnya tentang kedatangannya kembali dalam keadaan selamat. Wazir itu keluar dengan seluruh pasukan dan hampir semua penduduk kota untuk menyambut kepulangan sang raja. Setelah berputus asa kerana mengira dia tersesat, mereka merasa sangat senang. Kota-kota dihiasi dengan semarak dan jalan-jalannya dibentang permadani-permadani sutera. Wazir dan para perajurit turun dari kuda dan, setelah mencium tanah di hadapan sang raja, menyalami atas keselamatannya dan bersyukur atas rahmat Tuhan terhadapnya. Kemudian mereka memasuki kota, sang raja duduk di atas singgasananyadan, setelah bertemu dengan wazirnya, menjelaskan padanya mengapa dia pergi selama setahun penuh. Dia mence- ritakan pada wazirnya kisah si pemuda dan bagaimana dia beru- rusan dengan isteri pemuda itu dan menyelamatkannya serta kotanya. 

Mendengar itu sang wazir menatap ke arah si pemuda dan menyalaminya atas kebebasannya. Kemudian para pangeran, para wazir, para bendahara dan para utusan mengambil tempat mereka masing-masing. Sang raja memberi mereka jubah-jubah kehormatan, hadiah dan pingat-pingat lain. Lalu dia menitahkan memangil si nelayan, yang menyebabkan diselamatkannya pemuda itu beserta kotanya. Ketika si nelayan berdiri di hadapan raja, raja menganugerahkan kepadanya jubah kehormatan seraya bertanya, "Apakah engkau mempunyai anak?" 

Nelayan itu menjawab bahwa dia mempunyai seorang anak lelaki dan dua orang anak perempuan. Raja memerintahkan agar mereka dibawa menghadapnya, dan dia sendiri mengahwini salah seorang gadis itu, sedangkan gadis yang seorang lagi dikahwinkannya dengan si pemuda. Selain itu, sang raja mengam­bil putera si nelayan untuk bekerja padanya, menjadikannya salah seorang pengawalnya. Kemudian dia menyerahkan kekuasaan kepada wazirnya, menunjuknya sebagai raja kota di Kepulauan Hitam, memberinya perbekalan dan makanan untuk perjalanan itu dan memerintahkan kelima puluh orang Mamluk, yang menyer- tai mereka, dan juga sejumlah orang lainnya, untuk pergi ber- samanya. Dia juga mengirimkan banyak jubah kehormatan dan banyak hadiah lainnya untuk semua pangeran dan orang-orang terkemuka di sana. Sang raja, pemuda yang tersihir, dan nelayan itu hidup dengan penuh kedamaian sesudah itu. Si nelayan menjadi salah seorang terkaya di zamannya, dengan puteri-puterinya sebagai isteri para raja. 

Tetapi fajar menyingsing, dan Syahrazad menghentikan ceritanya. Lalu Dinarzad berkata, "Alangkah aneh dan me- nariknya kisah itu!" Syahrazad menyahut, "Ini belum ap^ apa jika dibandingkan dengan apa yang akan kuceritakan kepadamu esok malam, jika sang raja mengizinkanku dan membiarkan aku hidup!"

******************************

EPISOD 30 : SEORANG BUJANG BERSAMA WANITA 

Malam berikutnya Dinarzad berkata kepada kakaknya, Syahrazad, "Kak, jika engkau belum mengantuk, teruskanlah ceritamu yang indah dan aneh itu!" Syahrazad menyahut, "Dengan senang hati." 

Hamba mendengar, wahai Raja yang bahagia, dahulu kala hiduplah di kota Baghdad seorang bujang yang bekerja sebagai pengawal keselamatan. Suatu hari dia sedang berdiri di sebuah pasar, bersandar pada keranjangnya, ketika seorang wanita mendekatinya. Wanita itu memakai pakaian Mosul, sehelai kerudung sutera, sebuah sapu tangan indah yang disulam dengan emas, dan sepasang pembalut kaki yang diikat dengan renda-renda yang berkibar-kibar. 

Ketika wanita itu mengangkat kerudungnya, nampaklah sepasang mata yang sangat indah berwarna hitam yang dihiasi bulu mata yang panjang dan raut muka yang lembut, sebagaimana yang digambarkan oleh para penyair. Lalu dengan suara yang halus dan nada yang manis, wanita itu berkata kepadanya, "Pengawal, ambillah keranjangmu dan ikutilah aku." 

Hampir tidak mempercayai pendengarannya, pemuda itu mengambil keranjangnya dan bergegas mengikutinya, sambil mengatakan, "Wahai hari yang mujur, wahai hari yang indah." 

