Jika seumpama seluruh air lautan dan sungai di siramkan ke atas kepala Malaikat Izrail, maka tidak setitis pun yang jatuh kebumi. Ia di beri kemampuan yang luar biasa oleh Allah, sehingga arah barat dan timur boleh terjangkau oleh kedua tangannya sebagaimana keadaan seseorang yang menghadapi sebuah meja makan yang penuh dengan berbagai macam makanan yang siap untuk di makan.
Di sebutkan, ketika Allah Ta’ala menciptakan Al Maut dan menyerahkannya kepada Izrail, berkatalah Izrail : “Wahai Tuhanku, apakah Al Maut itu? Lalu Allah menyingkap rahsia Al Maut dan memerintahkan agar seluruh malaikat itu menyaksikannya. Maka setelah seluruh malaikat menyaksikan Al Maut itu, tersungkurlah semuanya dalam keadaan pengsan selama seribu tahun.
Kemudian Allah berfirman : Hai Izrail, ambillah Al Maut itu dan Aku telah menyerahkannya kepadamu. Maka Izrail berkata : Ya Tuhanku, apa dayaku untuk mengambilnya sedangkan ia lebih agung dariku. Kemudian Allah memberikan kekuatan kepada Izrail sehingga Al Maut menetap di tangannya.
Di sebutkan juga bahawa, Malaikat Mikail turun dengan membawa lembaran kepada Malaikat Izrail dari sisi Allah. Dalam lembaran itu tertulis nama orang yang di perintah untuk di cabut nyawanya, tempat pencabutannya, dan sebab-sebab ia mencabutnya.
Ka’bil Akhbar menerangkan bahawasanya Allah Ta’ala menciptakan sebuah pohon di bawah Arasy. Pohon itu mempunyai daun sebanyak bilangan makhluk. Maka ketika ajalnya seseorang itu telah tiba dan umurnya tinggal 40 hari, maka gugurlah daunnya dan jatuh di tempat Izrail, maka tahulah ia bahawasanya ia di perintahkan untuk mencabut nyawa seseorang yang berhak atas daun itu.
Dan setelah itu para malaikat menyebutnya ‘mayit hidup’ kerana ia masih mengalami kehidupan dunia selama 4o hari lagi.
Ertinya : Katakanlah (Muhammad) : Sekiranya kamu berada di dalam rumah, nescaya orang-orang yang di takdirkan akan mati terbunuh di medan pertempuran itu keluar juga ke tempat mereka menghadapi kematian.Dalam hal ini, ada sebuah cerita. Bahawasanya Malaikat Maut menampakkan diri pada zaman Nabi Sulaiman as. Tiba-tiba ia memandang pada seorang pemuda yang berada di sisi Nabi Sulaiman as. Ketika pemuda itu menyedari, maka timbul lah rasa gementar di hati pemuda itu. Setelah Malaikat Maut itu pergi (menghilang), timbullah keinginannya untuk pergi ke Negeri China.
Maka berkatalah pemuda itu kepada Nabi Sulaiman : “Wahai Sulaiman, aku mohon tuan menyuruh angin membawaku ke Negeri China. Maka Nabi Sulaiman pun memerintahkan angin untuk membawa pemuda itu ke Negeri China. Malaikat Maut pun datang lagi kepada Nabi Sulaiman dan Nabi Sulaiman pun bertanya apa sebabnya ia memandang kepada pemuda itu.
Maka jawab Malaikat Maut : Sesungguhnya aku di perintahkan mencabut nyawa pemuda itu pada hari itu di Negeri China, padahal aku melihat nya berada bersama tuan. Maka Nabi Sulaiman menceritakan tentang permintaan pemuda itu. Maka Malaikat Maut pun berkata : “Aku telah mencabut nyawanya pada hari itu di Negeri China.
Maka di bawanya pemuda itu ketempat malaikat penjaga matahari, setelah tiba di sana, pemuda itu di suruh menempati tempat duduknya.
Kemudian malaikat penjaga matahari pergi ke tempat maut dan menceritakan tentang peristiwa yang dialami dan tentang keperluan pemuda itu. Setelah Malaikat Maut membuka dan meneliti nama pemuda itu, lalu Malaikat Maut berkata : “Waktunya masih jauh dan saudaramu itu memiliki kesopanan yang agung. Dan ia tidak akan meninggal sampai ia menduduki kursimu.
Malaikat matahari berkata : Ia sekarang telah duduk di kursiku. Maka Malaikat Maut menjawab: “Ia akan mati di sisi Rasul kita dan yang demikian itu mereka tidak mengetahuinya.
Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad s.a.w. bersabda : “Para binatang itu ajalnya berada di zikirnya, maka jika mereka meningalkan zikirnya maka Allah mencabut nyawanya. Dan telah di sebutkan pula bahawa Allah itu Maha berkuasa mencabut segala nyawa tetapi di sandarkan pencabutan itu kepada Malaikat Maut sebagaimana di sandarkan kematian seseorang itu dengan sebab terbunuh atau sakit.
Firman Allah Ta’ala :
Ertinya : Allah itu mencabut jiwa orang pada saat kematiannya dan membungkam jiwa orang yang belum mati pada waktu tidurnya. (Az-Zumar : 42) .