Wanita itu berjalan di depannya hingga dia berhenti di depan pintu sebuah rumah. Ketika ia mengetuk pintu itu, seorang Kristian tua turun, menerima satu dinar darinya dan memberi wanita itu sebuah kendi anggur berwarna hijau zaitun. Dia meletakkan kendi itu dalam keranjang dan berkata, "Pengawal, ambillah keranjangmu dan ikutilah aku." 

Pemuda itu berkata, "Baiklah, wahai hari yang menguntungkan, wahai hari yang mujur, wahai hari yang bahagia." 

Pemuda itu mengangkat keranjangnya dan mengikuti wanita itu hingga dia berhenti di tempat penjual buah-buahan di mana dia membeli epal kuning dan merah, beberapa jenis buah-buahan lainnya dan juga bunga berwarna-warni serta bunga delima. Dia meletakkan kesemua yang dibelinya dalam keranjang si pemuda dan menyuruhnya mengikutinya. 

Kemudian dia berhenti di tempat penjualan daging dan berkata, "Potongkan sepuluh ketul daging kambing yang masih segar." Dia membayarnya, dan si tukang daging segera memotongkan bahagian-bahagian yang dia kehendaki, membungkusnya, dan menyerahkannya pada wanita itu. Dia meletakkannya dalam keranjang, bersama dengan arang, seraya berkata, "Pengawal, ambillah keranjangmu dan ikutilah aku." 

Si pemuda, yang mulai tertanya-tanya mengenai semua barang-barang itu, meletakkan keranjang di atas kepalanya dan mengikuti wanita itu hingga mereka tiba di kedai penjual bahan makanan, di mana dia membeli berbagai rempah-rempah yang diperlukan seperti zaitun dari segala jenis, yang sudah dihilangkan bijinya, yang sudah diasinkan dan yang sudah dibuat acar, keju krim, keju Syria dan acar manis mahupun asam. Dia meletakkan semua itu dalam keranjang dan berkata, "Pengawal, ambillah keranjangmu dan ikutilah aku." 

Si pemuda membawa keranjangnya dan mengikutinya hingga mereka tiba di kedai bahan makanan kering, di mana dia membeli segala macam buah-buahan kering dan kacang-kacangan: kismis Aleppo, gula tebu Iraq, buncis panggang, buah kenari dan buah kemiri yang sudah dikupas. Dia meletakkan semuanya dalam keranjang pemuda itu seraya berkata, "Pengawal, ambil keranjangmu dan ikutilah aku." 

Si pemuda membawa keranjangnya dan berjalan di belakangnya hingga mereka tiba di sebuah halaman luas di hadapan sebuah rumah megah yang tinggi dan kukuh dengan pilar-pilar besar dan dua pintu yang bertatahkan gading dan emas yang berkilauan. Wanita itu berhenti di depan pintu dan mengetuk perlahan-lahan.... 

Tetapi fajar menyingsing, dan Syahrazad menghentikan ceritanya. Lalu adiknya berkata, "Kak, alangkah indah dan menariknya kisah itu!" Syahrazad menyahut, "Ini belum apa- apa jika dibandingkan dengan apa yang akan kuceritakan kepadamu esok malam, jika sang raja mengizinkanku dan membiarkan aku hidup."

***************************

EPISOD 31 : GADIS CANTIK BAGAIKAN BULAN

Malam berikutnya Dinarzad berkata kepada kakaknya, Syahrazad, "Kak, jika engkau belum mengantuk, teruskanlah ceritamu yang indah dan aneh itu!" Syahrazad menyahut, "Dengan senang hati." 

Hamba mendengar, wahai Raja yang bijaksana, ketika si pengawal berdiri dengan keranjangnya di depan pintu di belakang gadis itu, sambil mengagumi kecantikannya dan daya tariknya, tiba-tiba pintu terbuka. Si pemuda, yang menajamkan matanya untuk melihat siapa yang membuka pintu itu, melihat seorang gadis yang sedang mekar-mekarnya, yang tingginya sekitar lima kaki. Dia benar-benar menawan, cantik dan sempurna keanggunannya, dengan kening bagaikan bulan baru muncul, mata bagaikan mata kijang atau sapi muda liar, bulu mata bagaikan sabit di bulan Sya'ban, pipi bagaikan buah delima merah, bibir bagaikan batu permata merah, gigi bagaikan jajaran mutiara di dalam karang, leher bagaikan kuih untuk sang raja, dada bagaikan sebuah air mancur, payudara bagaikan buah delima besar yang menyerupai seekor kelinci dengan kuping terangkat. 

Gadis itu cukup jelita sebagaimana yang dilukiskan oleh seorang penyair:

Pada mentari tinggi dan bulan purnama nampak penampilanmu; 
Menikmati bunga-bunga dan keindahan lembayung. 
Matamu tak pernah nampak begitu putih di tengah warna hitam. 
Wajah yang begitu cemerlang dengan rambut hitam pekat, 
dengan pipi memerah, 
kecantikan mengabarkan namanya, 
pada mereka yang belum mendengar kemasyhurannya. 
Pinggul besarnya bergoyang sangat menyenangkan kulihat, 
Tetapi pinggangnya ramping dan manis 
mendatangkan air mata padaku. 

Ketika si pengawal melihatnya, dia kehilangan akal dan fikirannya, sehingga keranjang itu hampir terjatuh dari pega- ngannya sambil berseru, "Tak pernah dalam hidupku kusaksikan hari yang lebih mulia daripada hari ini!" 

Lalu gadis yang membuka pintu itu bertanya kepada gadis yang baru saja berbelanja, "Kak, apa yang engkau tunggu? Masuklah dan bebaskan orang yang malang itu dari bebannya yang berat." 

Si gadis dan pengawal itu masuk. Si penjaga pintu segera mengunci pintu dan mengikuti mereka hingga mereka tiba di sebuah ruangan yang luas, rapi, dan indah. Ruangan itu mempunyai bilik-bilik beratap melengkung dan ceruk-ceruk yang dihiasi dengan kayu berukir, sebuah ruangan yang digantungi gorden, dan lemari-lemari dinding serta lemari-lemari yang ditutupi tirai. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah kolam yang penuh air, dengan air mancur di atasnya, dan pada hujungnya ada sebuah dipan dari kayu ukiran, yang dihiasi dengan permata-permata dan mutiara, dengan kelambu seperti tirai dari sutera merah, yang diikat dengan mutiara sebesar buah kenari atau bahkan lebih besar lagi. Tirai itu terbuka, dan gadis kedua yang mempesona muncul, dengan penampilan yang ramah, air muka bijaksana dan wajah yang bersinar bagai bulan. Dia memiliki bentuk tubuh yang anggun, bau badan yang harum semerbak, bibir semanis gula, mata yang indah menawan, dengan bulu mata melengkung bagaikan sepasang busur yang ditekuk, dan seraut wajah yang kecemerlangannya bagaikan cahaya bulan purnama, sebab dia bagaikan sebuah bintang besar yang tinggi di langit, atau sebuah kubah emas, atau seorang mempelai wanita yang terbuka kerudungnya, atau seekor ikan indah yang berenang di bawah air mancur, atau sepotonp lemak yang lezat dalam semangkuk sup susu. Dia seperti ya£ dilukiskan oleh seorang penyair: 

Senyumnya menggambarkan dua jajaran mutiara 
Atau bunga aster putih atau hujan mutiara. 
Suaranya bagaikan malam yang membentang, 
Di depan cahayanya matahari seolah-olah nampak pucat. 

Gadis ketiga bangkit dari dipan dan melangkah dengan angkuh dan perlahan-lahan, dan dia terus berkumpul bersama saudara- saudaranya di tengah ruangan, sambil berkata, "Mengapa kalian hanya berdiri? Angkatlah beban orang yang malang ini." 

Si penjaga pintu berdiri di depan pemuda, manakala si gadis yang berbelanja tadi berdiri di belakangnya, dan dengan bantuan gadis ketiga, mereka mengangkat keranjang itu ke bawah dan mengosongkan isinya, meletakkan buah-buahan dan acar-acaran di satu sisi dan bunga-bunga serta rempah-rempah segar di sisi lain. Ketika semuanya telah dikemas rapi, mereka memberi kepada pemuda itu satu dinar sambil berkata.... 

Tetapi fajar menyingsing, dan Syahrazad menghentikan ceritanya. Lalu Dinarzad berkata kepada kakaknya, "Sungguh kisah yang aneh dan menarik!" Syahrazad menyahut, "Jika aku masih hidup esok mnlam, akan kuceritakan kepadamu sesuatu yang lebih aneh dan lebih menghairankan."

******************************

EPISOD 32 : PEMUDA YANG JADI PELAYAN GADIS-GADIS

Malam berikutnya Dinarzad berkata kepada kakaknya, Syahrazad, "Kak, jika engkau belum mengantuk, teruskanlah ceritamu yang indah dan aneh itu!" Syahrazad menyahut, "Dengan senang hati." 

Hamba mendengar, wahai sang Raja, ketika si pemuda melihat betapa menarik dan cantiknya gadis-gadis itu dan bagaimana mereka menyimpan anggur, daging, buah-buahan, kacang-kacangan, gula-gula, rempah-rempah segar, lilin, arang dan lain-lain untuk minum dan bermabuk-mabukan, tanpa melihat adanya seorang lelaki pun, dia merasa sangat hairan dan mulai ragu-ragu untuk pergi. Salah seorang gadis itu bertanya kepadanya, "Mengapa engkau tidak pergi? Apakah engkau menganggap bayarannya terlalu sedikit?" dan sambil berpaling kepada saudaranya, dia berkata, "Beri dia satu dinar lagi." 

Si pemuda menyahut, "Demi Tuhan, wahai gadis-gadis, bayaranmu sudah berlebih, sebab aku hanya patut menerima dua dirham saja, tetapi aku sedang tertanya-tanya dalam hati tentang keadaan anda dan tidak ada seorang pun yang menghibur anda. Sebab sebagaimana sebuah meja memerlukan empat kaki untuk berdiri, anda bertiga pun memerlukan orang keempat, sebab kesenangan lelaki itu tidak lengkap tanpa wanita, dan kesenangan wanita tidak lengkap tanpa lelaki. Sebagaimana seorang penyair berkata: 

Untuk kesenangan, 
empat hal kita perlukan: 
kecapi, Harpa, dan suling ganda, 
Dicampur dengan harum empat jenis bunga yang indah, 
Mawar, myrtle, anemon, dan gillyflower, 
Hanya dalam jumlah empat benda-benda itu menyatu, 
wang, dan anggur, dan pemuda, dan seorang kekasih. 

Anda cuma bertiga, oleh itu anda memerlukan orang keempat, seorang lelaki." 

Kata-kata si pemuda menyenangkan gadis-gadis itu, yang tertawa dan berkata, "Bagaimana kami dapat melakukan hal itu, sebagai gadis-gadis yang mengurusi urusan kami sendiri, kerana kami takut mempercayakan rahsia-rahsia kami, sebab rahsia-rahsia itu mungkin tidak akan dijaga. Kami telah membaca dalam beberapa buku tentang perkataan Ibn Al-Tammam: Ibn Al-Tamman, seorang penyair Arab dari abad kesembilan, dan penulis Hamasa. 

Rahsiamu sendiri jangan ungkapkan pada seorang pun;
la akan hilang jika diceritakan. 

Jika dadamu sendiri tak dapat menyembunyikannya,
bagaimana yang lain dapat menyimpannya ? " 

Ketika pemuda itu mendengar kata-kata mereka, dia menyahut, "Percayalah kepadaku; aku adalah orang yang berakal dan bijaksana. Telah kupelajari berbagai ilmu dan kuperolehi penge- tahuan; telah kubaca dan kupelajari, kutunjukkan pengetahuanku dan kusebutkan keahlianku. Kuungkapkan yang baik dan kututupi yang buruk, dan aku bersikap sopan. Diriku seperti yang dikatakan oleh sang penyair: 

Hanya orang beriman yang dapat menyimpan rahsia; 
Hanya orang terbaik yang dapat menjaganya. 
Kusimpan rahsia dalam rumah yang tertutup rapat 
Yang kuncinya telah hilang dan mangganya terpaku." 

Ketika gadis-gadis itu mendengar apa yang dikatakannya, mereka menyahut, "Engkau tahu bahwa meja ini mahal harganya bahawa kami telah membelajakan banyak wang untuk membeli semuamakanan ini. Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk membayar hiburan ini? Sebab kami tidak akan membiarkanmu tinggal kecuali jika kami mengetahui perananmu; kalau tidak, maka engkau hanya akan ikut minum dan bersenang-senang atas biaya kami." 

Wanita tuan rumah itu berkata lagi, "Tanpa modal, cinta itu tak ada harganya." 

Si penjaga pintu pula menambahkan, "Apakah engkau mempunyai sesuatu, tuanku yang baik? Jika engkau bertangan kosong, pergilah dengan tangan kosong pula" 

Tetapi si gadis yang berbelanja itu berkata, "Kak, berhentilah menggodanya, sebab demi Tuhan, dia melayaniku dengan baik hari ini; tak ada orang lain yang sesabar dia dalam menghadapiku. Berapa pun peranan yang harus diserahkannya, aku sendirilah yang akan membayar untuknya." 

Si pemuda sangat senang, mencium tanah di hadapan gadis itu dan berterima kasih padanya sambil mengatakan, "Demi Tuhan, engkaulah yang pertama-tama menggunakan tenagaku hari ini dan aku masih menyimpan dinar yang engkau berikan; ambillah kem- bali dan ambillah diriku, bukan sebagai kawan melainkan sebagai pelayan." 

Gadis itu menyahut, "Engkau kuterima dengan senang hati untuk bergabung bersama kami." 

Kemudian si gadis yang berbelanja tadi, sambil memper- siapkan dirinya, mulai mengatur berbagai kerja. Mula-mula dia mengemaskan tempat itu, menyaring anggur, menyusun botol- botol, dan menata mangkuk-mangkuk, gelas-gelas minuman, cangkir-cangkir, minuman anggur, piring-piring dan sudu-sudu makan serta berbagai peralatan yang terbuat dari perak dan emas. Setelah mempersiapkan semua yang diperlukan, dia mengemas meja di dekat kolam dan meletakkan segala macam makanan dan minuman di atasnya. Lalu dia menjemput mereka pada perjamuan itu dan duduk untuk melayani. Saudara-saudaranya berkumpul bersamanya, begitu pula si pemuda, yang menyangka bahawa dia sedang bermimpi. Gadis itu mengisi cangkir pertama dan meminumnya, mengisi cangkir kedua dan memberikannya salah seorang saudaranya, mengisi cangkir ketiga dan memberi­kannya pada saudaranya yang lain, dan mengisi cangkir keempat dan memberikannya pada si pemuda, yang memegangnya dengan tangannya dan, sambil memberi hormat dengan membungkuk, berterima kasih padanya dan mengumandangkan sajak berikut ini:

Janganlah kau minum cangkir itu,
kecuali dengan kawan yang kau percayai,
Yang darahnya mengalir dari nenek-moyang mulia.
Anggur, bagaikan angin,
terasa manis jika disertai yang manis,
Dan busuk jika disertai yang busuk

Lalu pemuda itu menghabiskan isi cangkirnya. Si penjaga pintu membalas penghormatannya dan mengumandangkan sajak berikut ini:

Selamat, dan minumlah dalam keadaan selamat;
Anggur ini baik untuk kesihatanmu.

Si pemuda berterima kasih padanya dan mencium tangannya. Setelah gadis-gadis itu minum lagi dan memberi si pemuda secangkir lagi, dia menatap pada kawannya, si gadis yang berbelanja, seraya berkata, "Tuan, pelayanmu datang kepadamu," dan membaca sajak berikut ini:

Salah seorang pelayanmu menungu di pintumu,
Dengan ucapan terima kasih atas limpahan kebaikanmu

Gadis itu menyahut, "Demi Tuhan, aku akan menciummu. Minumlah anggur itu dan nikmatilah dalam kesihatanmu, sebab ia menghilangkan rasa sakit, mempercepat penyembuhan, dan mengembalikan kesihatan." 

Si pemuda menghabiskan isi cangkirnya dan menuangkan secangkir lagi, mencium tangannya, memberikan anggur itu padanya, dan kemudian membacakan sajak berikut ini: 

Kuberikan anggur kuno murni, 
merah bagaikan pipinya, 
Yang dengan warna merah itu, 
api nampak seperti cahaya tungku. 
Dia mencium tepiannya dan dengan tersenyum dia bertanya, 
"Bagaimana engkau berani membayar hutangmu?" 

Aku berkata, "Minumlah! 
Anggur ini adalah darah dan air mata, 
Dan jiwaku adalah bau harum dalam cavgkir itu. " 
Dia berkata, "Jika untukku kau tumpahkan darahmu, 
Dengan senang had akan kuserap anggur Vtti*i

Si gadis mengambil cangkir itu, meminumnya hingga habis, lalu duduk di dekat saudaranya.... 

Tetapi fajar menvingsing, dan Syahrazad menghentikan ceritanya. Lalu Dinarzad berkata, "Alangkah aneh dan menariknya kisah itu!" Syahrazad menyahut, "Ini belum apa- apa jika dibandingkan dengan apa yang akan kuceritakan kepadamu esok malam!"

**************************************

EPISOD 33 : TIGA ORANG SUFI BERMATA SATU

Malam berikutnya Dinarzad berkata kepada kakaknva, Syahrazad, "Kak, jika engkau belum mengantuk, teruskanlah ceritamu yang indah dan aneh itu!" Syahrazad menyahut, "Dengan senang hati." 

Hamba mendengar, wahai sang Raja, ketika hari mulai gelap, ketiga gadis itu berkata kepada si pemuda, "Sudah waktunya engkau memakai kasutmu, dan meninggalkan kami." 

Si pemuda menyahut, "Ke mana aku akan pergi dari sini? Kepergian nyawa dari tubuhku rasanya lebih mudah bagiku daripada kepergianku dari sini. Marilah kita satukan malam dengan siang dan marilah kita mengambil jalan sendiri-sendiri hingga esok pagi." 

Gadis yang berbelanja berkata, "Demi Tuhan, saudara-saudaraku, dia benar. Demi Tuhan dan demi diriku, biarkan dia tinggal malam ini, sehingga kita dapat tertawa dan menghibur diri kita dengannya, sebab siapa lagi yang dapat menyerupai dia? Dia seorang pemuda yang pintar dan cerdas." 

Mereka berkata, "Engkau tidak boleh melewatkan malam bersama kami kecuali engkau bersetuju untuk mematuhi syarat kami, bahawa apa pun yang kami lakukan dan apa pun yang terjadi pada kami, engkau tidak boleh meminta penjelasan sama sekali, sebab jangan membicarakan apa yang tidak berkaitan dengan dirimu; jika tidak, maka engkau akan mendengar sesuatu yang tidak akan menyenangkan hatimu. Inilah syarat kami: jangan terlalu ingin tahu tentang setiap tindakan kami." 

Si pemuda menyahut, "Ya, ya, ya, aku bisu dan buta." 

Ketiga gadis itu berkata, "Kalau begitu pergilah engkau ke pintu masuk, dan bacalah apa yang tertulis di pintu dan di jalan masuk" 

Si pemuda pergi ke pintu, dan menemukan pada pintu dan jalan masuk tulisan yang terbuat dari huruf-huruf emas: "Barangsiapa membicarakan apa yang tidak berkaitan dengan dirinya, akan mendengar apa yang tidak menyenangkan hatinya." 

Si pemuda kembali dan berkata, "Aku bersumpah pada kalian bahwa aku tidak akan membicarakan apa pun yang tidak berkaitan dengan diriku." 

Lalu gadis yang berbelanja pergi dan mempersiapkan makan malam, dan setelah tersedia makanan untuk mereka, mereka menyalakan lampu-lampu, dan sambil memacakkan kayu gaharu dan ambergris pada lilin, mereka menyalakan lilin-lilin itu. Kemenyan pun terbakar, asapnya membumbung dan memenuhi ruangan itu. Lalu mereka mengganti piring-piring, mengemaskan meja dengan menghidangkan anggur dan buah-buahan segar, dan duduk untuk minum. Mereka duduk cukup lama, makan, minum, terlibat dalam pembicaraan yang sopan, bersenda gurau dan tertawa-tawa, ketika tiba-tiba mereka mendengar ketukan di pintu. Dengan tidak begitu memperdulikan ketukan pintu itu, salah seorang gadis itu bangkit, pergi ke pintu, dan kembali sesaat kemudian sambil berkata, "Saudara-saudaraku, jika kalian mahu kalian akan melewatkan malam yang menyenangkan, malam yang patut dikenang." 

Mereka bertanya, "Bagaimana boleh demikian?" 

Dia menyahut, "Pada saat ini tiga orang sufi (Pengikut tarikat yang menjalani kehidupan miskin sebagai jalan untuk mencapai kesempurnaan jiwa) bermata satu sedang berdiri di pintu, masing-masing dengan kepala botak, janggut Iicin dan bulu tercukur, dan masing-masing mata kanannya buta. Mereka baru saja tiba dari Baghdad dari perjalanan musafir mereka, seperti yang dapat kita lihat dari keadaan mereka, dan inilah pertama kali mereka datang ke kota kita. Mereka nampaknya kemalaman dan, sebagai orang asing yang tidak mempunyai seorang pun kawan atau saudara untuk didatangi dan kerana mereka nampaknya tidak dapat mencari tempat untuk bermalam mereka mengetuk pintu kita dan berharap bahawa kita akan mengizinkan mereka untuk bermalam di sini. Saudaraku, masing-masing dari mereka merupakan pemandangan yang aneh, dengan wajah yang akan dapat membuat orang yang sedang berkabung tertawa. Apakah kalian setuju membiarkan mereka masuk untuk kali ini saja, sehingga kita dapat menghibur diri dengan mereka malam ini dan membiarkan mereka pergi esok pagi?" 

Gadis itu terus merayu saudara-saudaranya hingga mereka menyetujuinya, sambil berkata, "Biarkan mereka masuk, tetapi kemukakan syarat bahawa mereka tidak boleh membicarakan apa yang tidak berkaitan dengan diri mereka; jika tidak, maka mereka akan mendengarkan apa yang tidak menyenangkan hati mereka." 

Merasa gembira, gadis itu menghilang sebentar dan kembali, diikuti oleh tiga orang sufi bermata satu, yang berjalan membungkuk, dan berdiri tegak lagi. Gadis-gadis itu bangkit menyalami mereka, mengucapkan selamat datang, mengungkapkan kegembiraan atas kedatangan mereka, dan menyalami mereka atas keselamatan mereka tiba di tempat itu. Ketiga sufi itu berterima kasih kepada mereka dan sekali lagi menghormati mereka dengan membungkukkan badan. 

Ketika para sufi itu melihat ruangan yang indah, meja yang dikemas rapi penuh dengan anggur, kacang-kacangan dan buah-buahan kering, lilin yang menyala, kemenyan yang mengepul, dan menyaksikan ketiga gadis itu, yang bersikap sangat sopan, mereka berseru dengan serentak, "Demi Tuhan, ini menyenangkan sekali." 

Ketika mereka berpaling dan memandang si pemuda, mereka berkata, "Entah orang Arab entah orang asing, dia juga sufi saudara kita."

Si pemuda berdiri tegak dan, dengan mengarahkan pandangannya kepada mereka, berkata, "Duduklah di sini tanpa ikut campur. Bukankah kalian telah membaca tulisan di pintu, yang dengan sangat jelas menyebutkan jangan membicarakan apa yang tidak berkaitan dengan kalian; jika tidak, maka kalian akan mendengar apa yang tidak akan menyenangkan hati kalian. Tetapi baru saja kalian masuk, kalian sudah berbicara tentang kami." Mereka menyahut, "Wahai sang faqir, kami memohon ampunan Tuhan. Kepala kami ada di tangan kami." 

Gadis-gadis itu tertawa dan mendamaikan para sufi tersebut dengan si pemuda. Lalu gadis yang berbelanja menawarkan para sufi itu makanan, dan setelah mereka makan, mereka semua duduk untuk minum, dengan si penjaga pintu mengisi cangkir-cangkir satu persatu. 

Lalu si pemuda bertanya, "Wahai sahabat, dapatkah kalian menghibur kami dengan sesuatu....?" 

Tetapi fajar menyingsing, dan Syahrazad menghentikan ceritanya. Lalu Dinarzad berkata "Kak, alangkah indah dan menariknya kisah itu!" Syahrazad menyahut, "Ini belum apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang akan kuceritakan kepadamu esok malam, jika aku masih hidup!"

Kembali ke Episod 1 & 2 di sini

Dipetik dari buku
Himpunan Kisah-Kisah Aneh dan Lucu

Saturday, November 30, 2019

LAWATAN KERJA TN CEO KE LADANG FELCRA KERDAU, PAHANG...

Lawatan Tn CEO ke FELCRA Berhad Kawasan Kerdau dibuat pada hari Ahad 24 November 2019 jam 10 pagi. Tujuan lawatan adalah bagi mengetahui tatacara Lawatan Khidmat Nasihat Ladang (KNL) dibuat dan apakah ciri-ciri yang digunapakai bagi menentukan sesebuah ladang itu berada ditahap yang memuaskan atau sebaliknya.

Ketibaan Tn. CEO dan para pegawainya yang terdiri dari Pengarah Bahagian Perladangan P&P, Dato' Hj Abdul Mutalib Tais, Pengarah Khidmat Nasihat Ladang dan Perkilangan, Tn. Hj Idris Lasim, Pengurus Besar Penghasilan Ladang, Tn. Hj Ismail Husain dan Pengurus Besar Perancang Projek, Tn. Hj Mohd Zailani Yusof telah disambut oleh Pengurus Besar Wilayah Pahang, Tn. Hj. Zulkhairi Abd Rahim, Pengurus Kawasan Kerdau, En. Rohimi  Nik Mat dan Pengurus-Pengurus Kawasan Wilayah Pahang Zon Utara sahaja.    

Tn CEO dan pegawai pelawat seterusnya dibawa ke Bilik Gerakan untuk diberikan satu taklimat ringkas tentang urusan pentadbiran dan pengurusan ladang kawasan oleh Pengurus Kawasan En. Rohimi Nik Mat. Antara perkara yang disentuh adalah masalah kekurangan tenaga kerja ladang, perumahan staf dan beberapa isu lain yang berbangkit.  

Biodata FELCRA Berhad Kawasan Kerdau...

1. Ladang Pembangunan

Kawasan Kerdau mempunyai 7 buah ladang pembangunan tanaman kelapa sawit dengan keluasan bertanam 1,5017.59 hektar dari luas keseluruhan ladang 1,591.47 hektar. 7 buah ladang tersebut ada yang dimajukan pada tahun 2014, 2015 dan 2016 dan mula ditanam pada 2015 dan 2016. Jumlah lot adalah 888 dan jumlah peserta seramai 1,161 orang.    

2. Ladang Berhasil

Di samping ladang pembangunan, Kawasan juga mempunyai 5 buah ladang kelapa sawit yang telah berhasil seluas 692.65 hektar dari luas keseluruhan ladang 2,363.34 hektar yang dimajukan antara tahun 2000, 2008 dan 2014. Jumlah lot 279 dan jumlah peserta seramai 1,625 orang. 

Tn. CEO, Mohd Nazrul Izam Mansor 
sedang mendengar taklimat yang disampaikan oleh
Pengurus Kawasan En. Rohimi Nik Mat (baju putih)...

Tn CEO memberikan perhatian penuh 
terhadap taklimat...

Turut kelihatan adalah 
Pengarah Bahagian Perladangan P&P, 
Dato' Hj. Abdul Mutalib Tais (kiri) dan 
Pengurus Perladangan Wilayah Pahang, 
Tn. Hj. Mustafa Sulaiman... 

Staf kawasan yang komited...



Tn CEO sedang memberikan penjelasan
 terhadap beberapa isu berbangkit...

Pegawai-pegawai dari HQ...
Dari kiri:
Pengurus Besar Bhg Perancangan Projek, Tn. Hj Mohd Zailani Yusof, 
Pengurus Kanan Pejabat COO, Pn Syukriah Abd Mubin dan 
Pengurus Besar Penghasilan Ladang, Tn. Hj. Ismail Husain...

Tn. Hj. Zulkhairi Abd Rahim (kiri),
Pengurus Besar Wilayah Pahang
turut memberikan penjelasan pada setiap perkara
yang memerlukan penjelasan lanjut dari Tn CEO
sambil diperhatikan oleh Pengarah Khidmat Nasihat Ladang
dan Perkilangan Tn Hj Idris Lasim...




En. Mustapha Abdullah (kiri) dan
En. Lutfi, Pegawai Khas Pejabat CEO turut hadir...

Tn PBW Pahang (kiri) & Pegawai KNL (Kanan sekali)
bergambar bersama PK Kawasan...

Selesai taklimat, kesempatan diambil oleh staf kawasan
untuk bergambar kenangan bersama Tn CEO...

Lawatan Ke Ladang...

Sesi seterusnya, Tn CEO dibawa ke ladang Kerdau 1 (ladang pembangunan) untuk diberi penerangan tentang tatacara penilaian Khidmat Nasihat Ladang dibuat.

Bermula tahun 2019, satu bahagian baru telah ditubuhkan iaitu Bahagian Khidmat Nasihat Ladang dan Perkilangan yang diketuai oleh seorang Pengarah. 

Tujuan Bahagian ini ditubuhkan adalah untuk memberi tumpuan kepada 4 komponen utama iaitu:
  • Khidmat Nasihat Ladang (KNL)
  • Unit Pematuhan Quality Assurance
  • Khidmat Nasihat Agronomi (KNA)
  • Khidmat Nasihat Kilang (KNK)
Setiap lawatan ke ladang perkara utama yang diberi perhatian oleh pegawai KNL adalah:
  • Crop Condition
  • Field Condition
  • Cost


Tn CEO sedang meninjau ladang Kerdau 1,
projek 'Immature'...

Berdasarkan kepada skop yang ada, ladang-ladang akan digred berdasarkan kepada 4 kategori iaitu:
  • Terbaik (Hijau) 
  • Terkawal (Biru)
  • Sederhana (Kuning)
  • Kritikal (Merah)
Penilaian ini juga akan menjadi KPI kepada Pengurus Kawasan dan Penolong Eksekutif Ladang untuk tujuan kenaikan pangkat dan penilaian ini juga adalah kearah untuk menjadikan ladang FELCRA Berhad setanding dengan Estet Komersial.  

Penerangan penilaian oleh Pengarah KNL...

Pengarah KNL & Kilang dan Pengurus Kawasan
menerangkan setiap persoalan yang
dikemukakan oleh Tn CEO..


Pengarah Bahagian Perladangan P&P
dan PBW Pahang turut memberi penerangan...

Penilaian KNL di projek 'Immature' Kerdau 1...

Pengarah KNL & Kilang, Tn. Hj Idris Lasim
memberikan penerangan lebih terperinci kepada Tn CEO...




Tn CEO turut memberikan pendapat
terhadap keadaan ladang berdasarkan
 pemerhatian dan pengetahuannya...

Tn CEO berminat dan cuba mendalami
penilaian terhadap projek kritikal...

  Salam hormat dari kami
yang mengikuti lawatan ini...

Adalah diharapkan dengan lawatan sebegini yang dibuat oleh Tn CEO terhadap semua ladang, ianya akan memberi suntikan semangat kepada Pengurusan Kawasan untuk meningkatkan lagi kualiti ladang dengan mematuhi peraturan MSPO supaya ianya akan menjadi contoh kepada plantation house di Negara kita.